LUKA YANG TAK SEMESTINYA

Part 03

Lemas terduduk. Ternyata sudah terlambat. Pram menggaruk rambutnya yang tak gatal, bingung dan khawatir akan Diya.
“ Aku harus gimana coba ngejelasinnya.” Pram kian gelisah.
2 hari setelah kejadian itu Diya belum menghubungi Pram sama sekali, ia tak ingin gegabah, tak ingin sumpah serapah, meski hatinya sakit, kecewa. Diya hanya ingin mendinginkan otak dan hatinya, Diya meyakinkan dirinya bahwa Pram pasti punya alasan tersendiri. WhatsApp dari Pram sama sekali tak tersentuh, hanya sekilas dilirik, masih ada rasa enggan untuk membacanya.
Ya Allah, yang Maha membolak-balik kan hati tetap jaga hatiku. Jangan biarkan kemarahan ku menjadi bumerang bagiku.
Pram**
“ Diya kemana sih kamu itu.” Pram mulai gelisah, hati terasa kosong, meski Pram di tengah keramaian. Pram sadar, ia salah, berpuluh pesan panjangnya dan panggilan, namun tak ada respon, apalagi balasan dari kekasihnya.
Semarah itukah Diya?
Pram yakin, meski bertemu pun, Diya tetap tak akan buka suara. Hapal betul akan karakter wanitanya, sudah di luar kepala kebiasaannya. Ah.. tetiba Pram merasa rindu yang luar biasa. Pram bertekad bila esok ia akan bertemu Diya, menjelaskan segalanya.
Belum juga Pram selesai berdoa dalam hati.
Demi kebaikan hubungan mereka, Diya menelfon. Bagai kucing kelaparan, tak lagi menunggu dering kedua kalinya.
“ Assalamualaikum Mas.”
“ Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kamu hubungi Mas, Wa’alaikumussalam Dek.”
Diya menata hati untuk melanjutkan nya.
“ Inshaa Allah, Jumat besok aku pingin ketemu Mas, bisa?”

Mereka bertemu di cafe Anggara, teman Pram juga Diya semasa kuliah dulu. Tepat sebelum jam lima sore, Pram tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
“ Dek, maafin Mas ya, kemarin sudah buat kamu kecewa.”
“ Ndak apa-apa Mas.”
Sesingkat itu Diya menjawab, membuat Pram semakin dalam rasa bersalahnya.
“ Kemarin Mas ada pekerjaan di luar wilayah dek, mendadak, dan itu harus segera di tangani, Mas terburu-buru, hape di meja, lupa gak Mas bawa, balik ke kantor udah gak keburu lagi waktunya.”
Deggg … Pram berbohong
Pram sadar akan kebohongan nya yang terlalu lancar, mengapa? Mengapa harus berbohong, untuk apa?
Diya sama sekali tak membahas kenapa, mengapa dan bagaimana. Diya hanya tersenyum, menenangkan Pram yang di hantui rasa bersalah, dan berdosa sekarang. Karena kebohongan yang baru saja ia ciptakan.
Sementara di hati Diya, bergelut dengan emosi, dan seribu macam pertanyaan, namun ia redamkan dengan dingin nya air di sepertiga malam.
Di sudut cafe, Anggara melihat dua sahabatnya. Namun di sudut matanya terlihat sisa kerinduan untuk Diya.
Hape Pram berdering, namun ia biarkan. Saat ini Diya adalah prioritas nya. Ah, so sweet sekali Pram.
Sekali, dua sampe ketiga kalinya hape Pram terus berdering. Diya merasa aneh, entah mengapa. Gelagat Diya terbaca Pram.
“ Dek, aku harus balik ke kantor, ada pekerjaan.”
Belum selesai Pram bicara, Diya sudah mengangguk mempersilahkan Pram beranjak pergi. Dalihnya, Diya juga harus segera kembali ke kantor. Padahal hari itu ia sengaja ijin.
Setelah kepergian Pram, tak sadar Diya menitikkan air mata tanpa sebab. Sedih, terasa ada yang di sembunyikan.
Anggara ingin berlari menghampiri, menjadi sandaran saat Diya sedih. Tapi ia sadar diri, Diya kekasih sahabat nya, meski Anggara lebih dulu mengenal dan mencintai Diya dalam diam.
Di kantor Pram**
“ Mas, kemana aja? Katanya mau makan siang bareng aku Mas? “
Ah… Lagi-lagi Bitha. Pram tersenyum kelu tanpa menjawab. Sudah tiga bulan ini ia dekat dengan Bitha, yang seharusnya Pram memperlakukan ia hanya sebatas teman biasa. Ingat Pram kamu sudah punya Diya.
Janji manis Pram yang beberapa jam lalu, musnah, menguap entah kemana rimbanya.
“ Bitha, ada yang harus aku katakan padamu.”
“ Serius banget Mas, mau ngelamar aku ya? “
Pram seharusnya tahu batasan, tidak perlu memberikan perhatian berlebih, atau menanggapi godaan Bitha yang jelas-jelas memang menyukai Pram. Dan kini Pram berada dalam kebimbangan, keraguan dan putusan yang berat. Namun sepertinya hati Pram telah terbagi. Entahlah hanya Pram dan Tuhan yang tahu.
Diya**
Seharusnya ia segera saja pulang, menenangkan diri dan menikmati istirahat nya. Namun entah apa yang ia lakukan, ingin rasanya Diya masuk ke restoran favorit Pram, padahal baru saja Diya makan siang.
Diya mengedar kan pandangan, sembari dalam hati ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Pram. Pandangan nya berhenti, ketika melihat sosok yang ia kenal, meski ada ragu di hatinya, Diya putuskan untuk menghampiri.

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu