MEDALI UNTUK AYAH

Hati bergetar, saat lagu kebagsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Bendera merah putih dengan gagah berkibar. Rasa haru menyelimuti ruangan dan tangis pun pecah saat suara dari pengeras dewan juri mempersilakan ku untuk naik di podium sebagai juara 1 pencak silat dunia di Thailand. “Semuanya sudah siap? kita cake out jam 8 pagi ini.” “Sudah coach!” “Periksa kembali jangan sampai ada yang ketinggalan!” “Siap, Coach!” “May, Indonesia bangga padamu, terutama mungkin orang Islam. Karena kamulah atlet Muslimah pertama yang menggunakan hijab dan memenangkan juara pencak silat ini.” “Orang tuamu, adalah orang yang paling beruntung memiliki kamu!” Coach Maryam menepuk bahaku lalu kemudian berlalu meninggalkan kamarku.

Orang tuaku? apakah benar apa yang dikatakan Coach Maryam bahwa mereka akan bangga kepadaku? Merasa beruntung memiliki anak seperti ku? pertanyaan itu terus menggelayut dalam pikiranku selama perjalanan kembali ke Indonesia.

 “Apa-apaan ini? sampah gini dipiara di rumah?” “Ayah, jangan itu mainan kesayangan May!” Ayah seakan tak mendengar permohonanku, dia terus memasukkan mainan dan boneka-boneka hadiah ulang tahun dari teman-temanku ke dalam karung. Setelah dirasa kamar bersih, Ayah melangkah keluar. Tak lama asap pekat merasuk rumah. Ayah membakar semua mainanku. Aku menjerit histeris, Ibu mendekapku erat. “Bu, sudah ayah bilang berkali kali jangan biarkan May main-main seperti wanita!” “Sekali lagi, aku temukan barang-barang alay. Kita cerai!” sambil membanting pintu, ayah keluar entah kemana. Ibu hanya mampu menangis, tak bisa melawan kehendak keras ayah.

Bukan hanya mainanku yang ayah bakar tapi juga baju-baju muslimahku. “Maesaroh, sekarang kamu sudah remaja sudah saatnya kamu menutup aurat!” “Ya, Nek. Tapi Ayah? Nenek juga tahukan bagaimana ayah?” Nenek menunduk nampak raut muka sedih sangat mendalam. Nenek merasa perilaku ayah seperti itu karena kesalahannya dalam mendidik anak. Terlalu keras hingga tak bisa membedakan mana keras dan mana tegas. Nenek terlalu membanggakan ayah sebagai cucu laki-laki dari keturunan Buyut Rd. Karyasasmita pewaris satu-satunya, karena Kakek buyut tidak mewariskan harta dan gelarnya kepada cucu perempuannya.

Dikeluarga nenek betapa terhormatnya menjadi orang tua yang memiliki anak laki-laki. Hingga ayah pun terobsesi memiliki anak laki-laki. Sebenarnya aku adalah anak ketiga. Kakak pertamaku perempuan, meninggal ketika masih bayi. Kakak keduaku, meninggal saat dalam kandungan. Dokter sudah memperingatkan Mama untuk tidak memiliki anak lagi, karena itu akan membahayakan kondisinya. Mama bergeming. Dia ingin memberikan ayah seorang putra. Dan lahirlah aku. Anak yang tak diinginkan.  

Setelah lulus SD, Ayah menyekolahkanku ke sekolah umum. Ayah memasukkan ku les Taekwondo, Pencak silat, Muang-Thai dan lainnya. Tubuhku menolak, aku sering sakit-sakitan. Tapi ayah marah kalau aku izin sehari saja tidak ikut les. Dan dia lebih marah lagi ketika aku meminta izin ayah, untuk berhijab. “Ayah, dengan hijab aku masih bisa mengikuti pencak silat. Hijab adalah kewajiban seorang Muslimah. Dan seorang ayah akan sangat berdosa jika membiarkan anak perempuannya berkeliaran keluar rumah tanpa menutup aurat.” “Oh, jadi kamu sekarang sudah mulai menentang ayah? Mentang-mentang sudah kuliah. Begitu? Anak macam apa kau ini! tak tahu diri!” aku diam.

Tanpa sepengetahuan ayah, setiap keluar rumah aku pakai hijab. Begitu juga ketika mengikuti pertandinga-pertandingan. Jika ayah berhalangan melihat pertandinganku. Maka aku meminta izin kepada panitia untuk memakai hijab. Yang sebenarnya itu tidak dilarang. Dua tahun sudah aku di luar negeri untuk melanjutkan kuliah. Terakhir aku ke Thailand mengikuti kejuaraan pencak silat tingkat dunia. Malam itu, sehari sebelum aku berangkat ke luar negeri. Aku menemukan medali-medali ayah yang tersimpan rapi di garasi. Beberapa surat kabar masa-masa kejayaan ayah, hingga satu hal yang membuat ku terhenyak. Di pertandingan terakhir ayah kalah, saat itu ayah kurang konsentrasi karena mendengar kabar dari rumah bahwa ibu akan segera melahirkanku. Saat ayah lengah, dia dihantam lawannya hingga tak mampu lagi melawan. Dan sampai sekarang mengalami cacat permanen di kakinya. Sejak itu ayah merasa dipermalukan dan menyalahkan ibu dan aku atas kegagalannya meraih kemenangan.

(Side Mama)

“Mas, jemputan sudah datang. Ayo bersiap, nanti terlambat!” Mas Arya bangkit perlahan dari tempat sejudnya. Sejak subuh tadi, dia tidak beranjak dari sajadah. Mukanya kusut tak lepas dari air mata. Sangat kontras dengan dia yang dulu. “Ma, Apakah May akan memaafkanku?” begitulah kira-kira yang dia katakan. Matanya tak lepas dari foro Maesaroh, anak kami. “Dia pasti akan memaafkan, mu mas.” “Kalau tidak, buat apa dia sampai mengirim mobil jemputan segala, agar kita bisa hadir dalam acara wisudanya? Sejak kepergian May kuliah ke luar negeri, Mas Arya berubah. Dia lebih sering bicara sendirian, hingga suatu hari dia terjatuh dari kamar mandi dan dinyatakan stroke oleh dokter.

(Bersambung)

One comment