Mengawali Puasa di Tengah Pandemi

Mengawali Puasa di Tengah Pandemi

Puasa Ramadan kali ini suasananya berbeda. Allah memberi ujian virus Corona kepada umat manusia. Hingga bulan Ramadan datang, Allah belum angkat pandemi ini.

Keresahan melanda, kelaparan di mana-mana, pekerjaan menjadi berat bagi sebagian besar orang. Kecuali sebagian kecil yang Allah beri kelonggaran rezeki.

Allah mendidik muslimin dengan puasa. Di tengah wabah ini, puasa ibarat oase. Menahan lapar lebih berpahala. Jiwa sosial umat muslim juga diuji. Saling menengok keadaan tetangga dan saudara yang kesulitan makan. Allah ingin membersihkan jiwa manusia dengan puasa di bulan Ramadan ini.

Bagaimana kami mengawali Ramadan? Tinggal di desa yang jauh dari wabah, patut disyukuri. Alhamdulillah segala puji bagi Allah. Anak-anak yang berkumpul di rumah, harus sabar tidak pergi ke luar rumah. Kecuali salat di Musala atau Masjid.

Ada satu tradisi di desa, mengirimi makanan untuk sesepuh dalam keluarga sebelum puasa. Pandemi ini berefek pada sedikitnya orang menjalani kebiasaan itu. Ekonomi memang sedang carut-marut. Tulang punggung yang bekerja di luar kota tidak bisa mengirimi uang secara penuh, bahkan ada yang harus diberhentikan dari tempat kerja.

Kalaupun tradisi mengirimi orang tua tersendat, setidaknya silaturrahmi dan doa terus terjaga.

Alhamdulillah keluarga kami masih berbagi kepada orang tua. Ada ayam yang dipelihara di belakang rumah. Kami potong yang paling besar, memasaknya dan memberikannya.

Awal puasa, kami potong lagi seekor ayam untuk sahur dan buka hingga hari kedua. Segala puji bagi Allah, Rab semesta alam.

#Citraamatullah

#AwalPuasaRamadhan