MEMUTAR FILM DI KEPALA

From Google Images

Saya ingin membahas kelanjutan tulisan saya berjudul ‘Akar Pertengkaran’ (bagi yang belum membaca bisa membaca dulu supaya lebih nyambung).

Ketika kita sedang kesal atau marah dikarenakan kesalahpahaman akibat komunikasi yang gagal, level amarah kita seringkali makin bertambah besar dari waktu ke waktu meskipun tidak ada sebab baru yang menyulutnya. Kok bisa?

Sebab tanpa kita sadari, kita sering mengulang-ulangnya di dalam kepala. Mengingat-ingat kejadian ga menyenangkan itu, mengulang ‘asumsi’ buruk kita terhadap orang yang kita kesalkan.

Bahkan kadang pikiran kita menambah dosis ‘asumsi’ negatif kita kepadanya, padahal belum tentu benar. Ya, kalau kita membiasakan otak kita untuk berpikir negatif, ia akan cepat mahir membuat prasangka-prasangka negatif.

Makin sering kita mengulang-ulang peristiwa dan asumsi negatif (prasangka buruk) kita, akan makin besar pula rasa kesal dan amarah kita.

Maka sangat penting mengendalikan gambar dan suara-suara di kepala kita. Mengendalikan asumsi dan prasangka yang ada. Kita butuh skill untuk mengatur film yang kita putar di kepala kita.

Memutar film positif akan membuat emosi kita mereda, hati kita tenang dan pikiran kita jernih. Sebaliknya, sering memutar film negatif akan membuat emosi kita makin tersulut, hati meledak-ledak tak tentu dan pikiran menjadi kacau.

Apalagi jika film negatif itu terus kita putar ulang, makin sering dan jelas di kepala, makin besar pula emosi kita. Walaupun awalnya mungkin persoalan kecil, namun bisa menjadi makin besar, hanya dengan terus menerus mengingat kejadiannya dalam kepala kita sendiri!

Namun tidak gampang mengubah film negatif, apalagi yang sudah sering sekali diputar di kepala, menjadi film yang positif. Apalagi kecenderungan manusia memang lebih mudah berpikir negatif daripada positif. Bagaimana caranya?

Salah satunya dengan mengubah visualisasinya. Jika awalnya film itu tergambar begitu jelas warnanya, dekat dan nyata, kita bisa mulai ubah warnanya menjadi hitam putih, seperti film kuno tahun ’70-an. Selain itu, ubah posisinya seolah-olah makin kecil dan jauh dari kita. Pelan-pelan uat kabur gambarnya. Makin tak jelas, kecil, jauh, makin kabur.

Cara kedua adalah mengubah suaranya. Jika awalnya yang terngiang adalah suara yang jelas, keras, nada yang tajam dan menggelegar, kita bisa mulai kecilkan suaranya. Buat nadanya lebih datar, suaranya menggumam tak jelas, putus-putus atau bahkan ubah suaranya menjadi suara tokoh film kartun yang lucu. Makin tak jelas, pelan, lucu, putus-putus tak terdengar.

Dengan mengubah gambar dan suara tersebut berulang-ulang, perasaan kita terhadap film di kepala kita ikut berubah, menjadi lebih baik.

Langkah ini bisa dilakukan dalam rangka usaha mengendalikan mood dan emosi kita terhadap suatu kejadian tidak menyenangkan. Seringkali emosi kita bukan saja karena hal tidak enak telah terjadi, tapi lebih banyak karena salah cara memutar film dalam kepala kita.

Mengubah film, dapat mengubah perasaan dan makna terhadap sebuah kejadian. Kalau tidak bisa mengubah yang buruk menjadi baik, setidaknya bisa menjadikannya lebih netral. Sudah pernah mencoba?

Renny Artanti
STIFIn Family & Business Trainer
Co Founder of Xcellence International