Kisah Tiga Sahabat Laba-Laba

Kisah tiga sahabat Laba-Laba

Suatu pagi yang cerah, sinar mentari menembus celah-celah semak di hutan rimba. Suara ayam hutan terdengar begitu nyaring. Pertanda seluruh aktivitas hari ini akan dimulai.

Pidi si laba-laba bangun dengan ceria. Ia semangat untuk bertemu dengan 2 sahabatnya, yaitu Pepi dan Tara. Hari ini mereka berjanji akan bertemu dengan Pak Derma yang merupakan salah satu laba-laba pembuat jaring yang hebat. Mereka akan belajar tentang cara membuat jaring yang kokoh dan indah.

Pepi berkata saat perjalanan menuju rumah Pak Derma, “Aku akan membuat jaring yang bagus seperti punya Pak Derma.” Ia mengepalkan tangannya penuh semangat.

“Jangan terlalu percaya diri kamu, punyaku bisa saja yang lebih kuat dibandingkan punyamu,” ucap Tara sambil menepuk pundak Pepi.

“Lihat saja nanti, punya siapa yang lebih hebat,” tantang Pepi.

Pidi tertawa melihat celotehan dua sahabatnya itu. Pidi hanya ingin belajar dengan sungguh-sungguh cara membuat jaring yang kuat dan indah seperti milik Pak Derma. Ia tidak tertarik untuk ikut kompetisi yang dibuat Pepi dan Tara.

Sesampainya di rumah Pak Derma, mereka disambut dengan ramah. Sebelum belajar Pak Derma menyuguhi mereka kudapan lezat yang dibuat oleh istrinya sebagai penambah semangat kegiatan belajar hari ini. Setelah menyantap kudapan, barulah kegiatan belajar yang sudah ditunggu-tunggu oleh tiga sahabat itu dilakukan.

“Oke, sekarang perhatikan penjelasan Bapak baik-baik. Untuk membuat jaring laba-laba yang kokoh, kalian harus tahu cara merajut benang dengan benar,” jelas Pak Derma serius dan dengarkan juga dengan serius oleh tiga sahabat itu.

“Pastikan kalian memilih semak atau pohon yang mendapat cukup sinar matahari dan terlindung dari hujan. Pilihlah dahan yang kuat dan jangan sampai berdekatan dengan sarang serangga lain. Oya, kerjakan jaringmu sebelum matahari terbenam karena akan sulit mengerjakannya saat gelap dan jangan meninggalkan jaring-jaringmu sembarangan agar tidak mengganggu serangga yang lain. Apa kalian paham sampai disini?” lanjut Pak Derma menjelaskan dan bertanya memastikan muridnya hari ini benar-benar paham penjelasannya.

Tiga sahabat itu mengangguk tanda paham.

Pelajaran membuat jaring tak terasa sudah selesai. Mereka senang karena Pak Derma tidak hanya memberi penjelasan, tapi juga bersamaan dengan contoh. Mereka juga sempat praktek langsung sebagai uji coba.

Pada akhir kegiatan belajar sebelum Pidi, Pepi, dan Tara pulang, Pak Derma memberikan tugas. Mereka ditantang untuk membuat jaring terbaik. Pak Derma menjanjikan hadiah bagi yang bisa menerapkan ilmu yang sudah diberikan tadi.

Tiga sahabat itu langsung menerima tantangan dengan penuh semangat.

Keesokan harinya, Pidi, Pepi, dan Tara sudah sibuk membuat jaring. Dimulai dari memilih tempat.
Pidi tidak membutuhkan waktu lama dalam memilih tempat. Dia sudah sempat melihat-lihat saat pulang dari rumah Pak Derma.

Sedangkan Pepi dan Tara membutuhkan waktu yang lebih lama dalam memilih tempat terbaik menurut mereka. Saat sudah memilih, tiba-tiba muncul perasaan tidak yakin kemudian mengganti tempat. Saat benang sudah dirajut tiba-tiba tidak yakin lagi lalu mengganti tempat. Saat mendengar komentar satu sama lain, tiba-tiba tidak yakin lagi akhirnya mengganti tempat. Begitu saja sampai hari menjelang sore.

Saat matahari sudah hampir terbenam, Pidi sudah selesai membuat jaring. Ia sudah dapat bersantai di jaring miliknya sambil menunggu Pepi dan Tara. Ia berharap jaring yang dibuat sudah sesuai dengan ilmu yang diberikan oleh Pak Derma.

Pada saat yang sama, Pepi dan Tara belum menyelesaikan jaring mereka. Namun, tubuh mereka sudah sangat lelah. Pada akhirnya mereka berdua gagal menyelesaikan tantangan Pak Derma.

Mereka teringat pada Pidi. Jarak mereka dengan Pidi cukup jauh. Mereka bergegas kembali ke rumah masing-masing sambil menjemput Pidi. Mereka pikir Pidi juga belum berhasil menyelesaikan jaringnya.

Setelah menunggu cukup lama, Pidi melihat dua sahabatnya dari jaringnya. Mereka berjalan  bersama dengan lesu.
“Pepi, Tara, kemari,” panggil Pidi setengah berteriak.

Pepi dan Tara menoleh mencari asal suara tersebut. Saat berhasil menemukan Pidi, mereka terkejut.

“Jaringmu sudah selesai?” tanya Pepi keheranan.

“Wah bagus sekali, bagaimana bisa?” timpal Tara yang memandang dan menyentuh jaring buatan Pidi dengan takjub.

“Lho, memangnya jaring kalian belum selesai?” tanya Pidi yang tak kalah heran.

“Jauh dari selesai. Kami terlalu sibuk mencari tempat sampai lupa waktu.” jelas Pepi penuh sesal.

Karena hari sudah mulai gelap, akhirnya mereka menyudahi percakapan dan langsung pulang.

Besok paginya, Pak Derma datang dengan wajah agak kecewa. Ia kecewa karena mendengar banyak protes dari serangga lain yang terjebak di jaring laba-laba yang bertebaran dimana-mana.

Maka saat bertemu tiga muridnya itu hal yang pertama kali ditanyakan adalah kekacauan tersebut. Setelah mendengar cerita dari Pepi dan Tara, Pak Derma langsung meminta mereka bertanggung jawab untuk membersihkan jaring-jaring tersebut. Pidi juga ikut membantu. Ia juga merasa bertanggung jawab karena lupa untuk mengingatkan sahabatnya.

Mereka bertiga meminta maaf kepada serangga-serangga yang mengalami kesulitan karena terjebak di jaring-jaring. Mereka juga meminta maaf pada Pak Derma karena tidak mengikuti arahan dengan baik. Para serangga dan Pak Derma memaafkan kesalahan mereka.

Saat semua sudah beres, Pak Derma mengecek jaring buatan Pidi. Hasilnya memuaskan. Pidi mampu membuat jaring yang kuat dan indah dengan sedikit koreksi dari Pak Derma agar lebih baik lagi. Untuk Pepi dan Tara, Pak Derma memberikan kesempatan lagi. Mereka mengerjakan jaring pada hari itu juga dengan pengawasan dari Pak Derma.

Akhirnya tiga sahabat itu bisa memiliki jaring yang kuat dan indah seperti milik Pak Derma.

Pesan moral: belajarlah dengan niat untuk tahu banyak hal bukan sekedar untuk mendapat pujian. Belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang baik. Yakin dengan kemampuan diri sendiri dengan tetap sesuai pada aturan atau arahan yang diberikan.

Sumber gambar: pngdownload.id

Nulisbareng/ibunyanajma