LUKA YANG TAK SEMESTINYA

Part 02

“ Ihh, kemana si Mas Pram. Di telepon susah banget” sungut Diya.
Masih setia Diya menunggu, sambil sesekali mendial ulang panggilan keluar di hapenya.
“ Gak biasanya Mas Pram begini, semoga semua baik-baik saja.”
Tak kunjung datang, Diya dengan setengah kecewa akhirnya memilih duduk di taman, sambil sesekali mengusap peluh di dahi nya. Bagaimana tidak kecewa, hari ini adalah Anniversary mereka yang ketiga, sudah di rencanakan jauh hari. Dengan segala euforianya Diya dan Mas Pram merancang segala sesuatunya.

**Pram**

“ Ah, sudah lewat satu jam ternyata aku datang terlambat, semoga Diya masih sabar menunggu ku”
Pram bukannya lupa akan janjinya hari ini, namun ia sedang bersama wanita lain saat itu. Memasuki sebuah toko perhiasan di Mall terkenal di Ibukota.
Parasnya manis, ayu dan anggun. Postur tubuh yang tinggi semampai dan luwes dalam berbicara dengan lawan membuat kaum Adam yang memandangnya seakan tersihir oleh pesonanya. Tak hanya lawan jenis, kepada sesama wanita rekan kerja pun ramah dan bersahabat.
Tabitha Larasati.
Cantik seperti namanya.

“ Sudah dapat yang kau cari Bitha? “
“ Belum Mas, belum ada yang cocok”
Tabitha tersenyum.
Ah manis sekali.
“ Sebentar Mas, aku coba ke etalase sebelah sana”

Pram hanya mengangguk pelan. Sesekali dia melihat jam di pergelangan tangannya. Ingin rasanya segera kembali ke kantor untuk menghubungi Diya, apalah daya hapenya tertinggal di meja kerja.


Diya masih setia menunggu Pram. Padahal sudah dua jam berlalu. Terlihat raut sedih yang tak terkira, hanya sanggup menghela nafas panjang, sesekali mengusap mukanya.
Semangat yang berapi-api mulai pudar, seiring turunnya rintik hujan. Diya berharap hujan turun deras kali ini, supaya menyamarkan air mata yang turun tanpa permisi.
“ Kamu keterlaluan Mas”
Tak kunjung ada kabar berita Diya segera bergegas, menjauh dari taman tempat mereka bertemu.
Yang ia bawa kini hanya rasa kecewa. Biarlah hujan yang turun kali ini seakan mengerti perasaan Diya.

Di tempat lain.
Pram lari tergopoh-gopoh segera menuju ke meja kerja, sapaan dari teman kerja tak ia hiraukan, hanya sesekali melambaikan tangan.
“ Astaga, 10 kali panggilan tak terjawab”.
Lemas terduduk. Ternyata sudah terlambat. Pram menggaruk rambutnya yang tak gatal, bingung dan khawatir akan Diya.

**Bersambung

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu