LEBIH DEKAT KARENA BAKIAK

(Bag. 1)

Pagi ini sangat berbeda. Sepanjang jalan barisan bamboo kecil setinggi dua meter dengan bendera warna warni berdiri melambai di pinggir jalan. Ratusan bendera merah putih mungil terbuat dari kertas wajit membentang di atas jalan.

Samar-samar terdengar suara musik dangdut bertalu. Di depan setiap rumah warga berkibar bendera merah putih dengan gagah. Seperti pesta, lingkungan perkampungan di sulap menjadi tampah meriah.
Ya, hari ini adalah puncak pesta seluruh warga negara Indonesia dalam rangka memperingati hari kemerdekaannya.

Semua warga nampak antusias mengikuti rangakaian kegiatan yang diselenggarakan oleh para pemuda karang taruna. Mulai dari pertandingan futsal, volley ball, lomba tumpeng, lomba tilawah Al-Qur’an, pengajian dan lain sebagainya. Mulai dari anak muda sampai orang itu ikut gembira merayakan kemerdekaan Indonesia. Begitupun dengan empat sekawan, Nejad, Gaga, Diga dan Jibal. Mereka tak mau ketinggalan mengikuti setiap pertandingan yang diperuntukkan anak-anak.

“Assalamualaikum, selamat pagi Pak RT”
“Waalaikum salam. Eh anak-anak. Mau pada kemana nih?”
“Mau ke lapang, Pak RT!”
“Oh, ya. Bapa juga sebentar lagi kesana.”
“Pak Rt sedang membuat apa?” tanya Jibal sambal memegang potongan kayu berukuran sekitar 250 centimeter, dengan beberapa karet bekas ban tergeletak disana.
“Bapak lagi bikin bakiak. Tahu bakiak?” Pak RT balik bertanya.
“Saya tahu, Pak RT. Sendal dari kayu” Nejad dengan sigap menjawab
“Betul. Mau tahu cara membuatnya? Yuk sini sekalian bantu bapa ya!”
“Siap Pak Rt!” mereka menjawab serentak.

Bersambung