LUKA YANG TAK SEMESTINYA

Part 04

Diya mengedar kan pandangan, sembari dalam hati ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Pram. Pandangan nya berhenti, ketika melihat sosok yang ia kenal, meski ada ragu di hatinya, Diya putuskan untuk menghampiri.

“ Bitha ? Ini bener Bitha sahabat kampusku dulu ?”
Serasa tak percaya dan bahagia, tak bertemu lagi sejak kelulusan mereka. Diya memeluk erat Bitha, sejenak melupakan rasa sedih yang menemaninya sedari pagi.
“ Ini Diya kan ? Sahabatku yang selalu dapet mawar putih dari Anggara, si ketua senat ?”
“ Ya ampun, makin cantik aja kamu Di.”
“ Kamu juga Bit, makin cantik.”
Mereka melepaskan rindu yang telah sekian lama terpisahkan jarak dan waktu. Setelah lulus Diya langsung mendapatkan pekerjaan di Ibukota, Bitha masih harus di kota Kembang membantu perusahaan Mamanya yang di kelola bersama Kakaknya. Namun ternyata mereka di pertemukan pula. Dunia memang sempit, bila Tuhan sudah berencana memang semua berada di luar kendali makhluk nya.
Pram melangkah gontai, ia masih tak percaya akan kebohongan yang ia lakukan, mengapa ia menjadi setega itu, kekasih hatinya adalah wanita idaman setiap pria. Bagaimana tidak, aurat tertutup, wajah cantik jelita, bersinar karena air wudhu, anggun, sopan, dan selalu menjaga tindak tanduknya.
Pram benar-benar tak habis pikir. Langkahnya terhenti begitu saja, seolah ada rem pakem di kakinya.
“ Diya? Apakah ia tahu kebohongan yang telah ku lakukan? “
Pram ragu untuk melangkah, namun Bitha terlanjur melambaikan tangan.
“ Di… Ak kenalin ya sama calon pacarku, aku udah Deket beberapa bulan ini.”
“ Mas buruan sini.” Suara manja Bitha empuk sekali.
Diya hanya tersenyum bahagia, melihat teman lamanya akhirnya menemukan tambatan hati. Bitha terkenal pemilih, seleksi sekali, pasti lelaki kali ini sungguh istimewa, Diya hanya bisa membatin.
“ Diya kenalin ini yang aku ceritakan tadi, Mas kenalin ini sahabatku semasa kuliah.” Antusias sekali Bitha, tanpa tahu yang sebenarnya.
Mereka berdua tercengang, tenggorokan tercekat, tak mampu bicara, entah harus berbuat apa.

Bingung harus bagaimana. Berbuat apa. Pada dasarnya Diya pandai menyembunyikan rasa kecewa, namun mungkin tidak kali ini. Diya yang tahu akan riwayat penyakit Bitha hanya bisa tersenyum palsu, dan menyodorkan tangannya.
“ Diya, sahabat Tabitha.”
Pram seakan tak percaya, ia hanya mampu terdiam lebih dari seribu bahasa. Terbuat dari apa hati Diya ini.
“ Maaf Bit, aku gak bisa nemenin kamu lama-lama, aku harus balik ke kantor.”
Sepeninggal Diya, Pram makin gusar, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Bitha heran, mengapa Pram berubah seketika setelah kepergian Diya. Tatapan untuk Diya beda, tak pernah ia menemukan tatapan itu selama ia mengenal Pram.
“ Mas kenal sama Diya? “

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu