Masih Ada

Kepasar adalah kegiatan yang tidak bisa di pisahkan dari kaum ibu, sehingga banyak sekali hal menarik yang terjadi dipasar.

Allah berikan kita kesempatan untuk bersosialisasi dipasar, pasar adalah tempat kita untuk bisa berkaca bahwa kita memang benar – benar makhluk sosial, makhluk yang saling membutuhkan.

Sering bertemu dan  menjadi langganan di pasar sudah menjadi hal yang biasa untuk kaum ibu,  sehingga hanya karena sering berbelanja di satu tempat dagangan  maka kedekatan antara penjual dan pembeli terjadi.

Sepertinya hal ini juga terjadi padaku,  pagi kemarin aku pergi kepasar, tentunya sudah menyiapkan daftar belanja, apa saja yang akan di beli untuk persiapan  menjelang ramadhan, sehingga ada beberapa yang menjadi tambahan daftar belanjaanku.

Ketika semua kebutuhan sayur mayur, ayam dan kawan kawannya sudah di dapat, sengaja menyisakan uang  untuk beli ikan tenggiri, bakal  cemilan bukaan puasa keluarga, menjadi olahan mpek pek dan tekwan,  berjalanlah aku ke kios ikan langganan yang selalu ada ikan tenggiri di sana.

Ketika sampai dikios ikan, aku tertegun melihat segerombolan rajungan yang seksi, sambil tangannya melambai memanggilku, ” ayoo… Beli aku” hehehe

“Hmmm… waduh… Uangnya hanya cukup untuk beli ikan tenggiri” tanpa sadar bibirku bergerak dan mengeluarkan suara  yang seharusnya hanya di ucapkan dalam hati.

Ya…. Padahal anakku dari minggu kemarin sudah bertanya “emang di pasar ga ada rajungan atau kepiting ya bu?? Imel pengen banget…” ya kalau di ingat lagi hampir setahun yang lalu terakhir makan  kepiting bersama,  uangnya pas pasan ucapku menegaskan.

Berapa emang sekilonya mas….?” “Tujuh puluh ribu bude” ucap si mas penjual. Sambil kupilih ikan tenggiri, “ikan tenggiri aja ya mas… ” ucapku, ” rajungannya ga mau…? Tanya si mas tukang ikan. ” ga jawabku sambil tersenyum, ini tuh uangnya tinggal untuk ikan tenggiri sahutku sambil menunjukan uang.

Diambilnya rajungan tersebut, “sekilo isi tiga nih bude…” Kata istri si mas penjual ikan. Langsung ditimbang dan di masukkan bersamaan dengan ikan tenggiri yang aku beli.

“Eh… Ga… mbak  uangnya ga cukup mbak”  jawabku terkaget kaget, ” udah ga papa kayak sama siapa aja bude” sahutnya sambil ngotot diiringi senyum yang menggodaku.

“Biarin ga aku bayar loh” selorohku pada mereka ” ya ga papa bude ga di bayar juga.” jawab si mbak  padaku.  “Oh ya sudah, perlu no telepon ku???” tanya ku pada mereka. Mereka hanya cengengesan berdua.

Ya Allah yang seperti ini masih ada, rasa seperti ini masih ada, kepercayaan seperti masih ada. Terima kasih ya Allah, ketika hal kebaikan masih ada di bumi ini, maka kami semakin yakin bahwa masih banyak disekitar kita orang orang baik yang tidak pernah memandang apa – apa.

Kepercayaan, keinginan untuk menjadi lebih dekat lagi, bukan sebatas sebagai penjual dan pembeli tetapi sebagai mahkluk manusia yang menyuburkan nilai – nilai silaturahiim, Allahlah yang mengikat semua rasa itu.

Sampai di rumah si bungsu senang sekali melihat ibunya beli apa yang di inginkannya. Sambil berseloroh ku katakan ” ibu ngutang ya…. Inget nih… Nanti kalau umur ibu ga panjang bayar ya hutang ibu, di tempat kita biasa beli ikan ya de…”

Setelah rajungan selesai diolah dan di nikmati bungsuku berkata ” kayaknya yang bikin enak rajungannya karena belum bayar deh bu… Hehehe”

Nubarnulisbareng/Nurfahmimoechtar