LUKA YANG TAK SEMESTINYA

Siang itu terasa berbeda dari siang biasanya. Panas menyengat sampai terasa masuk ke dalam kulit. Meskipun berbalut gamis dan kerudung panjang.
“ Alhamdulillah di kasih panas” gumamnya pelan.
Diya berjalan perlahan sambil sesekali bersenandung, melewati susunan taman kecil yang memperindah setapak itu. Tak sabar Diya ingin segera bertemu dengan Mas Pram, karena memang sudah satu Minggu ini mereka di sibukan oleh pekerjaan masing-masing. Komunikasi mereka lancar, bahkan jalinan hubungan mereka terbilang sehat. Jarang di temui untuk situasi di jaman sekarang ini.
Pram adalah sosok yang humoris, bisa mengimbangi Diya yang pendiam dan terkesan tertutup. Pram selalu mengantar kemana Diya pergi disaat waktu nya luang. Setidaknya mereka saling memahami dan mengerti akan jadwal pekerjaan masing-masing.
Diya kembali menyusuri setapak itu, berharap segera sampai ke minimarket samping kantor Pram, sekedar melepas dahaga.
“ Huftttt, akhirnya sampai juga”
Diya segera saja menuju tempat minuman dingin.
“ Berapa mas ?”
“ Rp. 5500,00 mbak”
Setelahnya Diya segera menghubungi mas Pram. Karena tidak seperti biasanya Pram datang terlambat. Karena yang Diya tau, kekasihnya adalah orang yang tepat waktu. Diya menghubungi Pram berkali-kali namun tak ada jawaban.
“ Ihh, kemana si Mas Pram. Di telepon susah banget”
Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu