MEMGHAYATI KEBERADAAN

Manusia dikaruniai mata untuk melihat keberadaan sesuatu di sekitarnya.
Namun sejatinya, keberadaan bukanlah cukup diukur dengan mata fisik. Manusia tak bisa hanya menilai ada atau tidaknya sesuatu sekedar yang ditangkap oleh organ mata yang ada di kepala. Keberadaan sesuatu bisa jadi ditangkap oleh mata lain yang tak terdefinisi.
Ada yang menyebutnya dengan mata batin, ada juga yang mengatakan sebagai indra ke enam. Yang pasti bahwa keberadaan bisa saja tidak hanya karena terlihat tapi juga dirasakan oleh hati, pikiran, bahkan pengalaman dan hasil.

Penglihatan atau jarak pandang dengan mata fisik sungguhlah sangat terbatas. Mungkin akan sangat menakutkan jika semua unsur kehidupan harus tertangkap oleh mata fisik. Sungguh tak terbayang betapa hilir mudiknya jalan raya kehidupan berbagai makhluk di muka bumi ini. Maka cukuplah diwakili sebagian besarnya oleh penglihatan lain.

Siapakah yang kita hayati dan yakini keberadaannya walau tak tampak di depan mata dan tak harus terlihat? Ya, teman-teman di media sosial ini salah satunya, kita yakin mereka ada karena telah merespon setiap tindakan kita. Atau mungkin masa lalu yang baik atau yang buruk, kita yakin pernah ada di masa itu karena saat kita membahasnya dengan teman lama di masa kini, kenangan yang diulang ulang diceritakan itulah bukti adanya.

Hal tertinggi tentang makna keberadaan pastinya adalah keberadaan Tuhan. Kita tak bisa memungkiri keberadaanNya atas semua bukti ciptaaanNya. Bagi yang yakin atau tidak, bisa jadi sangat ditentukan oleh fungsi penglihatan mana yang berguna dalam diri masing-masing.

Di masa pandemi, keberadaan virus covid-19 sungguh tak terlihat oleh pandangan mata fisik. Namun bukti yang menunjukkan berjatuhannya korban sakit atau meninggal telah cukup membuat miris dan prihatin. Respon yang ditunjukkan oleh yang yakin dengan yang tidak yakin, tentu akan berbeda. Kata basa sunda mah “moal percaya lamun can ngalaman sorangan” maksudnya yaitu tak percaya kalau tak mengalami. “Mun kadeuleu ku panon mah geus beak di pekprek tah sakadang covid teh” artinya kalau terlihat mata pasti sudah habis dicincang si covid tuh.

Jika kita yakin misalnya orang tua kita telah tiada dalam pandangan mata tapi ada di alam lain, maka kita rajin berkirim doa sebagai bahasa komunikasi bukti keterhubungan. Juga kita yakin covid-19 ada, maka sikap kita dengan prokes tentu akan bersungguh-sungguh. Bayangkan jika yang terjadi sebaliknya yaitu tidak yakin dengan dua contoh di atas. Konsekuensi yang terjadi pun akan kembali dirasakan masing masing.

Tak perlu jadi perdebatan tentang ada atau tidaknya sesuatu. Cukup renungkan dan rasakan apa dampak dari respon kita terhadap keberadaan tersebut. Sapalah teman medsos walau mereka tak selalu tampak di depan mata. Berkomunikasilah dengan Tuhan melalui ibadah jika yakin akan keberadaanNya. Jagalah ikhtiar prokes ketat covid-19 jika itu bisa bermanfaat untuk kita dan lingkungan. Cukup berfokus terhadap apa yang bisa kita lakukan yang terbaik menurut versi kita dulu.

Sebaiknya jika tidak yakin akan keberadaan Tuhan, tetaplah berempati kepada yang menjalankan ibadah kepadaNya di atas keyakinannya. Sebaiknya jika tidak yakin berteman di medsos banyak manfaatnya, mohon tidaklah menghujat lebay, basa basi atau pencitraan. Sebaiknya jika tidak yakin ada covid-19 karena diberi kesehatan dan tidak terpapar, mohon tetaplah empati kepada yang sakit dan mendoakannya untuk segera sembuh mau dianggap flu biasa atau apapun lah terserah jangan mencela.

Oh ya satu hal yang pasti juga tetaplah berhati hati merespon keberadaan mantan. Sebab meski tak tampak lagi di depan mata namun selalu berasa masih ada, kompaklah saja saling menganggap sudah hilang dari peredaran di muka bumi, hehehe …..

Salam sehat dan bahagia selalu…

‘nNa220721

NubarNulisBareng/Lina Herlina