Lebaran Yang Melebarkan Syukur

Jujur untuk lebaran tahun ini memang beda dalam mempersiapkan lebaran. Kalau di tahun-tahun lalu rendang sudah matang 5 hari sebelum hari Idulfitri, karena biasanya 3 hari sebelum lebaran kami sudah berangkat mudik ke Ngawi, Jawa Timur, eh mudik apa pulang kampung ya… Jadi rancu nih… Hahaha….

Tidak untuk tahun ini, kue kering yang biasanya jauh hari sebelum lebaran sudah ada,  kebut dalam sehari langsung tersedia di meja, karena ikut ngantri beli kue kering di pasar Mester Jatinegara. Tidak dengan tahun ini, sampai menjelang lebaran kurang 2 hari belum ada apa-apa. Karena kita sedang bekerja sama dengan pemerintah untuk stay at home.

Syukur yang terasa adalah hati ini tetap tentram, aman, nyaman tidak was-was dan berandai-andai, yang begitu terasa indah adalah i’tikaf kami terlaksana dengan baik, kalau tahun lalu harus mengatur waktu dengan seksama, untuk i’tikaf di masjid, tahun ini masjidnya ada di rumah sendiri.

Alhamdulillah ada tetangga nawarin kue kering eehhemm… Pucuk di cinta ulampun tiba, oke…. Akhirnya punya dua toples kue kering, masih dihari yang sama juga ada yang ngirim kue kas betawi tiga toples ke rumah, di tambah dodolnya. Masya Allah, “fabiyy ayyi alaa irabbikumaa tukadzibaan….” Dan rezeki Allah selanjutnya adalah ada tetangga lagi yang bagi-bagi bingkisan yang isinya, biscuit kaleng, biscuit wafer, syrup, gula, terigu, teh, Allahu Akbar. Terima kasih ya Allah. Sebagai wujud syukur sudah semestinya kita tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih dan mendoakan kebaikan pada mereka yang sudah berbagi.

Ya Allah benar-benar luar biasa nikmatMu, justru kuenya lebih banyak saat ini, tahun ini adalah tahun pandemi yang berdampak luar biasa, tapi masih banyak orang yang menyikapinya dengan memperbanyak syukurnya dengan berbagi terhadap sesama, tugas kita adalah  bersyukur pada apapun kehendak Allah pada kita. Karena dengan bersyukur akan Allah tambah nikmatNya, dari waktu, tempat dan suasana yang tidak pernah kita sangka-sangka.

Tebarlah benih kebaikan dimanapun kita berada, dalam keadaan sempit maupun lapang, dalam bentuk materi maupun pengorbanan. Tengok dan hampirilah, kepoin tetangga kita, apakah mereka bisa sahur dan berbuka puasa atau makan setiap harinya. Saat berbagi bukan karena kita berharap kebaikan akan berbalik pada kita, niatkan karena ini adalah bagian dari tugas seorang hamba Allah. Biar Allah saja yang mengaturnya.

Gambar Foto : Koleksi Pribadi

Nubarnulisbareng/Nurfahmi