Memaknai Social Distancing Bagian-2

Memaknai Social Distancing Bagian-2

Informasi demi informasi diikuti oleh masyarakat Indonesia tentang perkembangan COVID-19. Menghadapi situasi ini reaksi masyarakat ada beberapa macam, antara lain : ada yang panik, ada yang siaga, dan ada yang biasa-biasa saja.
Reaksi masyarakat yang biasa-biasa saja menjadi naik level menjadi siaga dan bahkan panik ketika sudah ada pengumuman dari kepala-kepala daerah tentang laporan pasien positif.
Awal pekan pertama social distancing yang dilakukan dengan meliburkan anak sekolah, menjadi pekan yang menghebohkan emak-emak. Bagaimana tidak, anak sekolah mempunyai tugas dan kewajiban yang mengharuskan emak-emak menjadi guru bagi anak-anaknya.
Saya sebagai salah satu emak yang mempunyai anak sekolah, harus pula menjadi guru. Keluhan emak-emak hampir sama, susah menertibkan anak belajar.
Tugas pengasuhan dan pengajaran pada dasarnya tidak pernah lepas dari seorang ibu. Tapi selama ini kita sering abai, atau bahkan lupa dengan hal itu. Semenjak anak masuk sekolah, tugas pengajaran seringkali diserahkan kepada seorang guru. Porsi kita hanya mendampingi anak yang biasanya tidak terlalu banyak, karena lagi-lagi kita sudah mengandalkan guru. Terlebih pengasuhan, sudah banyak kita berikan kepada guru dan asisten kita. Ah…, alangkah egoisnya kita sebagai orang tua, terlebih bagi seorang ibu.
Social distancing juga membuat kita membatasi ruang gerak anak-anak untuk bermain di luar. Sontak saja, rumah menjadi satu-satunya tempat bermain. Semua sudut rumah sudah dijadikan champ-champ untuk bermain. Semua sisi menjadi menjadi semerawut dan riuh ramai suara anak terdengar sepanjang hari, bahkan sampai malam menjelang. Emak-emak yang mungkin dikatakan hobi ngomel menjadi tersalurkan hobinya. Dari rumah yang tak pernah rapi, ribut antara kakak adik dan akan berujung tangis dan akan ditutup dengan omelan. Hahaha…, sungguh dua ribu kata yang memang harus dikeluarkan seorang perempuan sudah tersalurkan dalam pos-posnya. Hari-hari libur ini akan menjadi hari yang sangat penat dan mungkin akan berujung stres.
“ Jangan stres mak!”. Menjadi ibu harus selalu bahagia. Karena mood seisi rumah biasanya tergantung mood seorang ibu, seperti kata pak suami.
Dalam hal inipun kita sering kehilangan, kehilangan fungsi ini. Fungsi kita sebagai ibu, sebagai madrasah bagi anak-anak-anak kita. Ibu mempunyai peran menjalankan roda pendidikan dalam sebuah keluarga, sedangkan ayah sebagai kepala madrasah.
Pekerjaan sebagai seorang ibu yang seolah sudah lumrah yang hanya berkutat memasak, menyiapkan bekal, mengantar anak sekolah, berbelanja ke pasar, menjemput anak, dan menyiapkan pakaian. Hal itu seolah menjadi rutinitas yang memakan banyak waktu. Alhasil, ketika akan melakukan pendampingan belajar seolah tidak prioritas. Ibu sudah penat dengan pekerjaan rumah dan seakan tidak waktu lagi. Bersambung