Kisah Lembaran Uang

Suatu malam di sebuah dompet kulit berwarna coklat milik Pak Donny. Terdengar pembicaraan antar uang yang ada di dalamnya.

“Hei Goceng, aku iri sama kamu. Kamu selalu dimasukin ke kotak infak sama Pak Donny, kalau lagi salat Jumat. Aku mana pernah masuk ke kotak infak,” gerutu Goban, si uang lima puluh ribu.

“Apalagi aku Ban, mana pernah Pak Donny mau masukin diriku ke kotak di masjid. Padahal aku juga pengen tinggal di kotak infak, bisa dengar lantunan ayat suci terus,” sahut Cepice, si uang seratus ribu.

“Aku bosan disimpan di dompet terus, paling banter seringnya ke mal dan restoran-restoran. Kenapa ya Cep, Pak Donny selalu nyimpan kita,” tanya Goban lirih. Benaknya sangat ingin agar Pak Donny mau memasukkan dirinya ke kotak infak.

“Eh jangan salah teman-teman.  Selain si Goceng dan terkadang si Ceban, aku juga suka dicemplungin ke kotak amal sama Pak Donny. Kalian lihat, diriku ini yang paling lecek keadaannya dan kumal di antara semuanya. Aku malah pengen sekali-kali diajak ke kasir di mal sama Pak Doni, tapi paling banter cuma bisa ke tukang parkirnya,” tukas Noceng tiba-tiba. Noceng adalah anak muda di dompet, alias lembaran uang dua ribu.

Goceng, Ceban serta Noban yang mendengar pembicaraan mereka cuma tersenyum sambil menggelengkan kepala. Goceng berusaha meredakan keluh kesah teman-temannya.

“Sudah teman-teman, kita doakan aja ya semoga Pak Donny mau memasukkan kita semua ke kotak amal hari Jumat nanti ya,” sahut Goceng tersenyum. Dia memang menjadi sosok yang cukup bijaksana bersama sahabat karibnya, Ceban. Akhirnya malam itu, semua uang di dompet berdoa kepada Allah agar Pak Donny mau memberikan mereka semua ke dalam kotak infak. Terutama Goban dan Cepice.

*****

Dua hari kemudian, Pak Donny kehilangan dompetnya. Tentu ia kalang kabut mencari karena semua surat identitasnya ada di dalam dompet itu. Dalam benaknya Pak Donny berjanji, jika dompetnya ditemukan, ia akan lebih sering berinfak.

Tak disangka esoknya ada seorang bapak tua yang mengantarkan dompet Pak Donny ke rumah. Pak Donny sangat senang melihat dompetnya kembali, apalagi ternyata duit yang ada di dompet Pak Donny masih utuh, berjumlah Rp 1.000.000. Uang itu tadinya akan diberikan Pak Donny untuk anaknya yang akan jalan-jalan ke luar kota bersama sepupunya. Tetapi Pak Donny mengurungkan niatnya. Ia memberikan uang sejumlah Rp 500.000 kepada bapak yang mengantarkan dompet itu, dan berencana memberikan sisa uangnya ke masjid di dekat rumah.

Cepice beserta Goban pun senang, akhirnya bisa merasakan masuk ke kotak amal di masjid juga. Cepice berdoa semoga ia dan Goban bisa menjadi saksi amal kebaikan Pak Donny yang sudah berkenan menaruhnya ke dalam kotak amal, bukan selalu disimpan dalam dompet atau di mesin kasir toko di mal. Semua uang di kotak amal pun tersenyum menyambut kedatangan si Goban serta Cepice.

*****

Malam harinya, Cepice dan Goban ternyata bertemu kembali dengan teman lamanya di dompet, si Goceng, Ceban serta Noban. Mereka semua terkejut bisa berkumpul kembali, namun senang karena kali ini mereka semua bertemu dalam kotak amal.

“Ceng, nggak nyangka ya kita bisa ketemu lagi. Kamu kok bisa di sini, Ceng?” tanya Cepice senang kepada Goceng.

“Ya Ceng aku juga senang bisa ketemu kamu lagi. Alhamdulillah ternyata semua uang di dompet Pak Donny tadi pagi diberikan ke Pak Sobirin loh Ceng. Pak Sobirin itu penyapu jalan di depan. Orangnya jujur dan suka ke masjid. Saking bersyukurnya dia dapat uang dari Pak Donny, jadilah kita bertiga dimasukkan ke kotak amal waktu Pak Sobirin salat di sini,” jawab Goceng panjang lebar.

“Oh gitu, tapi kan Pak Donny juga ngasih temannya Cepice dan temanku, si Gobeen, sama Pak Sobirin. Kenapa kalian yang dimasukkan ke kotak amal?” sahut Goban ingin tahu.

“Aku dengar tadi anaknya Pak Sobirin lagi dirawat di Rumah Sakit, jadi temannya Cepice dan si Gobeen disimpan beliau untuk Rumah Sakit. Terus kita bertiga yang dikasih ke kotak amal,” jawab Noban. Mereka semua manggut-manggut mendengarnya.

“Aku juga sempat mendengar kalau Pak Sobirin tadi berdoa sebelum memasukkan kita ke kotak amal. Kata beliau, Ya Allah terimalah sedekahku untuk rumahMu, semoga uang yang sedikit ini bisa bermanfaat. Maaf aku belum bisa bersedekah lebih banyak karena aku butuh uang ini untuk biaya pengobatan anakku,” sambung Noban lagi.

Cepice dan Goban menjadi terharu mendengar jawaban dari Noban. Mereka semua berdoa, semoga walaupun nominal Noban, Ceban serta Goceng hanya sedikit, ini tetap bisa menjadi tabungan kebaikan bagi bapak tukang sapu jalanan. Mungkin karena ketulusannya bisa menjadi istimewa di hadapan Allah.