Cinta Bosque

Stay at home bagiku tak semudah pelafalannya, kegiatan ini mengguras emosi, juga meremas kesabaran. Kalau di kantor lagi malas ketemu nasabah bisa minta teman untuk gantian menghandle, lagi bosan di kantor bisa turun lapangan, survey ke tempat nasabah, lagi kesel sama bos bisa curhat sama temen, melegakan.

Berbeda kalau di rumah, satu nasabah prima yang juga merangkap bos besar bisa bikin pusing tujuh keliling, aktifnya yang haqiqi membuat ku harus selalu siap sediah menyiapkan segala keperluan dan kebutuhannya. Kalau tak puas dengan caraku bekerja ia akan protes dengan cara menagis. Kalau udah gini bersiaplah hadapi netizen yang kicauannya kayak segerombolan burung walet lagi demo. Tak perduli lagi marah, bosan, capek tetaplah dituntut harus profesional, senyum dan bicara dengan lembut, mengemaskan.

Tuk mengambil hati bos besar, seringnya ku coba berkreasi buat mainan-mainan edukatif, memilih benda atau warna yang sama kemudian ditempelkan dalam satu tempat sesuai jenisnya, proses pembuatannya bisa sampai berjam-jam tapi sekali main waktu yang dibutuhkan 15-30 menit, setelah itu hening. Berjuang dari titik awal.

Tapi seperti kata orang cinta itu buta, bersedia memberi segalanya tanpa pernah mengharap apapun, inilah mungkin yang sedang ku alami, senyum nakalnya mampu mempesonaku, tatapan tulusnya buatku bahagia, ku jatuh cinta, ingin tuk selalu bersama bos berusia 2 tahun 2 bulan 3 hari yang memanggilku “mama”.

Nulis bareng/tiwipratiwi