Medali untuk ayah

Bag. 2 Tamat
Cerita Sebelumnya bisa dibaca disini https://nubarnulisbareng.com/medali-untuk-ayah/?fbclid=IwAR0aYVvZhiWPh2EZq7L810H5z4tEGYQp8f13bhn7zRd39FfMopenrdCqj6s

(Side Mama)

“Mas, jemputan sudah datang. Ayo bersiap, nanti terlambat!” Mas Arya bangkit perlahan dari tempat sujudnya. Sejak subuh tadi, dia tidak beranjak dari sajadah. Mukanya kusut tak lepas dari air mata. Sangat kontras dengan dia yang dulu. “Mah, Apakah May akan memaafkanku?” begitulah kira-kira yang dia katakan. Matanya tak lepas dari foto Maesaroh, anak kami. “Dia pasti akan memaafkan, mu mas.” “Kalau tidak, buat apa dia sampai mengirim mobil jemputan segala, agar kita bisa hadir dalam acara wisudanya?” Sejak kepergian May kuliah ke luar negeri, Mas Arya berubah. Dia lebih sering bicara sendirian, hingga suatu hari dia terjatuh dari kamar mandi dan ini mengakibatkan di tidak lagi dapat bicara. Dokter menyatakan kalau Mas Arya kena Stroke.

“Selamat pagi Ibu, Bapak. Perkenalkan saya Rani, saya ditugaskan Mbak May untuk mejemput Bapak/Ibu. Sebelumnya beliau minta maaf tidak bisa menjemput langsung, berhubung waktu dan beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum wisuda akbar, jadi beliu mengutus saya kesini”. “Tidak apa-apa Mba Rani, kami mengerti kok.” “Panggil saja, saya Rani, Bu”. “Oh. Baiklah Rani. Terima kasih sudah membantu anak kami.” “Sama-sama Bu, Mari silakan!” Rani mempersilakan kami masuk ke mobil. Di dalam sudah ada sopir menunggu.

Sepanjang jalan, Mas Arya nampak gelisah. Aku coba pahami mungkin dia merasa tidak tahu harus berbuat apa setelah sekian lama tidak berjumpa dengan May. Ditambah lagi mengingat dia yang selalu menyakiti May. Kami saling bertatapan, Ku genggam erat tangannya, mencoba meyakinan bahwa dia akan baik-baik saja. May akan memaafkannya. Mas Arya mengangguk.

“Ran, maaf. Bukankah arah Bandara Soeta mestinya belok ke kiri?” “Oh emm itu, emmm … Benar, Bu. Tapi kita akan ke tempat Kost nya May dulu. Ada beberapa barang yang harus diambil disana.” Rani nampak gugup. “May ng kost disini?” “Benar, Bu. Kalau liburan kuliah, beliau sangat ingin pulang ke kampung. Tapi, katanya beliau tidak ingin merepotkan Ibu, makanya dia menyewa rumah kecil di Jakarta.” “Oh” Aku sedikit kecewa dengan pejelasan Rani, mengapa May tidak pulang malah memilih untuk tinggal di Jakarta? Tapi ku coba pahami, dia tak mau pulang karena komunikasi dengan ayahnya yang kurang baik.

Mobil melaju memasuki komplek perumahan. Rumah-rumah indah dan tertata rapi berjajar di sepanjang jalan. Ada sedikit pemandangan yang membuatku bertanya-tanya. Biasanya kalau perumahan di kota itu sepi, apalagi jam-jam kantor seperti ini. Tapi disini tidak. Mobil yang kami tumpangi sesekali harus melambat karena warga nampak berkumpul di depan rumahnya. Ada juga yang berkelompok dan berbincang-bincang sambil menunjuk ke arah yang sama kami menuju. “Sepertinya ada yang meninggal ya, Ran? ini ada bendera kuning dipasang.” Rani hanya mengangguk. Semakin lama kumpulan orang semakin banyak. Dan berada di depan sebuah rumah berwarna biru muda. Mobil yang kami tumpangi melambat. “Ran, apa kita berhenti disini? Apa tetangga May ada yang meninggal? Apa May tahu kita sudah tiba? Dimana dia? Mengapa tidak menjemput kami?”

Tanpa bicara Rani mempersilakan kami turun. Puluhan pasang mata menyambut kedatanganku. Hening. Hati ku berkecamuk. Gusar dan tidak tenang. Apa yang terjadi? Ku coba tenangkan diri dengan berdzikir tak berani berpikir sesuatu yang buruk terjadi. “Rani, tunggu! Kita mau kemana? Apa yang terjadi? Mana May?” teriakku kali ini aku sudah tidak lagi bisa menahan “Bu…” dia malah memelukku dan menangis dengan kencang sambil menunjuk ke satu ruangan.

“May!” Jeritku. Beberapa orang menahan tubuhku untuk tidak memeluk tubuh yang terbaring disana. Jasad anakku Maesaroh.  “Bu, Ibu, sadar Bu” perlahan ku buka mata. “Rani!” Rani membantuku duduk di kursi. Ku cari Mas Arya. Dia semakin terpuruk dengan kesedihannya. Dia tertunduk, diam di depan jasad May. Anak kami. Aku mendekatinya. Kami berangkulan. Tak ada air mata. Hanya jerit doa dan penyesalan atas kesalahan kami yang telah kami buat selama ini.

“Bapak/ Ibu perkenalkan saya Maryam. Merupakan kebahagiaan bagi saya bisa berjumpa dengan orang tua May. May selalu bercerita kalau dia bahagia memiliki orang tua seperti kalian. Tujuan hidup May adalah menjadi anak sholeh dan dapat membahagiakan kedua orang tuanya”

“Beliau seorang atlit yang keras. Teguh pendirian dan memiliki disiplin yang kuat. Walau tahu usianya tidak akan lama lagi. Beliau terus berlatih. Terakhir kami mengikuti kejuaraan pencak silat tingkat dunia di Thailand. Saat itu beliau sudah merasa tidak fit. Namun beliau bersikeras ikut. Dan menjadi juara pertama. Amanat terakhirnya, dia ingin saya menyampaikan medali-medali ini untuk ayahnya.”

Maryam memberikan sebuah kotak berisi medali. Mas Arya nampak semakin terpukul. Duduknya sedikit goyang, menahan gejolak dihatinya. “Terakhir May berkata, jika diizinkan beliau ingin di makamkan dekat kakek buyutnya Rd. Karyasasmita.” 

(Side Ayah)

Komplek pemakaman keluarga Rd. Karyasasmita sangat indah dan tertata rapi, sekilas tidak nampak seperti komplek pemakaman. Di setiap kuburan ada tembok – tembok kecil yang disediakan bagi Jemaah untuk duduk. Di pintu gerbang masuk terdapat bangunan besar. Disini keluarga bisa berkumpul dan beristirahat. Di tengah pemakaman, beridiri musala besar.

Pelataran yang hijau dan semilir angin dari pohon-pohon besar di sekeliling komplek memberikan kesejukan bagi siap saja yang berkunjug kesana. “Ayah ….!” “May, Kau kah itu?” “Iya ayah ini aku.” Saat aku hendak mendekapnya dia menghindar “May, kenapa? Ini ayah, Nak!” “Ayah tidak akan memukulku?” “Tidak May!” “Tapi aku pakai hijab, ayah tidak marah?” “Tidak May, kau cantik sekali dengan hijab itu.” May mendekat dan memelukku erat. “Aku sayang ayah, tidak ada laki-laki yang lebih ku cintai selain Ayah!” “Ayah juga mencintaimu, May” “Maafkan ayah, ya?” “Iya, Ayah. May juga minta maaf suka membuat ayah marah!” lalu di menuntunku menuju sebuah tempat. “Ayah, ini rumah May sekarang. May senang tinggal disini. May juga sudah siapkan kamar buat ayah sama Bunda. Tapi tidak sekarang!” “May, apa maksudnya?” “Ayah harus pulang. Jangan biarkan Bunda bersedih karena menunggu ayah.” “Tapi ayah ingin bersamamu, kita kan baru ketemu May.” “Tidak ayah, ayah harus pulang sekarang. Tempat ayah bukan disini!”

Lalu dia menutup pintunya. “May…. Buka May. May … Ayah ingin bersamamu. Maesaroh!!!!!”

“Mas Arya, Mas, tabahlah!” suara lembut begitu lekat di telingaku. “Bunda?” ku lihat wajah istriku begitu kusut, penuh air mata duduk disampingku. “Tabahlah Mas, relakan May pergi dengan tenang! Sudah satu minggu Mas tak pulang. Sadarlah!” ku dapati tubuhku penuh tanah merah. Astaghfirullahaladzim.