MEMBACA BERMAKNA

Pada masa saya sekolah di SD dulu sekitar tahun 81 hingga 87 an, salah satu tempat bermain favorit saat istirahat adalah di ruang kepala sekolah. Entah kenapa saya merasa tidak punya memori takut kepada guru ataupun kepala sekolah. Rasanya berjalan alami hampir semuanya memori masa SD sangat menyenangkan waktu itu.

Adapun alasan saya senang main di ruang kepala sekolah bukanlah hanya sekedar main. Tapi di sana ada bagian ruangan yang menyediakan banyak buku yang bebas dibaca oleh siswa. Boleh dikata itu sebagai perpustakaan sekolah. Perpustakaan mini yang menyatu dengan ruangan kepala sekolah. Kalau dikenang kini sungguh mengharukan dan masih ku ingat sesederhana apa ruangannya namun bukunya cukup banyak.
Selain dibaca di ruangan, saya juga sering bisa meminjamnya ke rumah secara gratis.

Memasuki masa SMP, saya pun masih senang menjadi pengunjung perpustakaan. Gedung perpustakaan di masa SMP lebih besar dan terpisah tersendiri tidak seperti di SD. Bahkan menurutku sangat mewah dan nyaman. Segala macam buku cerita saya santap dari mulai cerita rakyat, dongeng binatang bahkan kisah nabi. Entah mengapa saya sangat tertarik membaca apapun.

Bahkan di rumah pun, waktu itu orang tua saya punya toko dan menyediakan banyak koran bekas untuk bungkus. Maka saya pun melahapnya mengacak ngacak tema bacaan yang ingin dibaca dari koran bekas tadi. Tentu saja saya pun merapikan kembali bekasnya setelah membuatnya berantakan.

Di masa SMA urusan baca membaca ini agak berkurang minatnya. Entah mungkin karena cukup banyak juga bahan materi pelajaran yang harus kubaca jadi sempat kehilangan minat membaca. Tapi saya masih ingat waktu itu minat menulis sudah mulai muncul benih benihnya. Berawal dari hobi menikmati bacaan di mading sekolah. Sempat tertarik untuk membuat cerpen dan puisi namun tidak pernah pede untuk mengirimnya ke redaksi mading di sekolah SMA ku waktu itu.

Hobi membaca masih berlanjut hingga kuliah S1. Tapi kali ini alasan sering mengunjungi perpustakaan karena tidak mampu membeli buku. Entah rasanya membeli buku saat kuliah merupakan kebutuhan yang sulit terpenuhi. Jadinya kalau tidak memfotocopi bahan kuliah, saya pinjam buku ke teman atau nongkrong di perpustakaan sekenyangnya.

Masa berlalu usai kuliah, mengajar, menikah dan lain-lain sebagainya sekitar akhir tahun 2000 an, tidak lagi membuat saya ingat bahwa saya suka membaca. Kesibukan membuat saya lupa minat yang satu ini. Seakan saya pingsan atau bahkan koma dari masa hobi membaca hingga semua dibangunkan kembali saat muncul masa internet khususnya medsos.

Sejak saya memiliki hp android dengan daya selancar internet yang lebih leluasa, saya pun tiba tiba terseret pada arus hilir mudiknya bahan bacaan di media ini. Bila saya evaluasi sekarang, betapa sembrono nya saya yang terbangunkan dari tidur panjang tanpa membaca tiba tiba dihadapkan pada situasi seperti ini.

Beberapa tahun berlalu hingga saya dipertemukan dengan beberapa komunitas menulis. Di sini lah awal kesadaran muncul bahwa membaca harus membawa makna. Bahan bacaan yang sudah kita konsumsi setidaknya bisa membuat kita menuliskannya sebagai bahan wawasan bagi orang lain atau refleksi untuk diri sendiri. Saya mulai mengurangi kebiasaan “terbawa arus” asal membaca apa yang melintas di layar hape saya. Saya mulai meracik dan menuangkan ide ide dalam bentuk tulisan ilmiah di forum guru Harian Pikiran Rakyat, menulis antologi bahkan akhirnya berhasil membuat buku tunggal sendiri tahun 2019.

Kini saya sedang melanjutkan S2 dan sedang menyusun tulisan yang “berat”. Tentu saja bahan bacaan saya beralih seribu derajat dari bahan biasa ke bahan kajian yang cukup mendalam dan spesifik. Membaca bukan karena minat. Membaca bukan karena menyenangkan. Tapi membaca merupakan kebutuhan dan keharusan. Maka segala tulisan bacaan ga karuan sementara tersingkir dari benak saya. Bahkan sekedar bacaan cerita lucu pun tak lagi saya lirik.

Saya pun kembali menjadi pengunjung perpustakaan. Bukan hanya di kampus tapi juga di perpustakaan daerah di kota saya. Mungkin yang masih menemani bacaan berat saya adalah bacaan dzikir dan nasihat para ulama. Tentu saja sebagai penyeimbang ketabahan saya dalam proses pencapaian selesainya pendidikan saya, hehehe …

Begitulah sebuah proses berjalan.

Adapun bahan renungan saya kini, saat dulu saya ke perpustakaan, saya memilih mau membaca apa. Artinya saya tidak sembarangan membaca. Kini jujur saya prihatin kepada anak-anak saya sendiri serta siswa siswa saya di sekolah. Tidak mudah memperkenalkan buku dan suasana perpustakaan saat ini.

Waktu balita dan masa SD kedua putri saya, banyak saya belikan buku untuk memancing minat baca mereka. Beruntung waktu masa balita putriku belum terpapar musim internet seperti si bungsu saat ini. Buku buku masa balita masih tersimpan banyak hingga kini mereka sudah SMP dan Kuliah. Tapi sejak mengenal gadget, mereka tak terhindari dari konsumsi bacaan medsos yang hilir mudik hampir setiap hari dengan kemampuan seleksi yang masih minim.

Alasan klise pengaruh medsos di gadget ini menjadikan generasi kekinian sensitif terhadap konsumsi bahan bacaan yang tidak selektif. Di satu sisi tentu akan banyak dampak positif karena banyaknya wawasan yang tersaji. Namun jika tidak bisa mengantisipasi dengan baik maka harus berhati-hati juga dengan dampak negatif dari bahan bacaan yang kurang baik dikonsumsi.

Program literasi yang sudah berjalan selama ini cukup mendapat respon positif dari banyak guru dan siswa. Setidaknya ini menjadi alteenatif upaya yang sangat perlu diapresiasi sebagai pengalihan dari bombardir efek negatif internet.

Masa pandemi yang mengharuskan siswa belajar jarak jauh melalui pemanfaatan internet semoga bisa memberi hikmah positif. Ya, setidaknya memunculkan kesadaran dan kebiasaan bahwa dari internet banyak manfaat yang bisa diambil untuk menambah wawasan keilmuan dalam pembelajaran. Saat membuka hape dan laptop yang terbayang hanya aktivitas positif berupa belajar dan berkomunikasi seputar kajian ilmu. Jika kebiasaan ini berlangsung terus menerus maka diharapkan akan muncul karakter baik untuk tidak mudah terpancing mengkonsumsi bacaan negatif yang minim manfaat. Walaupun mungkin jenuh tapi semoga tetap bisa menjaga semangat sambil menunggu masa pandemi berakhir.

Semangat belajar melalui internet.
Semangat membaca bermakna.

‘nNa 250720

NubarNulisBareng/Lina Herlina