Memetik Hikmah dari Pandemi

Memetik Hikmah dari Pandemi

Pandemi covid 19 masih menjadi topik hangat. Terlebih di masa ramadan, ibadah dilakukan di rumah saja karenanya. Keinginan mudik lebaran pun harus ditahan guna memutus penyebaran virus covid 19.

Ramadan terasa berbeda. Ujian menahan diri dari lapar dan haus, harus ditambah lagi dengan ujian menahan diri dari kumpul berbuka bersama, menahan diri tidak tarawih berjama’ah di mesjid, juga menahan diri untuk tidak mudik.

Daripada berkeluh kesah, marilah kita fokus pada hikmah dari pandemi. Dengan kondisi sekarang, kita bersyukur keluarga bisa setiap waktu berkumpul di rumah. Buka dan sahur dengan anggota lengkap.

Salat tarawih berjama’ah dilakukan di rumah. Sudah pasti salah satu anggota keluarga akan menjadi imam. Bisa ayah atau anak laki-laki tertua. Di sinilah kehangatan keluarga akan terasa. Tarawih di rumah juga menjadi motivasi bagi ayah dan anak laki-laki yang menjadi imam untuk menambah hafalan suratnya.

Rumah kembali hangat. Interaksi anggota keluarga semakin intens. Banyak waktu bersama yang bermanfaat. Melakukan kebaikan bersama keluarga sungguh menjadi sesuatu yang amat membahagiakan.
Salat berjama’ah, tadarrus bareng, buka dan sahur bersama, nonton bareng, dan saling bertukar cerita.

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Maka nikmatilah masa-masa di rumah saja. Inilah cara indah Allah mengembalikan keutuhan keluarga. Orangtua yang sibuk bekerja, anak-anak yang sering hang out bareng teman-temannya, si kecil yang sering dititipkan di daycare, kini semua berkumpul di rumah saja. Bayti jannati.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Arrahman, 55:13).

WCRumedia/yuyunkho