Matahariku

Aku mengiringinya dari tadi. Menunggu dia menyerah dan berhenti. Namun belum dilakukannya. Ini adalah putaran kedua kami. Keringatnya sudah mulai keluar, dan nafasnya juga mulai pendek, ngos-ngosan.

Kami masih berlari, dan putaran kedua sudah selesai. Sudah cukup banyak orang-orang memulai aktivitas paginya di lapangan ini. Sebentar lagi, biasanya jam delapan, ada senam jantung sehat. Biasanya dia mengikuti, dan aku pasti mendampingi.

Huuuft. Akhirnya dia berhenti.

“Abah, kita duduk di sana yuuuk.” Ia melihatku, menunjuk pinggir lapangan yang menyediakan ayunan, melangkah ke sana, dan aku kembali mengikuti.

Pastilah ia akan bermain dengan ayunan, pikirku sembari tersenyum. Selalu ada jiwa kanak-kanak yang hidup dalam dirinya, dan aku memuja itu.

Benar bukan, ia memilih duduk di ayunan kedua dari pinggir, dan berarti aku harus duduk di ayunan sebelahnya. Bersamanya selama ini, dengan seluruh keterbukaan yang dimilikinya, memudahkan bagiku untuk memahami semua isyarat yang diberikannya.

Suasana hening, sesekali terdengar derit gelang besi ayunan. Mungkin kami mengerakkannya terlalu kuat.

“Abah. Lihat…” tangannya menunjuk langit dan dia tengadah, aku menigikutinya. “Indah ya.” Sambungnya. Aku hanya mengangguk mengiyakannya.

“Abah, tahu tidak kenapa cahaya matahari menjadikan warna langit berbeda-beda?”

Aku memandanginya sembari tersenyum.

“Melihat senyum Abah, sepertinya aku lebih tahu. Sebab matahari berubah-ubah posisinya. Kadang ia dekat dengan bumi, kadang jauh. Spektrum cahaya yang dihasilkannya itu berupa gelombang, ada yang panjang dan ada yang pendek. Langit memiliki warna yang mirip dan bisa jadi sama saat matahari terbit dan matahari tenggelam. Itu karena jaraknya sama dekatnya dengan bumi.”

Aku selalu menikmati pembicaraan dengannya. Celotehnya bagiku sama seperti cahaya matahari. Mewarnai hari-hari yang kujalani. Berpedar dengan berbagai gradasi.
Pagi ini saat kami begitu dekat, ia memancarkan cahaya violet yang menyemangati. Hangat dan bersemangat. Menulariku dengan rasa optimis untuk menjalani hari.

“Abaaaah..!!” panggilan itu mengembalikan pikiranku. Kualihkan pandanganku dari cahaya matahari yang menyapa daun-daun pohon di sepanjang pinggir lapangan.

“Pagi-pagi kok melamun. Abah lapar ya? Kita pulang saja kalau begitu.” Ia berdiri dan aku mengikutinya.

“Atau kita sarapan di sana, Abah mau?” ia menunjuk area food court yang berada di sisi lain lapangan. Berseberangan dengan posisi kami. Aku mengangguk. Kami beriringan.

“Abah tahu tidak, kalau matahari sesungguhnya berwarna putih?” ia kembali membuka cerita.
“Cahayanya tertangkap oleh mata kita dengan berbagai spektrum warna. Saat matahari jauh dari kita, saat itulah kita melihat langit menjadi biru. Sebab biru memiliki gelombang yang lebih pendek dibandingkan merah, kuning atau violet dan jingga. Makanya senja selalu dalam gradasi kuning, lembayung dan merah, sebab matahari dekat dengan bumi dan mereka punya gelombang yang lebih tinggi.”

Aku menyerap semua ceritanya. Kedekatan kami juga melahirkan warna-warna dengan gradasi merah itu. Entah ia merah, yang berubah menjadi ungu, atau kemudian menjadi violet, dan bahkan kuning, bagiku semua warna itu adalah ikatanku dengannya.

Ia adalah matahariku. Cahaya hidupku. Menyemangatiku saat aku terpuruk, dan sering terpuruk dengan seluruh kondisiku. Merahnya memberiku gairah untuk membuka hari baru, ungunya membuatku sering merenung dikedalaman pikiran, bersyukur dia dikirim untukku. Kuningnya adalah keceriaan dan kebahagiaanku, pun jika benar matahari berwarna putih, maka ia adalah ketulusan yang tanpa pamrih. Keberadaannya diorbitku sungguh-sungguh menggerakkan duniaku.

Dia dengan telaten mengajariku bahasa isyarat, hal yang membuatku terhubung dengan duniaku yang sepi. Ia juga yang mendorongku untuk berani mengikuti prosedur implant koklea, sehingga akhirnya mengenali berbagai suara di duniaku yang sunyi. Lebih dari itu ia bersedia menghabiskan hidupnya bersama aku yang tak sempurna. Sebuah karunia yang lebih dari sempurna.

“Abaaaah. Hayuuuk. Dari tadi melamun saja.” Suaranya mengembalikan pikiranku yang mengembara. Kupandangi wajahnya dengan senyuman, selamanya ia akan kucinta.

Nukis Bareng/ Maulina Fahmilita