Kurindukan Ibuku

Bagian II

Sore itu, tanpa sepengetahuan para tetangga, Ningrum sibuk berkemas kemas seperti hendak berpergian jauh. Dia teringat kata kata mbok Darni,

“Rum, ibumu itu orang kota, orang jakarta. Orangnya cantik rambutnya panjang seperti kamu, tapi mbok tidak tau alamat rumahnya, semoga kelak kamu bisa berjumpa dengan orang tuamu nduk”.

Dengan berbekal beberapa baju dan kain selimut, juga uang recehan hasil memecahkan celengan, gadis itu berjalan menyusuri jalan yang sepi menuju jalan raya utama, jaraknya sekitar 2km dari rumahnya, ketika terdengar adzan Maghrib Ningrum mendapat tumpangan mobil yang memuat sayur mayur menuju ibu kota.
.
.

Mobil itu berhenti disekitaran pasar senin. Ningrum pun bergegas turun dari bak mobil, dengan melongok kesana kemari bingung menentukan arah tujuan dia terus berjalan.

Malam semakin merangkak kelam, hiruk pikuk dan kerlap kerlip lampu ibu kota seperti hiasan yang terindah, terpukau dengan keadaan sekitar tak terasa perut lapar minta segera diisi.

Disudut emperan toko yang sudah tutup lapaknya, Ningrum duduk seorang diri, diraihnya tas ransel yang sedari tadi diletakkan dekat tempat dia duduk, dikeluarkannya sepotong roti dan air minum dalam botol, badannya yang kurus dan mungil menyimpan rasa lelah. Setelah melahap beberapa potong roti kantuk pun mendera, tertidur dalam dekapan dinginnya malam.

Pagi pertama di ibu kota.

“Hei… Bangun, bangun… Minggir. Toko mau segera dibuka, dasar pemalas.”

Sisa lelah pada tubuhnya membuatnya terasa belum puas tidur semalaman, tapi hardikkan seorang pria itu membuatnya segera membuka mata mengakhiri tidurnya. Dengan sedikit rasa malas Ningrum segera beranjak dan bergegas meninggalkan tempat itu, tetapi…

“Tasku…lhoo…tasku, dimana tasku? Pak, apa bapak tau dimana tas saya tadi?”

“Eh… Aneh nih anak, disuruh pergi malah banyak tanya, tanya dimana tas pula, sudah sana pulang tanya sama ibumu.” bentak lelaki itu kasar.

“Saya sudah tidak punya ibu pak.” jawab ningrum sambil menangis karena merasa kehilangan.

“Eh… Malah nangis lagi, sudah pergi sana.”

Rupanya semalaman ketika dirinya tertidur lelap ada seseorang yang usil mengambil tas ransel miliknya. Sudahlah seorang diri tanpa siapapun yang dikenal gadis kecil itu berusaha memecahkan solusi seorang diri.

Berjalan tanpa arah, mengamati setiap aktifitas orang orang disekelilingnya. Hari sudah semakin siang, rasa lapar dan haus kembali mengganggunya tapi apalah daya uang sepeserpun dah raib entah kemana, tiba tiba matanya tertuju pada seorang ibu ibu yang tengah repot bawa barang belanjaannya, Ningrum pun mendekati ibu itu sambil menolong membawakan barang barang belanjaannya hingga sampai di terminal angkot, ibu itu memberikan selembar uang 5 ribu rupiah sebagai imbalan. Ningrum senang bukan kepalang sambil mengucap terimakasih segera beranjak pergi. Tempat yang ditujunya adalah warung nasi bungkus.

Bersambung…