Menantimu

Pesan di wa, tertuliskan lies mama sakit, sudah 3 hari ga mau makan. Setelah ku baca langsung ke telpon kakakku Mirna, “langsung bawa rumah sakit aja ka…” Ucapkan ku di telpon. “Langsung ke persahabatan aja.” Tegasku lagi.

Sudah 2 minggu aku ga tengokin mama, karena tugas keluar kota, bila aku tidak tugas luar kota, sesibuk apapun, aku sempatkan kalau tidak hari sabtu ya hari minggu. Walau malam hari sekalipun atau harus sendirian tidak masalah buatku. Ketika sampai pasti mama akan suruh aku cepat balik lagi karena nanti kemalaman sampai rumah katanya.

Besoknya kakakku sudah bawa mama ke RS Persahabatan, aku bilang pulang kerja aku akan mampir ke RS. Adikku yang bungsupun bisa antar mama ke RS, Mama masih ceria walau terlihat agak kurus dan pucat. Adikku yang bungsu tanya dengan dokter dan kesimpulan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya perlu di infus saja karena tidak ada makanan yang masuk.

Adik bungsuku berpesan, kalau memang hasil tes darahnya bagus di bawa pulang saja, takut nanti mama malah ketularan penyakit yang ada di RS, karena usianya sudah 88 tahun, karena pihak RS akan mengecek darah mama, karena kakakku Mirna tidak bekerja maka ia yang menjaga mama, sehingga pulanglah aku dan si bungsu.

Esoknya kakakku Mirna mengatakan oleh dokter harus di rawat, mau dilihat lagi darahnya, saat hari kedua adikku pamit mohon izin apakah ia diizinkan untuk tugas ke Padang ada seminar di sana selama 5 hari, kalau tidak di izinkan ia tidak akan berangkat, tapi mama menyuruhnya berangkat “sakit mama ga parah kok” katanya.

Namun di hari ke 3 badan mama menjadi panas, masih tetap ceria, mama bercerita “enak di sini, perawat sama dokternya baik-baik” kemudian mama melanjutkan ” baru sekali ini mama masuk rumah sakit, udah 88 tahun” sambil membanggakan dirinya. Namun dari perkataannya aku miliki firasat yang tidak baik. Aku langsung berkata sambil tersenyum ” ya seharusnya mama ga usah masuk RS”

Hari berikutnya nafasnya semakin sesak kami tidak mau memberitahukan adikku yang bungsu. Adikku yang ketiga segera kuberitahu karena selama ini aku menganggap mama akan segera sembuh. Esok harinya iya datang dengan kereta malam hari dari yogya.

Saat adikku datang mama sudah tidak banyak berbicara justru cenderung diam hanya menganggukkan kepala dan alat bantu nafas sudah dipasang, adikku marah kenapa ia baru di kasih tau, adikku sangat merasa bersalah sekali dengan mama, karena terakhir kali bertemu mama dia berkata dengan marah pada mama bahwa ia tidak akan menginjakkan kakinya lagi di rumah mama dan ia tidak akan bertemu mama lagi.

Ayu terlihat menyesal sekali, mungkin sebagian apa yang pernah di ucapkan menjadi nyata sekarang. Di hari ke enam mama di rawat dokter memanggil kami keluarga, dokter memberitahu kalau fungsi jantung mama tinggal 30 %, dokter menanyakan apakah nanti apabila terjadi hal yang tidak di inginkan, bolehkan pihak RS melakukan tindakan bantuan pernapasan dengan cara resusitasi.

Kemungkinan tulang dada mama akan patah karena faktor usia dan pertolongan tersebut juga tidak menjamin keadaan mama akan membaik, kami putus untuk menolak itu semua, kami ikhlas siapa tau ada keajaiban mama sembuh. Karena kami takut kalau ada apa-apa aku memberitahukan adikku keadaan mama dan menyuruhnya untuk menyelesaikan tugasnya yang tinggal 1 hari lagi.

Akhirnya di hari yang kedelapan dipasanglah alat rekam jantung pada mama, mama sudah tidak sadar diri, tidak ada sedikitpun celah waktu untuk tidak melafalkan ayat-ayat suci Alquran. Aku sudah minta izin untuk tidak masuk kerja, karena melihat kondisi mamaku, jam 16.00 adikku bungsuku lelami satu-satunya di keluarga datang langsung kerumah sakit.

Semenjak datang iya tak berhenti membaca alquran, dan surat yasiin. Sambil terus memegang tangan mama, sambil sesekali ia berhenti karena menahan tangisnya. Alat pacu jantung semakin terlihat detak jantung semakin melemah, adzan maghrib menggema kami shalat bergantian, aku duluan yang pamit untuk shalat saat itu kulihat denyut jantungnya di monitor 70/70.

Selesai aku ambil wudhu, ku dengar saudara sepupu mengatakan ke pada Ayu, jangan menagis begitu kasihan mama, faizal adikku pun menangis. Aku menghampirinya masih belum mengerti apa yang terjadi, kenapa tanyaku, mama udah pergi lihat monitornya mbak… Tadi aku lihat saat mama pergi, ucap faizal sambil menangis.

Ya Allah… Aku tidak melihat mama saat menghadap-Mu ampuni aku ya Allah, karena aku masih belum menyangka akan secepat ini. Kakakku Mirna berucap mama pergi ingin melihat Faizal dulu, karena saat mama masuk RS. Faizal juga ikut mengantarnya.