LEBARAN TANPA KATA MAAF

Apa yang terlintas dalam benakmu ketika menjelang lebaran tiba? Bahagiakah atau sedihkah? Hm…ternyata tidak semua orang bisa menyambut lebaran dengan sukacita. Bisa saja ada yang saat menyambut lebaran justru seperti terasa mengungkap luka pedih yang sempat berusaha ingin dilupa.

Semestinya, lebaran sebagai hari raya kemenangan benar-benar bisa dirayakan layaknya memenangkan pertempuran hawa nafsu namun dijuarai oleh hati yang pemaaf. Sayangnya, luka yang bagaikan tembakan di dada tembus ke punggung ternyata membuatnya sulit jinak untuk menjadi jiwa pemaaf.

Baiklah, memang tak bisa mencari siapa yang salah dan siapa yang harus dihukum atas sebuah keadaan yang menyakitkan. Entah hati yang terlalu rapuh mudah patah dan luka, entah pelukaan yang terlalu tajam sehingga merobek dinding nurani. Lalu menjadikannya perlu waktu lama untuk memulihkan sayatan luka.

Bukan tak ingin pahala atau tak ingat dahsyatnya siksa dosa jika hati belum bisa memaafkan. Namun kelebat bayangan peristiwa demi peristiwa yang masih menghantui ternyata masih membuat hati lemah untuk melapangkan rasa. Ada trauma benturan keras yang tak bisa utuh lagi dalam waktu singkat. Dinding sekat yang terlanjur kokoh dibangun hati untuk menutup diri ternyata juga menjadi sulit diruntuhkan kembali.

Jika satu dua kali lebaran masih gagal melepaskan maaf, tetaplah berharap ada masanya semua kepahitan akan kembali manis. Meski entah lebaran kapan atau tidak mesti di masa lebaran. Yang pasti, ada saatnya fokus merawat luka, jadi belum bisa fokus melepas maaf. Mungkin perlu waktu lebih lama atau perlu memilih waktu yang tepat.

Untuk sementara, biarkan diri memperlakukan luka dengan baik agar cepat pulih. Terus berdoa dan berharap baik. Membangun keyakinan yang sungguh sungguh bahwa suatu hari benteng kokoh penyekat amarah akan roboh seiring kekuatan maaf yang menyisir hati.

Selamat menikmati bahagia yang sepenuhnya bagi sahabat yang memang selalu bisa menyambut lebaran dengan sukacita penuh selaksa senyum. Teriring doa yang baik bagi siapapun yang merayakannya dengan indah. Doa yang sama bagi yang belum menemukan rasa indah saat lebaran, semoga kepedihan ini hanya sementara. Jangan merasa berbeda atau merasa tak wajar. Ini bukan tentang kebenaran dan kebaikan. Bukan juga tentang keburukan dan kejahatan. Ini adalah tentang kesakitan dan kepedihan yang perlu diobati dan diperlakukan dengan tepat.

Nuansa kehidupan di dunia ini faktanya selalu menyajikan dua sisi, baik dan buruk ataupun bahagia dan sedih. Jika sedang ada di sisi buruk dan sedih tetaplah tabah, berobat dan sembuhkan. Namun jika sedang berada di sisi baik dan bahagia bersyukurlah dan hindari melontarkan penghakiman bagi para pejuang pemulihan luka.

Tak apa jika sementara ini lebaran tanpa sajian maaf dari hati jika itu memang masih sulit dirasa. Suatu hari kelak saat semuanya pulih, akan tersedia tempat di sanubarimu bagi rasa damai, agar hidup dapat terjalani lagi dengan rasa aman.

Tanpa trauma. Tanpa bayangan kelam.

Yang ada hanya taman-taman maaf penuh kelapangan dan kemenangan.

NubarNulisBareng/Lina Herlina

Ilustrasi foto dari kumparan.com