MAS GABUS DAN KANG LELE

MAS GABUS DAN KANG LELE
(Ida Saidah)

Halo semua, perkenalkan namaku Gabus. Aku berasal dari keluarga Channidae. Sebagai anggota kerajaan Animalia, aku mempunyai nama yang indah, nama yang membumi, Channa striata. Keren bukan? Tapi sayang di tempat lain ada yang memanggilku dengan sebutan bogo, dolak, bocek, bayong, atau kutuk. Apa pun mereka memanggil, aku tidak ambil pusing, “Enjoy aja lagi, santuy.”

Aku adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Bentuk tubuhku mirip ikan lele yang penuh lendir. Bedanya aku bersisik sementara lele tubuhnya mulus, licin tanpa sisik yang di bagian kepalanya berpatil dan berkumis.

Mereka yang mengenalku lebih dekat, memberi gelar Si Predator yang hidup di air tawar. Wuih serem. Aku dapat bertahan hidup dengan memangsa sesama ikan lainnya. Tentu yang kumangsa adalah mereka hidup berdampingan denganku. Sebagai predator, di bagian mulutku tumbuh gigi yang besar dan tajam. Gigi itu berfungsi untuk mencengkram yang sudah kumangsa agar tidak lepas dan dapat sampai ke lambungku tercerna dengan baik.

Seperti jenis ikan lainnya, ada yang hidup di alam bebas seperti di sungai, danau atau rawa sesuka hati, ada juga yang dipelihara oleh seseorang. Nah aku izin Allah Subhanahu Wataala dipelihara oleh keluarga Mak. “Semoga Allah meridoi mak.”

Aku ditempatkan di sebuah apartemen ukuran enam kali lima meter persegi, tepatnya sebuah kolam lumpur. Aku suka, aku sungguh suka. Aku dirawat bersama ikan lele yang berbodi besar sekali.

Saat pertama bertemu, nyemplung ke apartemen itu, tentu aku merasa takut. Penyebabnya ukuran tubuhku hanya seperempat ukuran lele dewasa. Aku mepet-mepet ke pinggir, menundukkan pandangan ketika terlihat ikan lele akan mendekat, jika perlu aku cepat-cepat menyusup ke dasar lumpur. Aman.

Lama-kelamaan aku terbiasa tinggal seapartemen dengan lele. Aku tidak perlu merasa ketakutan, toh ia tidak pernah mengganggu kehidupan pribadiku. komunikasi pun semakin lancar. Hidup seiya sekata, bercengkrama. Berjemur bersama saat mentari menampakkan sinar terindahnya. Tubuhku pun terasa hangat.

Oo ya, hampir lupa kuceritakan. Pertama kali memasuki apartemen hadiah dari mak, aku tidak sendirian melainkan bersama kekasih halalku. Bahagianya aku waktu itu. Kami langsung bisa berbulan madu sambil belajar menyesuaikan diri. Semua baik-baik saja, hingga tidak terasa, sekarang kami sudah beranak-pinak.

Anak-anak kami berwarna jingga merah bergaris hitam. Mereka biasanya berenang dalam suatu kelompok dan bergerak mencari makan. Istriku akan menjaga mereka dengan penuh tanggung jawab dari berbagai gangguan. Ia siap meradang dan menerjang para pengganggu. Jadi jangan coba-coba ganggu anak kami ya.

Ketika jumlah kami sudah tambah banyak, mak sangat senang. Ia sering mengintip kami saat sedang berjemur, memperhatikan gerombolan anak-anak kami bergerak dengan lincah mengadakan manuper. Kadang-kadang mak mengajak para cucunya yang datang dari kota saat akhir pekan. Wuih riuhnya suara cucu mak.

Cucu mak itu ada yang suka usil, melemparkan sampah dan bekas botol minuman ke apartemen kami. Mak pun menegur, “Hai dilihat saja, tak usah dilemparin, kasihan rumah Mas Gabus dan Kang Lele jadi kotor.”

Sontak cucu mak protes serempak, “Kok Mas Gabus dan Kang Lele? Memang Gabus berasal dari suku Jawa dan Lele dari suku Sunda?”

Mak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal memikirkan jawaban yang dianggap tepat untuk para cucunya, lalu mgangguk, mengiyakan pertanyaan yang diajukan para cucunya, “Iya benar.”

Mak menjawab singkat dengan penekanan kata yang meyakinkan. Mereka berhenti memperhatikan dan melempari kami, lantas lebih mendekat ke mak, meminta penjelasan lebih lanjut tentang sebutan Mas dan Kang, “Benar mak? Ndak bohongkan?” Mereka ragu.

“Ya iya, gus itu kan sebutan untuk anak laki-laki orang jawa, gabus sama kan bunyi akhirnya us mirip lafal Gus Mus dan Gus lainnya, makanya mak sebut Mas Gabus. La itu lele kalau di Sunda kan ada nama Dede, Mimi, Yaya, Cece dengan mengulang suku kata pertama, tidak salah kan, maka dipanggil Kang Lele. Lagian suka-suka mak lah, itu gabus sama lele, mak yang punya, yang melihara.”

“Ha ha ha, mak ngarang, gak lucu, ngaco, dodol, bohong!” Kata-kata ini yang kompak terdengar olehku.

Para cucu mak menjauh dari apatemen kolam lumpur. Kami senang-senang saja, kegiatan berjemur pun menjadi lebih mengesankan tanpa merasa terganggu. Rupanya itu merupakan tak-tik Mak untuk mengalihkan perhatian para cucunya yang usil mengotori apartemen kami. Mak berhasil. Kami suka, sungguh suka.

Terima kasih mak telah menyayangi kami dengan sepenuh hati. Mak hanya suka memelihara, tak pernah seekor pun di antara kami masuk penggorengan walau jumlahnya sudah bertambah banyak dan besar-besar. Alhamdulillah ya Allah kami dipertemukan dengan orang baik seperti mak.

Nubar

NulisBareng

Level2

BerkreasiLewatAksara

menulismengabadikankebaikan

Mingguke1Rabu4112020

RNB085Jabar

rumahmediagrup