MEMBUAT PILIHAN

Ramadhan kali ini terasa berbeda dengan sebelumnya, tak ada kemeriahan sholat tarawih. Meskipun sudah di perbolehkan.
Tak ada takjil selepas jamaah, menghindari kerumunan anak-anak dan tetap mematuhi protokol kesehatan, jaga jarak.
Siang ini begitu panas, rasanya masuk sampai ke ubun-ubun.
“ Cuci kaki dulu kak, kan habis main tadi.”
“ Sudah Ibun, Alhamdulillah “
Kidung bergelayut manja, tumben pikirku, ada apa.
Benar saja, dia sedikit merajuk.
“ Bun, boleh ndak kakak puasanya setengah hari aja? Haus banget Bun, tadi habis main bola di lapangan.”
Tanpa aku tanya lebih lanjut, Kidung sudah menjelaskan sebab ia ingin berbuka.
“ Apa ndak sayang to Le? Ini sudah mau masuk jam satu siang lho, tahan sebentar lagi gimana?”
Tak mendapat persetujuan dariku, ia lalu masuk kamar, berharap aku mengikuti nya dari belakang.
Kidung keluar kamar lagi, mungkin ia dalam kebimbangan.
“ Bun, boleh ya? Coba kalo Ibun panas-panas main bola di lapangan, pasti haus.”
Aku hanya tersenyum, lalu masuk kamar, AC dihidupkan, lalu rebahan.
“ Sini Kak, rebahan sama Ibun ”
“ Kak ini sudah lewat jam lho, apa ndak sayang nanti. Kakak sudah menahan haus dan lapar lebih lama.”
“ Tapi kan haus Bun “
“ Sekarang coba Kakak berdiskusi dengan hati, dengan diri sendiri, tanyakan keputusan yang terbaik.”
Kidung mulai mencerna apa yang ku utarakan tadi, meskipun ia tak paham betul.
“ Tapi Kakak belum pernah Ibun bicara dengan diri sendiri “
“ Latihan mulai sekarang Kak, karena suatu saat Kakak juga membutuhkan nya.”
Belajar mengambil keputusan, bicarakan dengan hati, keputusan yang di sertai dengan tanggung jawab akan lebih terasa mantap menjalani nya.
Sambil kuceritakan bagaimana aku saat kecil dulu berlomba-lomba untuk puasa full. Antusias Kidung mendengarkan, sambil sesekali bertanya.
Aku yang masih bercerita, terasa sepi. Ku tengok ia sudah terlelap, ahh.. Mungkin seperti mendengar cerita dongeng.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu