Menemukanmu

Membuka jendela kamarku pagi ini, semerbak wangi melati menyapa hidungku. Hmmm…,manis. Cahaya mentari pagi juga memanjakan mata, masih redup dan jatuh cantik disela-sela batang bambu kuning yang tumbuh rimbun di pojok halaman rumah. Sisa-sisa embun masih bisa kulihat, berkilauan dipucuk-pucuk bunga dahlia yang berwarna merah. Pagi yang memesona.

Enggan beranjak sebenarnya, dari sisi jendela yang menyuguhkan pemandangan indah. Namun panggilan yang kudengar memaksaku bergerak.

Tok…tok…tok… begitu ketukan di pintu kamarku, dan seakan belum cukup, “Aiiiiikkkk…Aiiiiikkk.” suara khas kakakku tersayang melengkapinya.

Niatku untuk berleha-leha pupus sudah. Ketukan itu tak akan berhenti sampai pintu kamar kubuka. Persisten, begitulah gambaran untuk kakakku satu-satunya.

“Ada apa…?” tanyaku sambil membuka pintu.

“Hari ini antarkan Kakak dan Najma ke Paud Harapan Bunda, Jadwal Najma untuk wawancara penerimaan siswa. Berangkat jam 7 ya. Mandilah dulu.”

“Paudnya dimana?.” Aku hanya bisa pasrah. Tak mungkin menolak permintaan kakakku, yang menjadi single parent untuk Najma. Sudah tiga tahun Bang Rasyid meninggalkannya, eiitsss… bukan selingkuh ya, namun umurnya pendek karena banyak merokok.

“Searah dengan kantor kok, jalan Diponegoro. Nanti Najma kakak tinggal dulu bersamamu, Kakak ke kantor sebentar, minta izin, lalu balik ke Paud. Gihh mandi, cepetan ya.” Sepertinya rencananya dah disusun matang, dan aku tinggal mengikuti saja.

fek menjadi pengangguran menjadikanku malas melakukan apapun. Pagi setelah bangun dan sholat subuh, biasanya aku berleha-leha di kamar. Browsing, baca ini itu dan sesekali menulis hal-hal yang ada dalam pikiran. Lulus sebagai sarjana pendidikan tidak serta merta aku menjadi guru. Mungkin karena kebutuhan untuk guru bahasa Indonesia tidak banyak, jadilah berbagai lamaran yang kuajukan belum ada yang meresponnya.

“Melewati pertigaan di depan, bangunan kedua, disitu Paudnya. Halamannya luas.” Suara Kakakku mengembalikan pikiranku yang terbang kemana-mana.

“Baiklah.” Sahutku sembari mengarahkan mobil menuju bangunan yang bisa langsung ditebak sebagai Taman Kanak-Kanak. Banyak mainan dengan berbagai tema di sana. Pun anak-anak yang sibuk berlarian dan berlompatan.

Aku parkir di pinggir jalan, di depan bangunan tersebut. Beberapa mobil juga sudah parkir disepanjang jalan itu, sepertinya mobil orang tua yang menemani wawancara anaknya. Kami turun. Najma memegang tanganku dan bergerak mendekati sekolah. Kakakku mengambil alih kendaraan dan meluncur menuju kantor. Disinilah aku menemani Najma, sampai jadwal wawancaranya.

Untuk kesekian kalinya aku menelpon Kakak, tersambung, tapi tidak diangkat. Sebentar lagi giliran Najma untuk diwawancara. Dari daftar hadir, Najma nomor 6, dan sudah empat orang yang dipanggil masuk. Aku menelpon Ibu untuk meminta jalan keluar, berharap Ibu bisa kesini menemani. Tapi tak berhasil, sebab pagi ini adalah jadwal Ibu pengajian di masjid , Majlis Ta’lim , kajian ilmu yang Ibu ikuti rutian dua minggu sekali.

“Kharisma Najma Rasyid.” Suara itu terdengar ditelingaku. Pasti juga di telinganya Najma, karena ia langsung berdiri dari duduk dan meihat padaku.

“Om …ayuuk, sudah dipanggil.” Najma menyentuh tanganku.
Meski bingung dengan apa yang harus kulakukan, namun aku bergerak bersama Najma, bukankah tadi kakak bilang yang akan diwawancarai anaknya. Barangkali jika mendampingi saja tidak masalah bagiku.

Aku berjalan beriringan dengan Najma, mengetuk pintu yang tertutup, membukanya dan menyuruh Najma masuk lalu mengiringinya. Ruangan itu tidak begitu besar, ada satu meja kerja dengan kursi dan seperangkat sofa warna warni yang mendominasi. Ceria. Begitulah rasa yang kutangkap. Dinding sebelah kiri berhiaskan mural berbagai bunga mawar dengan warna-warna yang menghidupkan, pun ada beberapa kupu-kupu di dinding-dinding atasnya, yang seakan terbang menuju bunga-bunga itu. Pikiranku teralihkan, sampai kudengar suara.

“Silakan duduk Najma, silakan duduk juga Bapak” begitu halus nadanya dan asyik menyapa gendang telinga.

“Terima kasih Bu.”Suaraku dan suara Najma beriringan. Syukurlah Najma tidak melupakan sopan santunnya. Aku malah lupa untuk mengingatkan apa yang harus dilakukannya saat diwawancara.

Nanar aku menatap wajah didepanku. Waktu seperti terhenti dan aku terpaku pada matanya yang begitu tenang. Seperti air danau yang menghanyutkan. Segalanya seperti dalam gerak perlahan. Perpindahan tatapannya dariku kepada Najma kuikuti sepenuh hati, dan ia tersenyum. Senyum yang begitu memukau. Mengulurkan tangannya pada Najma, samar kudengar suaranya.

“Ibu Najma tidak hadir nak?” .

“Ibu ke kantor dulu bu guru.”

Aku mencari-cari suaraku, kenapa jadi hilang?

“Baiklah, Najma sekarang usianya berapa tahun?”

“Empat tahun delapan bulan Bu guru. Mei besok ulang tahun yang ke lima.”

“Kalau di rumah kegiatannya apa saja?”

Mengikuti proses itu aku sedikit lega. Berbagai pertanyaan yang diajukan bu guru, dijawab lancar oleh Najma. Sepertinya kakakku sudah mempersiapkan anaknya sedemikian rupa. Selama itu pula aku menikmati keindahan yang diberikan Tuhan untukku hari ini. Wajah itu membuatku terikat, untuk selalu memandanginya. Hatiku yang berdebar telah kucoba meredakannya. Berhasil, sampai pada saat mata itu kembali menatapku.

“Bapak berarti adiknya Ibu Naira ya?” begitu kalimat halus itu menyapaku.

“Ohhh…eh…Iya, adiknya.Omnya Najma.” Sial sekali kenapa aku harus gugup begitu.

Fokus Nurman…Fokus. Aku merutuk sendiri dalam hati.

“Saya sudah coba hubungi Bu Naira, mungkin meeting, jadi telponnya nggak diangkat.” Entah kenapa aku melahirkan kalimat itu.

“Nggak apa-apa Pak. Kami lebih butuh informasi dari Najma kok. Tapi ada beberapa pertanyaan yang barangkali Bapak bisa bantu jawab, terkait kebiasaan Najma di rumah, bisakah?”

Duuuhh… senyum itu manis sekali.

“Assalamu’alaikum.”

Yaaaahhh… kenapa pula Kakakku harus hadir disaat seperti ini. Kualihkan pandanganku ke arah pintu masuk yang telah terbuka, dan Kak Naira berdiri di sana.

“Maaf Bu guru, saya belum terlambat kan?” sambungnya sembari membawa diri sendiri duduk di samping Najma.

“Wa’alaikumsalam, nggak apa –apa Ibu Naira. Baru saja wawancaranya akan saya lakukan dengan omnya Najma…Maaf namanya siapa ya Pak?”

“Nurman.” Aku menyahut mantap dan mengulurkan tangan. Kami berjabat tangan, duuhhh kulit tangannya juga sangat halus. Aku jadi semakin tak bisa berhenti memikirkannya.

“Baik Pak Nurman, saya ajukan pertanyaannya ke Ibu Naira saja ya.” Ujarnya sembari melepaskan tangannya dari tanganku, tersenyum lagi dan mengalihkan pandangan pada kakakku.

Untuk waktu yang begitu singkat aku telah terjerat. Kutemukan seseorang yang mampu membuat dadaku berdebar. Hampir duapuluhenam tahun usiaku, dan baru kali ini aku merasakan pesona yang begitu membuat jiwaku menggila. Entah berapa lama akan kubutuhkan waktu untuk membuat dia juga menyadari kehadiranku, juga perasaanku. Pastinya aku tidak akan berleha-leha lagi di pagi hari. Mengantar dan menjemput Najma akan kujadikan kegiatan rutin setiap hari. Aku juga harus lebih giat mencari kerja. Atau bagaimana kalau aku jadi guru TK saja? Di sini tentunya. Mungkinkah?