MAAFKAN AKU TUHAN

Hai…
Sudah dengar bukan adzan berkumandang? Memanggil mesra dirimu untuk segera menghampiri rumah Tuhan. Untuk segera bergegas meraup berkah dari-Nya.

Hai…
Mengapa kau biarkan waktu berlalu? Padahal belum juga kau bersiap, belum juga kau menyegerakan dirimu? Mengapa?

Apa karena kau pikir masih banyak waktumu?
Sungguh, angin saja tertawa mendengar suara batin mu. Daun dan senja yang saling menyapa saja tahu, kapan waktunya tiba.

Sedangkan kau?

Jangan lantas kau masih berleha-leha, mengesampingkan kewajibanmu, dengan alasan lelah bekerja. Lelah setelah seharian mencari nafkah.

Lalu mana syukur darimu seharian ini, mana tanda cintamu untuk-Nya?

Sehari ini di beri nafas yang lancar, hari yang bahagia, bisa tertawa dan di mampu kan dalam segala hal, berkat siapa?

Jangan kau kira Dia tak ada andilnya, jangan kau pikir hanya karena bisamu, dan usahamu saja.

Apa kau tahu? Dia yang begitu mencintaimu, tapi kau balas dengan keangkuhan mu, kau balas dengan congkak dan sombongnya dirimu.

Hai…
Dengar itu, iqamah terdengar, pertanda sholat berjamaah di rumah Tuhan akan segera di mulai.

Orang-orang sibuk berbondong-bondong untuk segera, tapi kau? Masih setia dengan kata “nanti”.

Kau masih di sibukkan dengan gadget, masih di sibukkan membalas chatting di WhatsApp.
Masih asyik melihat beranda di Facebook, lalu beralih ke Instagram. Padahal hanya melihat berita seliweran yang tak begitu penting.

Belum lagi makin asyik melihat aplikasi joget-joget. Ya ampun.

Padahal itu semua bisa kau lakukan setelah nya, setelah kau bersujud syukur kepada-Nya.

Setelah kau melampiaskan segala keluh kesah, unek-unek dan cerita tentang bagaimana syukur mu hari ini.

Setelah kau gelar sajadah panjangmu, melangit kan doa-doa terdalammu.
Jangan ada penyesalan nantinya, jangan ada kata “ beri aku kesempatan lagi Tuhan!”
Padahal Dia sudah banyak memberimu.
Itulah kau.

Kau yang kau maksud aku.
Maafkan aku Tuhan.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu