Lupa

Lupa

“Mah, besok Senin. Ayah mau puasa,” suamiku mengingatkan.

Alhamdulillah, puasa senin kamis rutin dilakukannya. Aku mengecek stok sayur dan lauk di dapur. Masih ada beberapa bahan masakan yang bisa kuolah untuk santapan sahur esok. Ada sawi, wortel, tahu putih, dan telur. Jadi tak usahlah aku ke warung malam ini. Lagipula, hujan deras sore tadi masih menyisakan dingin yang membuatku malas tuk keluar rumah.

“Masak sayur bening dan dadar telur aja,” pinta suamiku.

Okelah kalau begitu. Sayur memang menu wajib sahur. Apapun lauknya, harus ditemani sayur. Sebelum beranjak tidur aku memasak nasi. Rasanya plong kalau nasi sudah siap. Jadi besok tinggal masak lauk dan sayurnya saja.

“Sahur..sahur..”

Suami membangunkanku. Kulirik jam di dinding. Jam setengah 4. Aku beranjak ke dapur. Memasak sayur dan menggoreng telur bersamaan tidak akan lama, pikirku. Kugunakan dua tungku kompor, kusimpan panci berisi air di tungku yang kanan, dan teflon di sebelah kiri. Sambil menunggu sayur matang, aku menggoreng telur.

Jam 4 menu siap. Masih 40 menit lagi menjelang adzan subuh. Tinggal ambil nasi. Kubuka mejikom. Deg! Seketika nafasku tertahan. Nasi itu masih berwujud beras! Rupanya tadi malam aku lupa memencet tombol ‘cook‘. Astaghfirullaah, entah sudah berapa kali aku lupa seperti ini.

Rumedia/yuyunkho