Kubangan Kenangan

Sore itu kita menyusuri jalan pulang dengan perlahan. Radio menyampaikan update lalu lintas dari berbagai ruas jalan. Lampu merah menyala dan engkau menghentikan kendaraan.

“Kita cari makan dulu yuk, sebelum lanjut pulang.” senyummu lengkap dengan dekik menggodaku.

“Kamu ngak akan masak?” Balasku.

“Boleh ya, kali ini kita jajan saja, aku ingin makan dimsum”

Aku tertawa. Makanan yang ingin kau makan adalah kesukaanku. Apa alasanku menolak ajakanmu.
Toh asyik juga makan sebelum sampai ke rumah, jadi nanti waktuku menggodamu akan lebih banyak.

Sore itu bertahun yang yang lalu.
Kita tertawa dan bergenggaman tangan memasuki restoran favoritku.
Memilih dimsum berbagai rasa dan menyantapnya dengan hati bahagia. Senyummu menghiasi seluruh ruang pandangku.

Kini semua menjadi kenangan yang mengigitku.
Sudah tiga tahun sejak senja itu berlalu. Bersama kursi roda yang masih menemaniku kemana pergi, bayang senyummu selalu menyertai.
Kilasan truk yang dengan cepat menghantam kita. Pekik lirihmu yang memanggil namaku.
Sesak nafasku karena airbag yang mengembang, lalu semua hilang.
Ingatan itu begitu lekang.

Entah berapa tahun lagi akan tetap seperti ini. Aku lelakimu yang tak berguna, yang bersandar padamu dalam banyak hal. Jika saja aku yang di belakang kemudi, mungkin senyummu masih bisa kunikmati.
Entah bagaimana masa mendatang. Sesalku masih begitu kelam. Tapi doa untukmu selalu kukirimkan. Bertemu denganmu pada waktu yang ditetapkan.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita