LEMBAYUNG SENJA

Liburan sekolah tlah tiba. Aku berharap liburan ini penuh makna dan bahagia tentunya. Aku berharap kali ini aku bisa bercerita “seru” seperti ceritanya Lulu temanku yang liburan lalu dia bersama orang tuanya berliburan ke Singapura. Walaupun ku yakin liburan kali ini tetap berada di rumah tapi aku ingin aku punya cerita. Karena itu dari sejak jauh-jauh hari bahkan sebelum raport dibagikan pun aku dan tanteku telah merencanakan hari ini.

Ya, hari ini kami sekeluarga pergi ke salah satu objek wisata yang ada di kota ku dan ku pikir tidak kalah indahnya dengan pulau Bali atau daerah lain di Indonesia.

Tak sabar rasanya ingin segera sampai. Walau panas berdesakan, keringat bercucuran karena mobil yang kami tumpangi tidak memiliki AC tapi itu tidak meluluhkan kebahagiaan ku. “akhirnya sampai juga!” pekik ku. “Selamat Datang di Pesona Wisata MANGKUBUMI” tulisan besar-besar di gerbang depan menyambut kedatangan kami. Bergegas aku masuk dan langsung ketempat pemandian tanpa menghiraukan tante ku berjalan tertatih-tatih membawa barang-barang kami. Ayahku ….. beliau tidak ikut. Sepanjang jalan aku bertanya dalam hati tak biasanya ayah melewatkan acara keluarga seperti ini. Bahkan setiap ada kesempatan ayah selalu siap dengan segala rencana agar bisa menghabiskan waktu bersama Maklum tahun ini aku mulai belajar mandiri.

Aku dikirim ayah ke pesantren, jadi kalo ada libur itu adalah seperti emas bagi ayah. “Maafkan ayah, untuk kali ini ayah benar benar tidak bisa, Ra. Kau akan tetap bahagia disana, ajak teman-teman mu jika itu kau inginkan tidak apa-apa?”. Mengajaka temanku? Itu hal yang sangat anti bagi ayah. Suatu hari ayah marah ketika aku mengajak temanku berlibur bersama. “Ini liburan keluarga, tidak diizinkan siapapun yang bukan anggota keluarga ikut, paham!!!” dengan perasaan sangat bersalah aku bilang pada Nia sahabatku, kalau dia tak jadi ikut dalam liburan keluarga ku. Tapi kali ini? Ayah menyuruhku membawa teman-teman ku? Benar-benar aneh. Apa yang terjadi dengan ayah?.

Kak fitri sudah menikah. Moment liburan adalah satu satunya kesempatan dia bisa balik ke kampung, itu pun jika Kak Andi nya juga libur kantor. Kak Fitri bilang repot kalau mudik tanpa Kak Andi karena harus ngurus dua ponakan ku yang lagi lucu-lucunya. Sementara Kak Zul sibuk dengan wirausaha yang baru dirintisnya. Jadi moment libur bersama benar-benar sangat berarti bagi kami. “Pergilah sama mama dan kakak mu juga saudara yang lain, ayah benar-benar tidak bisa. Hari ini akan ada banyak pelanggan ke toko kita kasihankan kalo mereka mendapatkan toko kita tutup” aku gak berani bertanya lagi, hari ini ayah benar-banar aneh tidak seperti biasanya.

Tapi impianku memiliki cerita seru yang akan ku bagi dengan teman ku saat masuk sekolah nanti menghilangkan kecewaku pada ayah. “werrrrr dingiiin ……” bibir Zack membiru sambil menyilangkan tangan di dada dan badannya terus bergetar kedinginan. Dipojok kolam Shamil dan Zahra dua ponakanku masih seru main-main air walau terlihat badan mereka mulai membiru. “Zack, Shamil, Zahra udah berenangnya …. Ayo naik. Langsung mandi” Tante ku menggendong Zahra. “Ara, kamu ajak Zahra sekalian mandiin ya” “baik tante” ku raih Zahra dari pangkuan tante walau dia sepertinya masih ingin main air.

Semua sudah siap di depan hidangan yang sudah dihidangkan Kak Fitri. “Jangan berebut, semua pasti kebagian kok, Mamah bawa banyak perbekalan” Kak Fitri merelai Shamil dan Zahra yang rebutan ayam goreng. “Kak, mamah mana?” tanyaku. Kak Fitri tak menjawab dia menyebarkan mata ke seluruh area makan dan kolam renang. “Tante liat mamah gak?” tanyanya begitu tante  datang. “Lho bukannya tadi ikut berenang?” ”Nggak, tante. Malah ku pikir mamah disini sama Kak Fitri” bela ku. Kami baru sadar bahwa mamah tak ada bersama kami.

Terakhir aku melihatnya waktu masuk di tempat tiket karena mamah ngurusin pembayarannya. “Ya sudah sekarang kalian makan aja dulu. Nanti juga mamah mu pasti datang”. “Kak Fitri, mie gorengku mana?” sambil terus ku cari diantara kantong-kantong makanan persediaan.”Kakak gak liat tuh. Mungkin di tasnya mamah. Susu Zahra juga tak kakak temukan”. “Jangan marah, mamah mu mungkin lagi mencari makanan ringan dulu, kan memang kita gak bawa cemilan, kau makan aja dulu ini” “Gak mau tante. Ara gak suka nasi timbel. Ara udah bikin mie goreng kesukaran Ara. Ara mau cari mamah aja”.

Aku meninggalkan mereka dengan kesal tanpa menghiraukan kata-kata Kak Andi, Kak Zul yang mencoba menenangkan ku. Aku terus mencari mamah. Menelusuri kolam dan café-café, mencari diantara wajah-wajah pengunjung yang sudah mulai berdesakan. Kepala ku semakin pening. Mungkin karena perutku yang kosong ditambah cape setelah berenang. Aku sudah tidak sadar lagi kemana kaki ku melangkah, mata ku sudah mulai berkunang-kunang ku putuskan untuk beli menimunan di café yang berada di puncak. Agak jauh memang dari tempat kami makan.

Dengan gontai ku masuk ke café mencoba mencari minuman yang ku inginkan namun apa yang terjadi “mamah????” apa mungkin itu mamah? Bajunya sama dengan yang mamah pakai, tapi siapa lelaki yang ada di sampingnya? Dengan mesranya dia merangkul pundak seorang wanita yang berada disampingnya, yang mungkin itu mamah ku?” dada ku bergetar kencang, kepalaku semakin pusing, mataku tak lepas sekejapun dari sosok yang mirip mama.

“Mama ……!!!!????” aku tak bisa berkata shok, kaget, tak percaya dengan yang kulihat. “aku lapaaaaaar” teriakku. Kulihat mamah juga kaget dengan kedatanganku. “Oh, eh, ehm, iya, Ara? Yuk kita makan”, mama membimbingku keluar dari café tanpa menjelaskan siapa laki-laki yang bersama mama tadi. “Apa yang terjadi dengan mama? Bagaimana dengan ayah?”. “Ara ayo makan simpan dulu HP nya dari tadi main HP mulu” “kan mama nya udah ada” tante menyiapkan makan ku. Ku dengar kak Fitri bertanya-tanya kemana mamah pergi. Entah lah mamah berkata apa sama Kak Fitri.

“Mama ….!” Semua menoleh kearah suara. “aku sudah tahu semuanya dari Ara” ayah mengajak mama ke mobil, selanjutnya apa yang mereka bicarakan kami tidak tahu. “Ara, apa yang kamu lakukan? Ada apa ini? Mengapa ayah tiba-tiba datang dan marah-marah? Katakan apa yang terjadi?” “A…a… aku tidak tahu kak”. “Jangan  bohong kamu” hardik Kak Zul “Jelas-jelas tadi ayah berkata sudah tahu semua dari kamu. Apa yang kami tidak tahu, ayo katakan!” “Sudah Zul, jangan begitu sama Adik, tenanglah. Nanti kita tanyakan kepada mereka di rumah” Tante memenangkan Kak Zul “Sudah jangan menangis Ara” Tante memelukku. Semua salah ku, tanpa sengaja ku adukan kekagetan, kekesalan dan kemarahanku sama ayah lewat sms. “Maafkan aku” bisikku dalam hati.

Kami pun pulang tanpa ada yang berkata sepatah katapun. Mobil pun hening berbeda dengan waktu kita tadi pagi berangkat. Suasana mencekam. “Ara, Kak Fitri balik ke Bandung sekarang” “Hah, bukankah besok masih libur kak?, lalu bagaimana dengan ku” Kak Fitri memelukku. Hanya tangis yang keluar dari mulutnya “Kakak Pergi …..” “Kakak jangan pergi …. Bagaimana dengan ku …..” namun suaraku tak lagi terdengar mobilnya secepat kilat menghilang seakan gerah untuk berlama-lama disana.

“Kak Zul, kakak akan pergi juga?” Kak Zul keluar kamarnya dengan ransel favoritnya tergantung dipunggungnya. Kak Zul menatap ku hanya pelukan eratnya yang ku pahami hatinya sangat kecewa. Itulah Kak Zul dia tidak suka banyak bicara tapi rangkulannya menyatakan betapa dia sangat terluka dengan kejadian hari ini. Lalu bagaimana dengan ku? Kemana aku harus pergi? Apakah aku harus menanggung ini sendiri? Ini tidak adil, ini terlalu kejam. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Kak Zul. 

Perlahan namun pasti aku masuk ke kamar ayah. Tak kulihat mamah disana. Kulihat ayah sangat terluka sesekali dia menyeka air matanya tanpa suara hanya menatap kosong keluar jendela. “Ayah…..Ara berangkat ke pesantren sekarang” ayah menengok menatap ku lama. Tak biasanya tatapan ayah seperti itu “Ayah ….. Ara minta maaf, karena Ara semua ini terjadi seperti ini, maafkan Ara …” aku tak bisa lagi menahan air mata. Ayah memelukku, aku tahu dia tidak menyalahkanku, aku tahu kenyataan ini pun terlalu berat baginya, aku tahu ayah sangat shok, aku tahu ayah sangat menyayangi keluarganya. “belajar yang baik. Jadilah anak sholehah. Ayah sayang Ara”. Itulah kata terakhir yang terucap dari ayah ketika dia mengantarkan ku kembali ke pesantren.

Sampai hari ini aku belum tahu keadaan mamah dan ayah ku. Aku yakin mama ku tak seburuk apa yang orang duga walau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Tapi aku yakin mungkin mama punya alasan tersendiri mengapa mama seperti itu. Selama ini mama adalah sosok mama yang terbaik bagi anak-anaknya. Mama tak pernah mengeluh walau kami nakal. Mama tak pernah mengeluh ketika ayahku tak bisa member nafkah karena tokonya sedang sepi. Yang buat ku sedih aku tidak tahu dimana mamaku sekarang. Mereka sudah tidak serumah lagi. Ayah masih di rumah kami. Tokonya masih buka seperti biasa. Aku juga tidak tahu Bagaimana keluarga ku nantinya. Kakak-kakak pergi gak mau kembali karena tak suka dengan mamah atau juga tak suka dengan ayah. Aku tidak tahu.

Tinggallah aku, sendiri. Ingin pergi, pergi kemana? aku terlalu sayang sama mamah, dan aku juga dekat dan sayang sama ayah. Kadang itu semua sangat mengganggu ku dan memubuatku malas belajar. Beruntung aku di pesantren ini punya teman-teman yang selalu mendukung dan memberiku kekuatan. Itulah cerita liburan ku, Bu!!!

Semua anak terdiam. Kelas hening. Sebagian dari mereka berkaca-kaca bahkan ada yang berkali-kali menyapu ingus dengan ujung kerudungnya. Bu Dina merangkulku. Membuat suasana tambah mengharu biru. “Mutiara kamu adalah mutiara bagi keluargamu. Ibu yakin Allah tidak memberikan beban diluar kemampuan hambaNya. Doakan mereka dalam setiap sholat dan tahajjud semoga diberikan jalan yang terbaik buat keluarga Ara, ya!” “Aamiiin” serentak semua menjawab “Dibalik kesulitan pasti ada jalan, badai pasti berlalu. Serahkan semua kepada Allah minta selalu petunjukNya, dan mintakan maaf selalu buat orang tua kita. Dan yang terpenting adalah kamu harus tetap semangat. Apapun yang terjadi life must go on, ok honey!” tegas Bu Dina menguatkanku ”Thank u, Mom. Amiiin” kami berpelukan. Dan kelas pun ramai dengan tepukan memberi semangat.