Maafkan Aku, SARAH

Namaku Nur, aku tidak bekerja tapi kesibukanku setiap harinya adalah mengajar mengaji anak-anak di kampungku. Mungkin lebih tepatnya mengajar iqro’. Jika mereka sudah mahir, biasanya akan melanjutkan ke sekolah madrasah.

Aku mengajar sudah cukup lama. Salah satu muridku, Sarah, bahkan sudah menikah. Sarah tinggal tidak jauh dari rumahku. Kebiasaannya setiap Idul Fitri selalu berkunjung ke rumahku. Sarah sudah cukup lama menikah namun sepertinya belum juga dikaruniai momongan. Percakapan kami setiap Idul Fitri selalu sama.

“Mana nih, kok belum kelihatan juga?” tanyaku sambil mengelus perut Sarah.

“Minta doanya saja Mpok,” jawab Sarah sambil sedikit menghindar. Sepertinya dia agak risih perutnya dielus.

“Jangan lama-lama dong, hahaha,” kataku lagi sambil tertawa. Ku lihat Sarah hanya tersenyum kecut.

Tahun ini, tahun kelima aksiku mengelus perut Sarah. Entah mengapa, rasanya penasaran saja kenapa Sarah sudah lama menikah tapi kok belum hamil juga. Di luar dugaanku tampak mata Sarah berkilat penuh ketidaksukaan. Wajahnya menunjukan kemarahan. Saat itu, seperti yang sudah-sudah, aku hanya tertawa saja menanggapi reaksi Sarah. Begitu pula dengan orang-orang yang kebetulan ada di sekitar kami.

Malam harinya, sebelum tidur aku teringat akan reaksi Sarah siang tadi. Ada perasaan aneh menjalar di hatiku. Kilatan mata Sarah menunjukkan rasa tidak suka, bahkan bisa dikatakan sedikit marah. Bukankah wajar kalau orang sudah menikah ditanya kapan hamil?

Astaghfirullah, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Mungkin Sarah pun sudah sangat mendamba akan hadirnya buah hati di keluarga kecilnya. Mungkin dia sudah berusaha keras agar bisa hamil. Kembali lagi akan kuasa Allah, jika IA belum berkehendak maka tiadalah akan hadir sosok bayi mungil di keluarga mereka.

Astaghfirullah, kembali aku beristighfar sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Sesungguhnya jika Sarah mau, dia bisa saja membalas pertanyaanku dengan balik bertanya kepadaku, kapan menikah mpok?

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie