KISAH RAHASIA

Teriknya kali ini menyengat, sampai terasa ke ubun-ubun. Sebagian mata hampir terpejam, bahkan untuk menatap lama tak mampu.

Hanya sebentar, lalu terpejam lama untuk beradaptasi kemudian dengan keadaan.
Siang ini terasa menusuk, padahal aku berteduh.

Panasnya kisah yang kau ceritakan, seakan menambah hawa-hawa aneh dalam aliran darah.

Aku terlarut, beberapa kali ku tarik nafas berat. Terasa sesak dan beban itu kurasakan. Sama, seperti apa yang kau rasakan.

Aku mencoba netral dengan keadaan, aku mencoba memahami apa yang kau keluhkan.
Sungguh ini di luar kuasaku.

Yang aku siapkan, hanya bahu untuk bersandar, telinga untuk mendengar, dan mata untuk menyaksikan kesedihanmu.

Andai aku bisa masuk ke dalam jiwamu, tentu aku lebih tahu apa yang kau rasakan, apa yang kau mau.

Namun sayang, lagi-lagi itu di luar mampuku.
Aku hanya bisa mengelus perlahan punggung tanganmu, hanya bisa ikut mengangguk perlahan, sambil berkata “sabar”.

Aku tak bisa menghakimi nya atau membelamu, sungguh bukan karena aku tak mau, karena aku tak mau jadi api dalam arang yang terlanjur jadi bara.

Usahaku hanya menjadi pendengar setia mu, celotehku hanya segelintir dari logika kehidupan yang kurasakan, ku alami, selebihnya itu karena Tuhan menitipkan kata lewat aku untukmu.

Bersabarlah wahai hati yang ter-sakiti secara sadar, bakoh kan dirimu hadapi kenyataan.

Sungguh, Tuhan sedang memberikan ujian. Namun percayalah itu semua tak mungkin di luar mampu mu.

Tuhan telah memberikan takaran, yang kadang kita sendiri tak paham.

Akan ada pelangi setelah badai, entah kapan. Namun Tuhan sudah mempersiapkan.
Seandainya doamu belum terkabulkan, pasti Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu.

Percayalah, Tuhan tidak akan meninggalkan kita.
Apakah kamu yang meninggalkan Tuhan?

Jiwaku bergetar akan sindiran ku, harusnya aku malu. Seakan benar Tuhan merindukanku lewat kisah mu.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu