Mbok e…

Mbok e Bagian II

Wajah pilu dengan netra yang sembab tergambar jelas pada rona perempuan usia 30tahunan itu, bu Sinem merasa kehilangan suami tercintanya. Berbeda dengan Nunik dan Alan mereka justru asik bermain dengan anak anak tetangga yang sedang takziah, kedua anak itu belum mengerti arti menjadi yatim selamanya.

“Bersabar yo yu…tawakal, mudah-mudahan setelah ini Alloh berikan kemulyaan bagimu juga anak-anakmu”

Kata-kata itu yang selalu terlontarkan para pentakziah kepada bu Sinem.

Dua tahun berlalu setelah kematian suaminya, kini ganti kondisi bu Sinem yang sering sakit sakitan. Meski demikian beliau masih berusaha keras untuk membesarkan ke lima anaknya tanpa meminta-minta. Doni anak sulung bu Sinem sudah lulus SMU dan kini bekerja disebuah restoran, kerapkali membawa makanan sisa masakkan restoran dan ikut membantu biaya hidup keluarga yatim itu. Hingga di suatu malam.

“Hukk..hukk….tolong mbok e ambilkan minum le…”

“Mboke, sudah malam, gak usah jahit lagi istirahat aja dulu. Besok baru sambung lagi”.

“Tanggung nak, besok pagi sudah mau diambil sama yang punya, lagian mboke butuh duit buat bayar sekolah adikmu besok”.

“Tapi kondisi mboke gak bisa terlalu lelah, nanti malah drop lagi lho mbok…”

Sesekali terdengar batuk Bu Sinem semakin keras, Doni gak tega melihat kondisi ibunya seperti itu. Dipaksa ya ibunya berbaring di kasur, dipijitin kaki dan tangan Bu Sinem. Tapi tiba-tiba ibunya muntah darah. Darah segar keluar dari mulut ibunya, Doni menjadi panik.

“Astaghfirullah, mboke kenapa? Tunggu saya minta tolong pak Karta biar mboke dibawa ke rumah sakit”.

“Sudah gak usah le.. mbok hanya mau istirahat saja, sebentar lagi sudah baikkan, mbok hanya mau berpesan saja. Buat kamu, jaga adik-adikmu ya le, jangan sampai mereka putus sekolah”.

“InsyaAlloh, mbok. Doni anak laki-laki tertua sudah selayaknya sebagai pengganti bapak bagi adik-adik”.

“Alhamdulillah, lega aku mendengarnya le…”

Bu Sinem terbujur lunglai diatas dipan kayu sederhana, perlahan-lahan beliau menyendekapkan kedua tangannya, sambil bersyahadat lirih, netra beningnya tertutup perlahan, seperti ada keikhlasan untuk segera menghadap sang pencipta. Doni tersentak, dan menyadari mboke telah berpulang.

Raut kesedihan diwajahnya remaja belia itu, dibangunkan semua adiknya, semuanya menangis meratapi kepergian ibunya. Hari itu semuanya menjadi yatim piatu.

Selesai.

LellyHapsari/RumahMedia