MENGGESER FOKUS

Istilah menggeser fokus saya baca di salah satu postingan motivator ternama Ary Ginanjar Agustian . Saya cukup antusias saat menyimak kalimat kalimat singkat yang bagi saya bisa menjadi pemantik semangat hidup.

Ya, selama ini saya lebih familier dengan istilah mengubah fokus. Dari negatif ke positif, dari buruk ke baik, dari tidak penting ke penting. Pokoknya mengubah atau mengganti. Namun jujur bukan hal yang mudah bagi saya untuk mempraktekan esensi mengubah fokus ini. Khususnya saat saya tiba tiba down harus mengubah menjadi tiba tiba up. Atau saat saya drop dengan rasa sedih harus mengubah dengan euforia bahagia. Perlu kerja keras untuk mengubah dan kadang saya dilanda frustasi saya saat ingin berlatih untuk itu.

Namun kini saya merasa tercerahkan dengan istilah kata menggeser fokus tadi. Rasanya lebih mudah diterima di benak saya. Membayangkan upaya menggeser lebih mudah daripada upaya mengubah, saya pun terpancing untuk mencoba praktek ini. Saya menghipnoterapi diri bahwa menggeser itu bisa dilakukan dengan perlahan sambil dinikmati, layaknya menggeser tombol volume besar kecil suara musik sesuai yang diinginkan saat menghayati indahnya sebuah lagu favorit.

Jika tidak mampu mengubah, maka menggeser saja. Ya, cukup masuk akal dan lebih rileks untuk diterima pikiran. Sebelumnya saya beranggapan bahwa mengubah itu lebih baik, walau sulit tapi harus berusaha. Mengubah identik dengan mengganti. Ganti sedihmu dengan bahagia. Ganti sakitmu dengan sembuh. Ganti malasmu dengan semangat. But how? Bagaimana caranya? Tidak mudah membuang sedih begitu saja, membuang sakit begitu saja, membuang malas begitu saja yang harus diganti dengan kata kata positif bulshitt itu.

Baiklah, jika sulit mengubah maka coba menggeser saja. Istilah menggeser jadi mengingatkan saya saat saya ikut sesi konseling dan dilatih konselor/mentor saya untuk menerapkan berbagai latihan dengan PELAN PELAN SAJA. Kata pelan pelan diucap berulang ulang untuk meyakinkan diri bahwa semua hal bisa dibuat mudah, bahwa untuk berubah tidak harus dipaksa tetapi sesuai ritme kemampuan diri. Apalagi sangat “rumaos” atau merasa usia diri ini sudah memasuki zona emak emak di atas rata rata, heheā€¦bukan remaja lagi yang sedang ON ON nya. Emak emak yang sudah membayangkan yang mudah mudah saja.

Jadi, apapun fokus saat ini yang ada dihadapan, jika itu hal hal tidak baik yang merugikan, misalnya sedang sedih, yuk turunkan dosis sedih itu geser sedikit sedikit pelan pelan yang jelas bertujuan akhir mengubah fokus ke bahagia yang menguntungkan jiwa. Silahkan aplikasikan untuk contoh lain.

Bisa saja contohnya sedang masa pandemi ini. Cek en ricek kembali fokusnya sedang kemana. Apakah sedang cemas? Sedang kepo berita atau postingan-postingannya yang menakutkan? Atau apapun hanya diri sendiri yang tahu. Termasuk menggeser fokus gagal hadapi pandemi ke berhasil hadapi pandemi.

Menggeser fokus, memainkan irama kebahagiaan hidup. Hidup yang hanya satu kali untuk hidup yang berarti.

‘nNa180721

NubarNulisBareng/Lina Herlina