Mbah Putri

Kembali Zahra harus menjalani terapinya ke Surabaya di RS. dr. Soetomo – Karang Menjangan, karena jarak tempuh yang lumayan jauh bila dari ngawi maka harus bermalam disana, belum lagi bila ada pemeriksaan lanjutan.

Malam ini kami bermalam di rumah Mba putri, karena ada aqiqah anakku yang kedua, kami kumpul semuanya, malam itu zahra menangis terus bolak balik bundanya mencoba untuk menenangkannya. Aku berfikir apa dia haus dan lapar ya…?

Akhirnya aku menghampirinya, “kenapa zahra laparkah?, atau haus??”. “Mau nenen sama bude?.”  Saat itu anakku yang kedua baru baru seminggu umurnya, aku minta izin dengan bundanya “boleh ga di nenenin?” “Boleh gapapa”. Sahut bunda.

Zahra adalah anak dari adik suamiku, akhirnya  ku susui Zahra, karena baru habis melahirkan sehingga produksi air susuku alhamdulillah banyak. Terlihat sekali ia memang haus, saat menyusu denganku banyak yang ngeledekin, “ih nenen sama siapa tuh…” “duh… Lahab banget yang lagi nenen”. Dan tak lama kemudian tidak 10 menit Zahra sudah tertidur. Ini tentang Zahra di waktu kecil

Ketika Zahra bermain ke rumah kami maka ayah dan bundanya tidak pernah bawa susu, “ngapain bawa susu disini ada pabriknya” hehe…. Tapi takdir berkata lain, saat  Zahra kelas 2 SD, Bundanya menghadap Illahi Rabbi, saat itu Zahra sudah memiliki 2 orang adik dan yang terkecil adik lelakinya yang baru berusia 3 tahun.

Mulai saat itu Zahra menjadi tanggung jawab mbah putri. Saat mba putri pulang kampung ke ngawi Zahra ikut bersama adiknya Kristal. Saat Kelas 1 SD, Zahra di ketahui memiliki penyakit “LUPUS”, penyakit yang di dapatkan dari almarhumah bundanya. Bundanya pun meninggal karena penyakit Lupus.

Mbah Putrilah yang memilih tanggung jawab untuk mengurus berobatnya Zahra, yang kadang harus bolak balik ke RS. Cipto Mangun Kusumo, mengurus dua cucu dan juga harus mengurus pengobatannya bukanlah hal yang mudah tentunya untuk mbah Putri karena ayah Zahra di Jakarta harus bekerja.

Maka ketika harus berobat ke Jakarta, ke Surabaya dan Malang,  mbah putri dan mbah Kakung berbagi tugas, mbah kakung  harus mengasuh Kristal sendiri, dan itu dilakukan oleh bapak dan ibu mertuaku berdua. Ucapan yang selalu keluar dari mulut mbah Putri adalah untuk Zahra,  ngantar Zahra, obat Zahra pokoknya semua tentang Zahra.

Tidak pernah sedikitpun terlontar keluhan atau perasaan berat tentang keadaan Zahra, secara perlahan yang semula muncul bercak hitam kemerahan diwajah bila terkena panas, seiring berjalannya waktu, seluruh tubuh zahra memiliki bercak hitam.

Mbah putri tetap semangat mengantar Zahra berobat bila ada yang memberitahukan ada vitamin atau obat tradisional pasti akan dibelinya, wajah mbah putri akan bangga saat bercerita bila ada perubahan di tubuh zahra. Sosok ibu yang tidak didapatkan dari sang bunda di gantikan perannya oleh mbah putri.

Waktu terus berjalan selesailah Zahra kuliah D3, dan kembali kondisi Zahra menurun kadang tau – tau sakit seluruh tubuhnya, sehingga mbah putri tidak mengizinkan Zahra untuk bekerja khawatir kondisi tubuhnya ga kuat.

22 tahun usia Zahra saat itu, Zahra tidak bisa melakukan kegiatan yang berat, pekerjaan rumah tanggapun hampir tidak bisa dilakukan bila terkait dengan kekuatan fisik, saat itu Zahra di kabarkan sudah seminggu sakit dan sudah bolak balik masuk rumah sakit, ketika sakit lagi Zahra sudah tidak mau kerumah sakit.

Kabar duka pun kami terima, Zahra di panggil oleh Sang Pemilik Kehidupan di usia 23 tahun. Selama itulah tanggung jawab yang di jalani mbah Putri, tanggung jawab yang tidak pernah disesali dan dikeluhkan, Mbah Putri melepas kepergian Zahra dengan ikhlas, karena tanggung jawab jawab mbah putri telah tertunaikan sempurna untuk Zahra.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber Gambar : Foto dari whattapp