Malu Berutang

Malu Berutang

Utang menjadikan pemiliknya merasa hina di siang hari dan gelisah kala malam. Malu bertemu orang, apalagi dengan orang yang diutangi. Inilah alasan pengutang seperti melarikan diri jika bertemu. Lebih malu lagi saat belum mampu membayar padahal jatuh tempo. Kehinaan yang ingin segera disudahi.

Gelisah, susah terlelap memikirkan utang yang ditanggung. Sungguh beban itu memaksa mata ingin tetap terbuka dan mencari cara untuk melunasinya. Apakah ada kegelisahan lain selain dosa? Ini utang yang menggelisahkan.

Persoalan menjadi lebih rumit manakala mengambil pinjaman/utang kepada bank. Bunga berbunga. Uang seakan mencekik sebelum diterima. Panasnya menggelisahkan. Kebingungan tak berkesudahan. Mengira persoalan akan selesai, akan tetapi semakin terperosok tak berdaya.

Malu yang memilin kemanusiaan. Manusia saling menjerat, hingga uratnya tegang. Dosa siap menerkam. Duhai diri, apa yang terjadi?

Utang merupakan sesuatu yang dihalalkan. Satu pintu rezeki. Bisa menjadi modal usaha, berupa dana ataupun barang. Kalau ini menjadi pinjaman lunak, tidak membebani, sebenarnya menjadi tali silaturrahmi.

Tali silaturrahmi pun bisa terputus karena utang. Persaudaraan pecah karena uang. Semua memaksakan keinginan. Pemberi utang memaksa segera uang kembali. Peminjam tak meminta maaf karena keterlambatan peminjaman, malah sembunyi dan tak mau komunikasi. Persoalan yang rumit.

Persoalan rumit ini sudah Allah berikan solusi. Doa adalah senjata orang mukmin. Rasulullah menyontohkan doa agar terhindar dari utang.

Telah diceritakan dari Zuhair bin Harb, telah diceritakan dari Jarir, dari Suhail, ia berkata, “Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami bila salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklah berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan,

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.” (HR. Muslim no. 2713)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa maksud utang dalam hadits tersebut adalah kewajiban pada Allah Ta’ala dan kewajiban terhadap hamba seluruhnya, intinya mencakup segala macam kewajiban.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 33).

Semoga kita terhindar dari utang, terutama riba.

#Citraamatullah

#Utang

#Malu

#Muamalah