Mengenalmu di Penghujung Waktu

Apa yang membuat Anda bahagia hari ini? Tentunya. Jawaban setiap orang akan berbeda. Bagi saya, sebuah perjalanan bermakna, tepatnya jelajah desa merupakan suatu keseruan yang sangat saya nikmati. Luar biasa anugrah Allah SWT akan indahnya alam ciptaanNya.

Ini bukan tentang objek wisata dengan kuliner lengkapnya, atau tentang tamasya di alam terbuka dengan segala fasilitasnya. Ini tentang mereka, yang inggal di bukit terisolir, yang jauh dari pemukiman, tidak punya aliran listrik dan tidak punya akses kendaraan umum, apalagi internet.

Merebaknya Pandemik Covid-19 belakangan ini mengharuskan semua masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Demikian halnya dengan siswa dan guru. Belajar dan pembelajaran yang seyogianya dilakukan di lingkungan sekolah harus diberhentikan dan dialihkan dengan belajar dan mengajar dari rumah.

Bagi guru, ini merupakan sebuah tantangan besar. Bagaimana tidak? Kurikulum yang telah ditetapkan harus tercapai. Hanya saja pola pembelajaran yang dilakukan berbeda. Alih-alih menggunakan pembelajaran daring, guru-guru ini juga banyak yang belum melek teknologi. Suatu tantangan tersendiri di era digital ini.

Ternyata tantangan ini telah digaungkan jauh ratusan tahun yang lalu oleh salah satu khulafaur rasyidiin, Ali Bin Abi Thalib, yang mengatakan, “Didiklah anak sesuai zamannya, karena mereka tidak hidup di zamanmu!”

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak terjangkau oleh fasilitas internet? Jangankan untuk memiliki akun telepon, media sosial atau komunikasi digital, penerangan dari saluran Listrik Negara pun mereka belum cicipi. Belum merdeka.

Ini nyata. Beberapa desa yang tertinggal yang tepatnya berada di perbatasan provinsi Sumatera Utara dan Aceh masih tergolong tertinggal. Bukan tidak mustahil demikian halnya di daerah lain.

Langkah terakhir yang dilakukan pendidik adalah mengunjungi tempat tinggal siswa. Melihat kehidupan di pedesaan yang sangat terbatas, jumlah anak/tanggungan yang banyak yang hanya menggantungkan hidup dari hasil huma yang dikelola.

Namun semangat dan niat belajar anak-anak desa ini begitu hebat. Dengan bangganya mereka menceritakan bahwa mereka harus berangkat di subuh buta, demi mengejar waktu pukul 6.00 WIB sampai di perbatasan desa. Dari sana baru bisa menumpang dengan sepeda motor atau kendaraan roda empat dari kecamatan lain yang kebetulan melintas untuk ditumpangi menuju sekolah. Sebuah perjuangan yang selama tiga tahun ini telah menjadi kebiasaan pagi mereka.

Sebuah kenyataan, sebuah hikmah yang kudapat di tengah Pandemik Covid-19 ini. Menyelami lebih dalam akan makna tugas pendidik yang sebenarnya dan mengenal kalian lebih dekat.

Selamat berjuang, Nak. Raihlah mimpimu. Walau saat ini adalah jejak terakhirmu di jenjang pendidikan menengah ini. Sebuah pesan yang sarat makna.

NubarulisBareng/MaySilla