Meneladani Sikap Rendah Hati Mamak

Mamak, begitu Siti menyebut seorang wanita yang telah melahirkannya. Beliau tidak pernah marah, tidak pernah memaksa, dan selalu rendah hati. Mamak selalu memberikan keleluasaan bagi setiap anak-anaknya. Beliau hanya memberikan saran agar anak-anaknya tidak salah langkah. Tidak hanya urusan sekolah, masalah kecil pun tidak luput dari perhatian mamak.

Sepulang sekolah, Siti merasa kelelahan karena ada pelajaran olahraga tadi. Siti ingin istirahat saja di rumah, tidak ke sawah. Namun mengingat mamak dan bapak sudah sejak pagi bekerja dibawah terik matahari, maka Siti memutuskan untuk tetap berangkat. Meskipun kepalanya terasa sangat sakit dan matanya mulai mengantuk.

Setibanya di sawah, Siti dan saudara-saudaranya bergegas mengganti pakaian dan mengenakan sarung sebagai penutup kepala. Dari jauh mamak berteriak agar kami tidur siang sebentar di gubuk. Beliau selalu lebih tahu kondisi anak-anak. Meskipun anak-anaknya tidak pernah mengeluh, karena mamak tidak suka mendengar keluhan, mamak tidak pernah memaksakan untuk mengerjakan apapun.

Sebagian saudara Siti memilih untuk melanjutkan pekerjaan yang kemarin. Namun Siti memilih untuk tidur siang. Ia tidak bisa menahan rasa kantuknya. Ia menggelar tikar diatas lantai tanah didalam gubuk dan mulai memejamkan mata.

Mamak adalah wanita terbaik dalam hidup Siti. Tidak hanya teman untuk bertukar pikiran, mamak juga menjadi teladan dalam hal beribadah. Setiap subuh, mamak sudah bangun untuk berdoa. Mamak adalah pendoa bagi kami. Beliau bak tiang dalam pondasi rumah.

Beliau juga seseorang yang rendah hati. Seringkali mamak mendahulukan anggota keluarganya menyantap makanan yang disiapkan beliau dan selalu mengatakan ‘masih kenyang’. Padahal mereka tahu sejak sore tadi beliau tidak makan apa-apa.

Mamak selalu menjadi motivator Siti mengerjakan apapun. Siti selalu membayangkan raut wajah mamak ketika dia berhasil memperoleh nilai yang baik. Siti selalu berdoa semoga mamak panjang umur dan bisa melihat Siti mencapai cita-citanya.