MAAFKAN AKU, MAMA!

Mataku tak tergoda berpindah dari layar gawai. Perlahan butiran hangat mengalir di pipi. Berulang kali ku baca chat dari sahabatku.

“Hari ini aku bete, aku chating an aja, sama mama mu.”

Bukan, bukan chat ini yang buat ku meleleh.

“Nie, aku forward, chat dari mama mu.”

“Ya. Neng Mary. Mama juga gak kemana-mana. Apalagi, Sri melarang mama, untuk keluar rumah. Mengingat situasi wabah yang sedang melanda negara kita. Padahal, Mama sangat kangen dengan anak-anak. Biasanya, sehari sebelum puasa kami berkumpul. Munggahan. Diawali ziarah ke makam ayahnya, lalu siangnya makan bersama.”
“Mama mu kangen, tuh!” chat terakhir dari sahabatku.

Ku rapikan laptop dan meja kerjaku. Memastikan semua tidak ada yang tertinggal di kantor, segera ku ambil jaket dan kunci motor. Sepanjang jalan, hati ku tak bisa tenang, serasa teriris. Ku pacu motorku lebih cepat. Ingin segera ku memeluk Mama ku.

Rumah tua peninggalan mendiang ayah tidak terlalu besar. Namun untuk ruang tamu sengaja di buat tanpa sekat. Tempat kami berkumpul. Aku terlahir di keluarga besar. Aku anak ke lima dari 8 bersaudara. Sebagai anak perempuan paling tua, Mama selalu curhat apapun padauk. Kami sudah seperti sahabat.

Di ruangan tamu ini biasa kami menggelar acara keluarga. Baik ketika ada yang lahiran, ulang tahun, pernikahan, pengajian, sunatan cucu-cucu. Dan lain sebagainya. Termasuk saat munggahan.

Sehari sebelum hari pertama puasa, kami berkumpul di ruangan ini. Bahkan ada yang sudah datang sebelumnya. Keluarga kakak yang pertama dan keluarga si bungsu. Mengingat rumah mereka agak jauh. Setiap anak membawa makanan atau barang sesuai dengan list yang sudah direncanakan. Semua keperluan kami siapkan. Mama hanya menyediakan tempat saja.

Setelah sarapan acara dimulai dengan pengajian. Berdoa menyambut bulan Ramadhan, dilanjutkan dengan sungkeum kepada Mama, dimulai oleh kakak pertama, kemudian kakak ke dua sungkem kepada mama lalu kepada kakak pertama. Begitu seterusnya hingga si bungsu. Setelah semua anak selesai. Giliran para mantu dan cucu-cucu sungkeum kepada Mama sesuai dengan urutan.

Selesai sungkeman, kami semua ziarah ke makam ayah yang tidak jauh dari rumah. Kalau dengan berjalan kaki sekitar 20 atau 30 menit perjalanan. Mama menganjurkan untuk berjalan kaki. Mengapa? karena selain ke makam dengan berjalan kaki kita juga bisa langsung bersilaturahmi kepada para tetangga dan warga yang berada di sepanjang perjalanan.

Namun kini ruangan itu kosong, sepi. Tak ada aktivitas. Pandemi telah memenjarakan tradisi keluarga ini. Anjuran pemerintah untuk tinggal di rumah menjadikan munggahan tahun ini berbeda. Aku tidak menyalahkan apa yang terjadi. Aku yakin setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Seperti saat ini. Wabah ini telah membuat kami berpisah untuk sementara, dan itu rasanya sakit. Lalu bagaimana jika Allah menakdirkan perpisahan untuk selamanya? Aku tak kuasa lagi menahan tangis.

Ku peluk Mamaku erat.

“Lho, ada Neng. Kapan datang?”

Aku tidak menjawabnya. Ku peluk Mama ku erat.

“Ma. Maafkan Neng.”

Untuk beberapa saat kami berpelukan tanpa ada yang bicara. Seakan paham dengan isi hatiku, dari mulut Mama mengalir untaian doa. Beliau mengusap kepalaku. Lembut.

“Gak papa, Mama juga mengerti, mengapa munggahan kali ini kalian tidak datang kesini. Tidak berkumpul lagi. Namun yakinlah Allah yang menurunkan wabah dan Allah juga yang membuatnya musnah. Kita hanya berusaha dengan mengikuti anjuran pemerintah. Dan terus berdoa, semoga wabah ini segera berlalu.”

“Pulanglah. Hari sudah sore. Persiapan nanti malam kita shalat tarawih yang pertama. Semoga bulan ini kita tergolong menjadi orang yang bertakwa.”

Berat rasanya meninggalkan Mama. Namun Mama meyakinkan ku beliau baik-baik saja. “Ramadhan bulan pengampunan, bulan rahmat, bulan segala doa dikabulkan. Terus berdoa, terus berdoa, insyaAllah pandemi ini segera berlalu.” “Mama jangan keluar rumah, biarkan kami yang datang. Kapanpun Mama butuh kami, kami ada disini.” Mama mengangguk. Mata sayunya mengantarkanku sampai motorku berlalu. Sepanjang perjalanan pulang hatiku masih terluka, membiarkan Mama sendiri di hari pertama puasa di bulan Ramadhan. “Maafkan kami, Mama.”