MASIH TAKUT HANTU

Sumber Foto : Google

Aku ragu untuk kembali ke dapur.

“Cepat buatkan, Tin! Ini adek sudah lapar.” Kata nenek.

“Hmmm… gimana niih?” Tanyaku pada Neng. “Kita lihat saja yuk ke kamar.” Ajakku memberanikan diri.

“Iya, lihat dikamar ada siapa. Jangan mengada-ada!” Seru nenek.

“Gini aja, aku lihat dari luar lewat jendela, Bibi lihat dari dalam ya, buka gordennya.” Tawar Neng. Aahh, masa begitu kalau dari luar kan gampang larinya. Kalau aku dari dalam, terus hantunya ngejar. Ya ketangkap kan sereeeeeemmm. Meski begitu aku menerima tawaran Neng.

“Baiklah,” kataku memberanikan diri.

Sementara Neng keluar melihat keadaan di dalam kamar. Untungnya kamar tante bisa dilihat dari luar lewat jendela di belakang rumah.

Aku kembali ke dapur memperhatikan lagi keadaan kamar. Aah… sudah tidak ada. Tak berani membuka gorden. Akhirnya kutuangkan kembali air hangat ke dalam botol susu yang kutaruh diatas meja dapur. Sesekali melihat ke arah pintu kamar.

“Aaaaaaaaahhhh,,,” aku berteriak ketakutan. Bayangan itu menampakkan diri lagi, seperti ‘budak hideung’ penampakan anak kecil yang berkulit hitam legam seluruh tubunya, kepalanya botak, sangat jelas bolak balik sebanyak dua kali di dalam kamar dalam waktu kurang dari 30 detik.

Aku langsung lari ke ruang depan. “Kenapa?” Tanya nenek kaget.

Kemudian Neng datang menghampiri kami. “Dikamar tidak ada siapa-siapa. Tadi sudah kulihat dari luar.”

“Jadi bener, itu hantuu.” Kenapa harus menampakkan diri padaku.

“Mana susunya?” Nenek tak sabar.

“Tumpah, Nek.”

Nenek kemudian menuju kamar dan membukakan gorden. “Hantu, hantu. Tuh lihat siapa dikamar.” Nenek kesal padaku.

Tak lama kemudian Paman keluar dari kamar dan tersenyum padaku. “Kenapa, Tin?” Wajahnya tenang. “Ini sedang membereskan baju yang sudah disetrika ke dalam lemari.” Jelas paman kepada nenek.

Hoaaaahhh, dikira hantu beneran. Ternyata paman. Biasanya kan jam segini paman masih kerja. Akan pulang setelah dzuhur. Tante juga kerja. Nyengir malu.

“Matakna, tong sok borangan. Jadi we cilaka ku pamolah sorangan.” Makanya, Jangan jadi penakut. Jadi celaka oleh kelakuan sendiri. Nenek
Menegur. “Susunya malah tumpah kan jadinya.”

“Iya, maaf.” Aku memonyongkan bibir.

Hantu ooh hantu, ternyata itu bukan kamu, Tu.