Memberanikan diri

“Bismillahirrahmaanirrohiim.”  Begitu, kalimat yang saya ucapkan pertama kali saat memberanikan diri untuk mengikuti event ini. Writing Challange Rumedia yang diadakan oleh founder RMG (Rumah Media Grup) Bapak Ilham Alfafa, lewat info yang dishare di grup serial WFH (Writing For Healing) oleh PJ Ribka Imari. Beliau juga mentor di kelas Mengasuh Inner Child yang saya ikuti kelasnya bulan Maret 2020 lalu.

Bukan hal yang mudah bagiku, seorang yang seringkali tidak banyak melibatkan diri untuk sebuah tantangan, dikarenakan adanya rasa ketidakpercayaan terhadap kemampuan diri sendiri. Semangat yang berubah-ubah, dari yakin menjadi ragu, dari berani menjadi takut dan dari banyak pikiran positif yang tiba-tiba menjadi pikiran-pikiran negatif,  muncul untuk berusaha menghentikan langkah sendiri. Hal semacam ini sudah seringkali terjadi pada diri saya.

Ketika event ini di infokan digrup. Saya merasa bersemangat mengikutinya. Namun rasa pesimisku tiba-tiba datang menepis. Jangan sekarang, kapan-kapan saja kalau ada lagi. Kan harus konsisten dan komitmen, memangnya kamu bisa? Bisikan itu seolah mengecilkan hati yang sedang bersemangat.

Ah, coba saja dulu. GumamkuMenangkal pikiran negatif.

Hmm, jangan deh. Nanti kalau gak bisa gimana? Belum banyak ide pula. Kalau mandeg di tengah jalan, kan bakal malu. Pikiran negatif menguasai lagi.

Sehari, dua hari, tiga hari. Masih ragu untuk mendaftar. Namun mengingat semakin mendekati dateline pendaftaran, tanggal 15 April 2021 saya merasa gelisah. Apa saya akan menyerah begitu saja? Menyia-nyiakan kesempatan belajar.

Dengan ragu pula saya beranikan diri bertanya soal event WCR ini kepada Bun Ribka di Chat Whatssapp. Namun masih belum berani langsung mendaftar hingga tanggal 15. Aku menyerah saja.

Ketika buka grup Whatsapp, ternyata ada perpanjangan waktu untuk mendaftar. Sayangnya saya terlambat, jadi ketinggalan deh.

17 April 2021

Mau ikutan. Tapi, maju mundur, maju mundur.

Begitu kalimat yang saya kirimkan kepada Bun Ribka.

Yuk, semangat💪💪.

Saya tak sampai menjawab pesannya. Bertanya hanya dalam hati saja masih bisa ikutankah?  karena masih dalam keraguan. Membayangkan membuat minimal 20 tulisan setiap bulannya adalah hal yang tak mudah bagi saya. Apalagi masih sangat pemula. Namun tak mau juga melewatkan kesempatan ini. Utamanya saya sudah merasa lelah dengan diri sendiri yang seringkali banyak alasan untuk memilih mundur.

Satu jam kemudian

Jadi ikutan?

Pertanyaan yang membuatku merasa tersemangati. Karwna masih diberi kesempatan.

Mauuu, Bismillaaahh…masih bisakah?Ini latihan konsisten buat aku yg mudah menyerah.Jawabku 35 menit kemudian.

Aku daftarin ya.

Baik bun…😁.

Saya menyetujui. Memberanikan diri sebelum berubah pikiran lagi dan yang ada nanti adalah rasa penasaran dan penyesalan karena telah menyia-nyiakan kesempatan melatih diri untuk belajar menulis. 

Akhirnya, masih bisa masuk jadi peserta WCR.  Ya, mulai saja dulu. Berusaha semaksimal mungkin saja dulu. Soal gagal itu urusan belakangan. Karena jika tidak memilih untuk memulai langkah. Selamanya akan jalan ditempat, selamanya tidak akan tahu sampai mana kemampuan diri.

Bukankah bisa berkarya dalam bentuk tulisan adalah mimpi sejak lama.Yuk, paksa diri untuk berlatih. Ajakku pada diri sendiri. Apapun mimpinya berusahalah untuk memulai. Afirmasi positif terus, belajar pantang menyerah.

Nubarnulisbareng/Titin Siti Patimah