MENCINTA WAKTU (Cerpen)

MENCINTA WAKTU
(Ida Saidah)

Sahabat, hari ini aku sungguh merasa bosan di rumah. Jenuh. Beberapa bulan tidak jumpa kalian, serasa sudah berabad-abad lamanya. Aku kangen kalian. Berlari bersama menuju kantin ketika bel istirahat memanggil-manggil untuk segera meninggalkan ruang kelas. Kita sama-sama ingin jadi orang pertama yang dilayani penjual es jeruk, seblak, mie ayam, dan pedagang jajanan lainnya. Tentunya, terutama Putri yang suka malas mengantre. Ia akan kembali ke kelas melanjutkan membaca novel yang digemarinya.


Putri dengan gayanya yang manja menitipkan secarik kertas yang digulung uang dua puluh ribu. Kertas itu bertuliskan daftar jajanan yang akan dibelinya. Yang ketitipan senangnya luar biasa. So pasti gembira karena akan memperoleh tip. Dan yang sering dititipi tidak lain adalah aku. Namun sayang sejak ada si Novel Corona mengacaukan tatanan dunia, kita dipaksa untuk betah di rumah. Bagaimana pun kondisi rumah itu. Tahu sendiri kalian bagaimana kondisi rumahku. Menyebalkan.


Ayah dan ibuku bukan orang tua kebanyakan. Mereka hobinya ribut. Ini bermula saat ayah ketahuan memiliki WIL (wanita idaman lain). Ibu sudah bilang baik-baik. Ibu memohon dengan mengiba-iba dan menangis sesunggukan. Ayah malah menjadi-jadi. Ayah sibuk memanjakan wanita barunya. Keluarga hampir dilupakannya. Ibu pasrah menghadapi kenyataan pahit ini. Aku hanya bisa ikut sedih, prihatin, bahkan putus asa.

Peristiwa ini berbarengan dengan datangnya si pengacau tatanan dunia. Siapa lagi jika bukan Si Corona. Aku benar-benar ingin gentayangan, ke luar dari rumah. Aku tidak bisa belajar daring dan luring seperti kalian. Aku muak dengan keadaan ini.


Aduh kapan ya kondisi tidak menentu ini akan berakhir? Aku bisa gila! Aku jadi ingin menangis meratapi nasibku. Tapi adat kita mengatakan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis. Pasti kalian pernah mendengar, Masa anak laki-laki menangis, laki-laki itu harus tegar, anticengeng. Jadi setiap aku mau menangis, memoriku sudah duluan ngasih pengumuman agar aku jadi orang pantang mewek.


Ngomong-ngomong, hai kalian yang berjenis kelamin laki-laki suka nangis tidak jika sedih, kesal, atau terlalu gembira? Jika memang ya jawabannya, bersuka citalah! Sebab menurut gogle, menangis memiliki banyak manfaat, misalnya meredakan stres. Selain itu memiliki efek menenangkan, meningkatkan suasana hati, melawan bakteri, dan membantu melembabkan mata.

Sahabat, apa kalian punya keinginan yang sama denganku, ingin sekolah seperti biasa. Datang di pagi buta dan pulang bersama bersembunyinya matahari ke peraduan. Putri bilang, Pergi dan pulang tanpa ditemani mentari. Wah, aku jadi ingat Putri, sedang apa dia sekarang ya? Apa lagi pekerjaan Putri kalau bukan melahap buku-buku, ya mengarang puisi, cerpen, dan novel. Betulkah sangkaku ini?


Betul Putri tidak terlalu pandai matematika, tapi dia kan mahir mengarang. Beberapa novelnya sudah dipinang penerbit mayor. Putri memang hebat dalam hal tulis-menulis, masih SMA (Sekolah Menengah Atas) sudah dapat royalti. Satu waktu bisiknya padaku dalam satu bulan pernah dapat 5 jete. Aku melongo. Itu lah rahasianya mengapa Putri memberi tip.


Aku jadi ingin mengikuti jejak Putri. Tapi aku tidak pandai mengarang.Tentang keinginanku itu pernah kusampaikan lewat pesan WA pada guru bahasa Indonesia. Beliau antusias membalas chat-ku. Penuh perhatian. Responnya luar biasa positif. Di luar dugaan.


Beliau meyakinkan bahwa aku berbakat untuk menjadi pengarang. Kehebatanku dalam mengarang bisa sejajar dengan Putri, bahkan bisa lebih sukses. Kuncinya suka membaca. Membaca alam, membaca buku sejarah, membaca cerpen dan novel, serta membaca bahan bacaan lainnya yang ada di perpustakaan sekolah. Perpustakaan tetap memberikan pelayanan di masa pandemi. Yang penting ikuti protokol kesehatan.


Dan terus berlatih menulis. Jangan takut salah, tuliskan semua yang ingin ditumpahkan Minimal satu hari satu kalimat. Sambungkan kalimat-kalimat itu. Jika perlu satu paragraf per hari. Jadilah sebuah karangan.


Penjelasan beliau memporak-porandakan benteng keyakinanku selama ini. Semuanya berubah setelah aku menemukan sejumlah buku yang ditulis beliau berjejer di perpustakaan sekolah. Beliau bukan sekedar memberi tips, melainkan mempraktikkannya sendiri.


Meski ayah ibuku berantakan, aku harus berprestasi. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu untuk kegiatan yang tidak memberikan manfaat. Aku wajib mencinta waktu. Wujud mencinta waktu tidak lain adalah mengisi setiap detik itu dengan hal yang positif sesuai norma yang berlaku. Membuat karya nyata adalah wujud mencinta waktu. Di musim Novel Corona, banyak membaca merupakan kiat jitu menghilangkan kebosanan.


Aku mulai rajin melahap buku-buku bacaan dari berbagai genre. Buku-buku itu ada yang dipinjam di perpustakaan sekolah, ada juga yang berbentuk e-book yang dikirim oleh beliau.

Kalimat demi kalimat kucoba untuk menyusunnya. Tetap susah. Ternyata mengarang itu tidak semudah memasukkan cireng hangat ke mulut. Bagaimana aku bisa menjadi pengarang yang diperhitungkan?
Aku putus asa. Tidak tahu hal apa lagi yang akan ditulis. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku merampak pemeo yang sudah mengakar di memori, pun di masyarakat. Aku pun merasa lapang dan relaks.
***
Hasil karangan di atas kufoto. Kubuat kolase dengan foto diriku sendiri dengan gaya menyamping. Pada mulanya aku ragu untuk mengirimkan kepada beliau. Takut tidak dibaca. Takut ditertawakan dan takut-takut lainnya.

Akan tetapi karena diingatkan terus di grup kelas, bahwa karya yang dimuat di koran akan mendapat nilai minimal 90. Akhirnya aku memberanikan diri mengirimkan karyaku ke koran lokal. Luar biasa, diterbitkan. Hasilnya? Tra la la, tri li li. Senangnya aku dapat pujian atas karanganku yang pertama.

https://nubarnulisbareng.com/Mencinta Waktu-ida-saidah/