Lebaran Happy Walau Tak Mudik

Beberapa minggu belakangan, pemerintah melarang warga pulang kampung (mudik). Tujuannya adalah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Sebagai bentuk pengawasan pemerintah, setiap ruas jalan terdapat posko cek point yang berfungsi untuk mengecek warga yang nekad mudik.

Meski demikian, petugas seringkali menemukan beberapa penumpang didalam truk yang berusaha untuk mudik. Saat diwawancara oleh jurnalis salah satu televisi swasta, mereka akan tetap mudik dengan cara apapun, meskipun setelah tiba di kampung halaman mesti di karantina. Beberapa warga yang nekad mudik juga memilih melewati jalan tikus meskipun jaraknya lebih jauh karena seringkali di daerah tersebut tidak ada posko cek point.

Himbauan persuasif sudah dilakukan ketika ditemukan ada yang menumpang pada kendaraan yang mencurigakan atau bahkan disuruh putar balik. Aksi nekad mudik ini tentu menjadi pekerjaan yang sulit bagi para petugas. Masyarakat yang sulit diatur sangat membuat mereka kelelahan.

Seluruh masyarakat muslim tentu sangat menginginkan merayakan lebaran bersama orang terkasih, khususnya orangtua. Setidaknya momen yang hanya sekali setahun ini bisa dirayakan bersama mereka. Namun proses ini harus ditaati demi kebaikan bersama.

Kemudahan berkomunikasi melalui gawai tentu patut kita syukuri. Bisa kita bayangkan jika hari ini tidak ada handphone atau internet, maka gundah gulana akan terus menghantui pikiran kita.

Jaringan internet bisa kita manfaatkan setiap saat untuk berkomunikasi ke manapun. Banyak aplikasi yang menghadirkan fitur video call. Meski beda pulau atau bahkan beda negara, internet membuat jarak tempuh hanya sebatas sentuhan di layar handphone.

Larangan untuk mudik sebaiknya dijadikan refleksi bahwa meskipun tidak bisa bersama, namun semarak hari raya idul fitri tetap sampai dalam hati nurani masing-masing. Setiap orang bisa menyampaikan rasa rindu melalui gadget.

Tetap happy walau tak mudik mesti ditanamkan secara sadar dalam sanubari. Larangan untuk mudik adalah sementara. Covid-19 akan segera berlalu dan jangan sampai virus korona mencuri kebahagiaan merayakan idul fitri.

Kebahagiaan yang kita rasakan tentu akan tertular kepada orangtua dan sanak saudara ketika kita berkomunikasi. Demikianpun orangtua, mereka akan merasakan dan melihat energi positif yang kita pancarkan. Mereka tidak akan keberatan jika kita tidak mudik karena rasa kangen bisa tersalurkan. Bisa saling menguatkan satu dengan yang lain melalui komunikasi online.

Ketika kita mau menuruti aturan ini, yakinlah pandemi ini akan segera berlalu dan kita semua dalam keadaan sehat. Bersama kita bisa. Indonesia pasti bisa.