LUKA YANG TAK SEMESTINYA

Part 05

Sepeninggal Diya, Pram makin gusar, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Bitha heran, mengapa Pram berubah seketika setelah kepergian Diya. Tatapan untuk Diya beda, tak pernah ia menemukan tatapan itu selama ia mengenal Pram.
“ Mas kenal sama Diya”


“ Eh.. gimana Bitha, kamu nanya apa barusan? “
Bitha menghela nafas, ia bukan anak kecil yang bisa di bohongi begitu saja, Bitha lebih ekspresif. Berbeda dengan Diya 180 derajat. Persamaan nya adalah mereka sama-sama mencintai Pram. Hmm.. naif sekali.
“ Mas, jujur aja sama aku, lebih baik aku sakit sekarang daripada nanti.”
Pram memantapkan hati, harus berkata jujur, sebelum perasaannya terbagi, bimbang dan semakin menjadi. Pram tak mau bila nanti pada akhirnya saling menyakiti, ih gak suka… Gelay… Hahahaha
Pram akui memang Pram salah dalam hal ini, ia terlalu mudah mengabaikan perasaan Diya, terlalu gampang menyikapi situasi ini. Pram salah, dan sadar betul.
“ Bitha, maafkan aku sebelumnya karena tak berkata jujur padamu, aku yang salah.”
Deg… Bitha sudah menduga, pasti ada sesuatu antara Pram dan Diya. Namun Bitha harus siap, apapun yang terjadi.
“ Diya adalah kekasihku, aku sudah menjalani hubungan ini lima tahun lamanya.”
Bitha sungguh kelu, tak sanggup bicara. Hatinya serasa di remas-remas, serasa di tikam lalu di siram air garam. Sadis.
“ Kenapa baru kau katakan sekarang Mas, setelah semua terlanjur. Aku terlanjur mencintaimu Mas.” Bitha terisak.
Pram sudah bertekad ia tak akan goyah, ia mantapkan untuk kembali setia, setelah hatinya untuk sepersekian bulan terlena.
“ Maaf kan aku Bitha, sungguh semua aku yang salah.”
“ Kenapa kamu gak berusaha jelasin ke aku lebih awal Mas, aku hampir saja menyakiti Diya Mas. Kenapa kamu terlalu baik dan perhatian sama aku, atau hanya aku yang salah mengartikan kebaikanmu selama ini? “
Bitha meninggalkan Pram begitu saja, air matanya tak kuasa turun. Sungguh Bitha menyesal telah mengatakan itu semua di depan Diya, menyesal dan merasa bersalah.
Diya hanya mampu menutup mulutnya rapat-rapat, meneteskan air mata yang tak kuasa ia bendung sedari tadi. Diya tak meninggalkan restoran itu, Diya curiga dan ingin memastikan apa jawaban Pram nantinya.
Haruskah Diya lega? Atau malah ikut merasa tersakiti atas perlakuan Pram selama ini. Nyatanya Bitha tak sepenuhnya bersalah.
Pram terkejut melihat Diya mematung di ujung restoran.
Nasi sudah menjadi bubur, ia akan terima apapun keputusan Diya.


Di taman**
“ Dek, maafin Mas ya? “
“ Mas, aku sudah memaafkan semuanya, mungkin aku yang terlalu bodoh. Aku memperjuangkan orang yang gak mau aku perjuangin Mas. Hanya karena aku terlanjur sayang sama kamu.”
“ Mungkin kebersamaan kita gak ada artinya buat kamu selama ini, mungkin kamu dan aku perlu mempertimbangkan lagi hubungan kita, ini sudah gak sehat Mas.”
Pram tak berani bicara, apalagi berusaha meminta agar Diya tetap di sampingnya. Bibirnya terkatup rapat, biarlah kesalahannya selama ini menjadi pelajaran terbaik dalam hidupnya, meski ada harga yang harus di bayar mahal.
“ Terimakasih Mas buat selama ini, terimakasih telah masuk ke kehidupanku, ada warna yang kamu buat, dan aku gak akan lupain itu Mas.”
Diya segera berlalu, setelah berpamitan dengan Pram. Diya cium tangan Mas Pram untuk pertemuan terakhir kalinya. Biarlah Diya merelakan Mas Pram, mungkin jalan ini yang terbaik.
Diya mantapkan hati.
Hidup adalah rumahku, aku adalah pemiliknya. Yang pergi aku persilahkan. Yang terbaik akan aku pertahankan, sisanya adalah tamu yang tak bisa kupaksa tinggal.


The End.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu