Meneladani Kisah Abdurrahman bin Auf

Meneladani Kisah Abdurrahman bin Auf


Pekan ini kakak mendapat tugas untuk mendengarkan sirah “Abdurrahman Bin Auf”. Setelah mengecek buku cerita, ternyata saya menemukan kisah tersebut. Namun untuk mencari referensi, akhirnya saya googling untuk mendapatkan kisah itu. Kisah tersebut saya rangkum dari http://almanhaj.or.id dan http://www.republika.co.id .

Bismillahirrahmaanirrohiim
Abdurrahman bin Auf termasuk dalam golongan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Abdurrahman Bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada saat perang tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk mengorbankan hartanya. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi SAW. Ia memelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah emas.


Abdurrahman bin Auf pernah mennjual tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudianmembagi-bagikan uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan dan kepada Ummahatul Mukminin (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Al-Miswar berkata:”Aku mengantarkan sebagian dinar-dinar itu kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma dengan sebagian dinar-dinar itu. “Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: “siapa yang telah mengirim ini?” Aku menjawab: “Abdurrahman bin Auf’. “Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata lagi: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabada:”‘tidak ada orang yang simpati kepada kalian kecuali orang-orang yang sabar. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi minum kepada ‘Abdurrahman bin Auf dengan minuman surga””.

Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya diantara sahabat . bisnisnya terus berkembangdan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Harta dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat terbesar pada masanya, namun itu tidak memengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.

Beliau meninggal dunia pada tahun 32 H. Beliau berumur 72 tahun dan dikuburkan di pemakaman baqi’.


Karena yang mendengarkan kisah ini adalah anak TK kelas A, jadi saya harus menyampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami.
Setelah menceritakan kisah ini, sayapun menyampaikan hikmah dibalik cerita ini. Bagaimana keutamaan dan kemuliaan sedekah telah mengangkat derajat seseorang dan akan dimasukkan kedalam surga.
Untuk mengetahui pemahaman si kakak, saya sedikit berdiskusi dengannya.
Umma : “kakak mau masuk surga g?
Kakak : “mau umma”
Umma : “ Kakak, sering berbagi g sama temannya?”
Kakak : “iya, kakak sering berbagi sama teman kakak kalau kakak punya jajan”
Umma : “alhamdulillah, semoga kita termasuk orang-orang yang masuk surga ya”
Kakak hanya manggut-manggut mendengar ucapan saya sembari memeluk.

Teringat beberapa hari yang lalu, saya membagikan postingan kakak saya. Postingan itu mempublish kegiatan pemberian bantuan kepada masyarakat. Bantuan itu dalam rangka memberikan santunan kepada warga di daerah saya yang sudah tidak berpenghasilan lagi semenjak diberlakukannya social distancing.
Iya, social distancing yang saat ini sedang kita jalankan bagai dua sisi mata uang. Disatu sisi, social distancing dapat memberikan kesempatan para orang tua yang sibuk bekerja berkumpul kembali dengan keluarganya. Memberi keluangan waktu para orang tua untuk mendampingi dan menikmati tumbuh kembang anak-anaknya. Banyak postingan dimedia sosial, gambar atau kisah kesemrawutan rumah dengan keriuhan anak-anak dan gambar stok-stok jajanan yang berjejer sebagai bekal anak-anak di rumah. Tanpa bekerja ke kantor, gajipun tetap masuk kedalam rekening. Keluarga tentram,bahagia dan kebutuhan tercukupi.


Alangkah ironi ketika diluar sana ada yang memaksa keluar rumah. Memaksa menantang maut demi berlangsungnya kehidupan di rumah. Yang didapati jalan lenggang, pasar sepi, dan akhirnya kembali pulang dengan wajah tertunduk lesu. Anak-anak yang sudah sekian pekan libur di rumah, kegiatan banyak di rumah, karena teman-teman sepermainan juga dibatasi bermain diluar rumah. Sedikit kegiatan membuat perut seringkali lapar, namun periuk seringkali kosong setelah sarapan pagi.


Ah…, bukan soal siapa yang harus bertanggung jawab dengan kondisi ini, tapi dimanakah posisi kita saat ini.
Kondisi inilah momentum kita untuk meneladani kisah Abdurrahman bin Auf, disaat kondisi genting dan sulit. Sedekah tidak akan mebuat kita miskin, sedekah tidak akan membuat kita kekurangan. Allah telah berjanji akan mencukupkan kita. Tidakkah kita ingin merengkuh surga-Nya Allah???.
Ayo sedekah, ayo berbagi. Masih banyak disekitar kita yang menunggu uluran tangan kita. Semoga wabah inipun cepat berlalu melalui tangan-tangan yang ikhlas bersedekah karena Allah semata.

nubar-nulisbareng/Chomsiatin