Lebaran Tanpamu dan Mereka

Lebaran Tanpamu dan Mereka

Dear Yahya, anak umi tersayang,

Bagaimana kabarmu sekarang Nak?

Bagaimana wujudnya taman surga itu Nak? Bisakah kau ceritakan kepada kami agar semakin semangat mencari kunci untuk bisa mengikuti jejakmu di surga sana?

Dear, sayang …

Berbahagialah kamu di sana. Tak akan bertemu lagi dengan fitnah dunia yang melenakan. Terlepas sudah dari mulut nyinyir tak beradab dan pandangan mengasihani yang dialamatkan kepadamu.

Sayang, beruntunglah kamu saat ini sudah berada dalam pelukan Rabb kita. Walaupun semua terasa berbeda semenjak kamu meninggalkan alam dunia ini.

Kamu dengan segala keistimewaan yang kamu miliki berhasil membuat kami pun merasa istimewa. Namun kisah itu sekarang tinggal cerita yang kelak akan selalu kami hadirkan untuk adikmu yang kini hadir menemani kami.

Sayang,

Sudah hampir 3 bulan kami berada di sini. Sangat dekat dengan tempat peristirahatan terakhirmu. Namun, tetap ada yang terasa berbeda, meriahnya lebaran tahun ini terasa hampa tanpa kehadiranmu. Ditambah lagi kondisi yang masih kacau balau, ketiga om kamu pun tak bisa bersua karena terkena aturan PSBB di kota sana.

Begitu juga keluarga dari Yogya tak bisa hadir di depan mata gara-gara adanya virus corona.

Ah, mata ini berembun dan mulai basah. Melihat nenek dan uyut tersenyum hampa merasakan kehilangan yang nyata. Biasanya seluruh keluarga berkumpul bersuka ria dan penuh canda tawa. Namun kini hanya kesepian yang melanda.

Bahkan, sepanjang jalan di kampung kita pun terasa sunyi senyap. Hanya satu dua orang berkendara yang lewat di depan rumah. Sungguh, makhluk nanometer itu sudah berhasil memporakporandakan kedamaian kita.

Sungguh, terasa ada yang kurang senikmati lebaran tanpamu dan tanpa mereka. Separuh hati terasa kosong.

Semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini dan semua wabah berlalu atas izin Yang Maha Kuasa.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh