Masa Sih Anak Bisa Cemburu?

Masa Sih Anak Bisa Cemburu?

Anak adalah manusia seperti orang tuanya. Sebagaimana manusia lainnya, secara fitrah mereka memiliki perasaan cemburu dan mencari perhatian. Sekarang kita akan membahas penyebab rasa cemburu itu muncul dan cara mengatasinya.

Perasaan cemburu akan muncul jika ada “saingan” di sekelilingnya. Rasa cemburu sering dikaitkan dengan perasaan dikucilkan, disingkirkan dan merasa sendiri. Selanjutnya timbul perilaku mencari perhatian. Tindakan yang sering muncul adalah tantrum, mogok dan memisahkan diri.

Nah, apa atau siapa saja saingannya yang membuatnya cemburu. Berikut ini penjelasannya:

1. Ayah

Hal ini terjadi jika anak mempunyai kelekatan lebih kepada ibunya dan sedikit kedekatan kepada Ayah. Saat Ayah hadir di sisi Ibu, maka anak merasa disingkirkan. Apalagi jika tak ada orang lain yang bisa mendampingi anak ketika orang tuanya berdua.

Aksi mereka dalam mencari perhatian bisa diatasi dengan proses yang panjang. Memahamkan kepada anak bahwa Ayah bukan saingan yang mesti diwaspadai. Ayah adalah teman yang menyenangkan.

Kondisi ini juga perlu kerja sama. Mendekatkan Ayah dengan anak sesering mungkin. Jika Ayah memerlukan Ibu, libatkan anak dalam prosesnya. Kalaupun harus berdua, lakukan ketika anak terlelap atau libatkan orang lain untuk mendampingi.

Kebalikan keadaan ini adalah cemburu Ibu pada anak ketika dekat kepada Ayah. Lucu bukan? Nyata dan sering terjadi. Kalau semua memahami posisi dan tugas masing-masing dalam pendidikan serta pengasuhan, harusnya tidak menjadi masalah besar.

2. Saudara

Persaingan untuk mendapatkan perhatian antarsaudara itu pelik. Terutama ketika jumlah saudaranya banyak dan semua merasa butuh perhatian. Ketika sakit, ada pekerjaan rumah, dan saat ingin berbagi cerita.

Kisah yang tertulis dalam Alquran mengenai persaingan antaranak adalah kisah Nabi Yaqub, Yusuf dan saudara-saudaranya. Rasa cemburu kepada Yusuf dan merasa Ayah tidak adil dalam memperlakukan, menimbulkan aksi menakutkan. Mereka merencanakan pembunuhan Yusuf. Alhamdulillah, Allah menjaga Yusuf.

Saudara Yusuf hanya memasukkan Yusuf ke dalam sumur tua. Lalu mengelabui Yaqub dengan membuat sandiwara bahwa Yusuf telah meninggal dimakan binatang buas.

Ayah Yaqub tidak begitu saja percaya, akan tetapi diam saja. Beliau masih meyakini kalau Yusuf masih hidup, mendoakan dan terus menangisinya. Hingga penglihatan beliau buta.

Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut. Ayah Yaqub tidak menghakimi anak-anaknya. Beliau diam saja dan menyerahkan Yusuf kepada Allah.

Orang tua perlu tenang ketika menghadapi persaingan antaranak. Apalagi manakala anak masih kecil. Memperlakukan mereka seadil mungkin dan memahamkan bahwa orang tua sudah berusaha berbuat sama baik kepada semua anak. Kemudian melibatkan perasaan bersaudara dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak lupa untuk meminta bantuan Allah dalam pendidikan. Insya Allah dimudahkan.

3. Pekerjaan

Anak sering merasa terabaikan ketika orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Perlu menyeimbangkan perhatian kepada anak walaupun sibuk. Temani anak sebisa dan sesering mungkin. Jika membutuhkan bantuan, bisa meminta kepada pasangan atau keluarga untuk menemani anak.

Mencari pendamping anak yang sesuai dengan pola pendidikan orang tua juga perlu diperhatikan. Sehingga anak tidak merasa dikesampingkan dan dibuang. Pendamping yang mampu memberikan pemahaman bahwa orang tuanya sedang berjuang dan berkerja untuk anaknya.

4. Hobi

Setiap manusia tentu memiliki kesenangan atau hobi di sela waktunya. Masa untuk menyegarkan ruh, pikiran dan jasad setelah berjibaku dengan kerasnya kehidupan. Sayang, anak terlewati dalam menikmatinya.

Coba ajak anak ketika mengambil rehat dalam hobi. Anak tak selalu menjadi pengganggu kesenangan. Bisa jadi, ketika dilakukan bersama, ikatan orang tua dengan anak akan lebih rekat. Bahkan dari hobi yang sama akan menghasilkan. Semisal memasak, menulis, atau bisnis.

5. Tamu atau keluarga besar

Tamu atau keluarga baru yang hadir sering membuat anak tersisih perhatiannya. Terutama jika orang tua sedang berusaha menghormati tamu dengan pelayanan lebih.

Aksi cari perhatian dengan membuat “gara-gara” membuat kesal orang tua. Hal itu tak akan terjadi kalau anak diajak kerja sama melayani tamu atau keluarga yang datang ke rumah. Memberi pengertian bahwa menghormati tamu dengan pelayanan itu berbuah pahala.

Mengajak dan memangku anak ketika berbicara dengan tamu akan menimbulkan rasa dihargai. Sesekali beri perhatian pada anak. Dia tidak merasa dipinggirkan.

Jika tamu perlu berbicara empat mata dan pembicaraannya serius, mintalah bantuan orang lain untuk menemani anak.

6. Ibadah

Seringkali ibadah menjadi terburu-buru dan tidak khusyuk ketika anak terjaga. Mengajak anak beribadah adalah pilihan. Memang akan sedikit terlambat, akan tetapi lebih tenang.

Menggendong anak ketika shalat atau memangkunya saat mengaji Alquran merupakan upaya mendekatkan dengan ibadah. Semoga nanti menjadi generasi pecinta ibadah.

Demikian pemicu kecemburuan anak dan solusi yang bisa dilakukan. Bijak menghadapi tingkah polah anak akan mendewasakan mereka nantinya.

CitraDewi

230320