Mengapa Kita Tidak Boleh Suuzan?

Mengapa Kita Tidak Boleh Suuzan?

[Mas Tyo, aku pesen sayur buat besok pagi. Bisa, ya?] tanyaku kepada anak tukang sayur yang biasa berjualan di perumahan.

Tukang sayur di perumahanku menyediakan jasa DO (Delivery Order), alias jasa pengantaran. Jadi, jika kita tidak sempat membeli sayur ke depan gerbang—tempat dia berjualan—karena alasan apa pun, kita tetap bisa berbelanja hanya dengan mengirimkan daftar belanja.

Pak De—panggilan si tukang sayur—tidak hanya melayani area perumahanku, tetapi juga dua area perumahan di sebelahnya. Oleh karena makin membludaknya permintaan DO terkait ‘jaga jarak’ selama Covid-19, maka penerimaan pesanan dibagi menjadi dua: are perumahanku pada Mas Tyo, sementara perumahan lain pada Bu De (istri Pak De sayur).

Agak lama pesan whatsapp itu tidak dibalas, hingga akhirnya sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselku.

[Maaf Teh, saya enggak lagi di Karawang,] jawabnya.

Aku menutup pesan dengan mengucapkan terima kasih. Kemudian, aku mencoba menghubungi Bu De sayur.

[Bu De, aku mau pesan sayur buat besok pagi. Bisa?] Pesan terkirim.

Tak lama si penerima pesan menjawab, [Maaf Bunda, pesannya ke Mas Tyo saja. Untuk perumahan Bunda, Mas Tyo yang pegang.]

[Tapi kata Mas Tyo dia lagi ga di sini.]

[Udah balik, kok, Bun. Semalam datengnya.]

Ada rasa kesal dan seolah sedang dipermainkan. Aku mengcapture percakapan WA dengan Mas Tyo, lalu mengirimkannya ke Bu De.
[Ini katanya Mas Tyo, Bu De. Ya sudah, aku ga jadi pesan. Terima kasih.] Aplikasi Whatsapp kututup dengan penuh emosi.

Kalau enggak mau melayani, ya bilang saja. Kenapa harus ‘main lempar-lemparan’, batin bergejolak dipenuhi sangkaan yang buruk. Kalau bukan karena sedang ada halangan juga aku ga akan pesan. Emosiku kian memuncak.

Keesokan paginya, aku diantar suami menyambangi pangkalan sayur Pak De. Suasana masih belum ramai, baru satu-dua pembeli yang datang.

Aku langsung membeli aneka sayur sesuai dengan catatan yang dibawa. Tiba-tiba Bu De sayur menghampiri, memeluk, dan menggenggam tanganku seraya berkata, “Bunda maafkan ya, kemarin memang Bu De enggak bisa siapin belanjaannya. Mas Tyo juga ternyata enggak bisa karena harus balik lagi pergi ke kampung, padahal dia baru sampai. Nenek dari Almarhumah ibu Mas Tyo meninggal. Ini Pak De juga ikut ke ke sana.”

Aduh, rasanya seakan hatiku yang kotor dan penuh sangkaan buruk itu tertampar keras. Ya Allah, betapa berdosanya aku, terlebih karena sudah mengumbar fitnah ke tetangga dengan mengatakan yang tidak-tidak tentang mereka.

Sungguh buruk sangka itu merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Ia menggerogoti kebaikan dan membawa pada keburukan lainnya.

“Ya, Bu De,” jawabku dengan perasaan malu, “enggak papa.”

Rupanya, selama ini aku terlalu sibuk dengan pikiran jelek. Cukup kali ini buruk sangka menggoda hati, tekadku.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

(QS. Al-Hujurat : 12).

Nubar-Nulis Bareng/ Asri Susila Ningrum

Sumber gambar: pixabay