KETIKA ORANG TUA BERCERAI

Jika ada sebuah alat pengukur kehancuran hati, mungkin dapat diketahui hati siapa yang paling hancur ketika badai perceraian tiba-tiba mematahkan hati sepasang kekasih yang telah berjanji sehidup semati selamanya dan telah menjadi ayah ibu bagi anak-anak mereka.

Namun menurut kisah-kisah perceraian yang pernah kusimak, sepasang kekasih yang memutuskan untuk berpisah setelah diikat dalam pernikahan, sebagian diantaranya adalah disebabkan karena tidak ada lagi kecocokan alias tidak lagi bahagia. Oleh karenanya tentunya diharapkan setelah bercerai mereka akan bahagia. Ya, harusnya begitu sih, walau kenyataannya entah lebih bahagia atau lebih hancur, hanya mereka yang tahu rasanya karena mereka yang mengalami dan merasakan.

Lalu bagaimana dengan perasaan anak? Seberapa besar peduli ayah ibu terhadap perasaan anak ketika mereka memutuskan bercerai? Benarkah perceraian jalan terbaik? Terbaik bagi siapakah? Benarkah akan menjadi solusi yang berdampak aman bagi semua anggota keluarga? Jika pun ada dampak negatif, sampai kapan dan berapa lama dampak negatif itu menghantui kehidupan anak ke depannya?

Beribu tanya bisa saja berkecamuk dalam diri anak, namun sayangnya orang tua selalu hanya berfokus pada satu alasan sebagai jalan terbaik dan demi menyelesaikan masalah serta menemukan kebahagiaan kembali setelah porak poranda oleh ketidakcocokan. Tidak peduli bahwa setelahnya, hati anak lah yang porak poranda dan menjadi hidup tersesat tidak tahu lagi dimana mencari kebahagiaan.

Mungkin diantara kita sering mendengar ungkapan “anak korban perceraian”. Sepertinya istilah ini sudah lumrah menyebut “korban” pada anak-anak yang ayah ibunya memilih hidup terpisah dan meninggalkan mereka dalam perasaan merana. Hal ini seakan-akan menggambarkan bahwa perceraian adalah bencana yang menyebabkan timbulkan korban, terutama yang dibidik sebutan korban ini adalah anak-anak. Bukan “istri korban perceraian” atau ” suami korban perceraian”. Betul kan, tidak pernah ada istilah seperti itu?

Berarti jelas bahwa seperti ada kesepakatan khalayak bahwa anak sudah dipastikan menjadi korban. Sebagai korban tentu keadaannya dianggap sangat memprihatikan tergantung seberapa hebat bencana yang menimpanya. Sebagai korban tentu anak akan mengalami hal hal menyakitkan yang bisa saja menyisakan trauma, bekas-bekas luka batin yang hampir dipastikan tidak tampak kasat mata. Artinya tidak sembarang orang bisa tahu kedalaman luka yang dialami anak korban perceraian. Bisa saja terlihat biasa saja, namun ternyata menjadi luka yang sulit disembuhkan.

Dengan tidak bermaksud menghakimi setiap keluarga yang bercerai dan tidak juga saya seratus persen menjadi pembela anak-anak korban perceraian, saya menulis ini berdasarkan sudut pandang pengalaman sendiri. Ya, jujur saya adalah seorang anak yang menjalani kehidupan dengan keadaan orang tua bercerai. Saya sendiri tidak paham dan tidak pernah diceritakan secara khusus mengapa orang tua saya bercerai, atau lebih tepatnya mengapa ayah saya meninggalkan saya begitu saja. Saya hanya paham bahwa bagi saya, ini menjadi kehidupan yang sulit, namun terus saya tembus hingga saya kini sudah berkeluarga dan memiliki 3 orang putra putri. Saya hanya percaya setiap keluarga punya alasan dan sudah cukup berusaha untuk mempertahankan keutuhan keluarga namun tak kuat dan terpaksa menyerah. Begitulah …

Ada banyak trauma batin yang saya rasakan. Bahkan saya masih merasakan luka-luka itu sangat mempengaruhi kehidupan saya sekeras apapun saya berusaha terlepas dari rasa trauma. Mungkin batin saya terlalu lemah atau perjuangan saya yang kurang untuk sembuh, entahlah saya hanya menerima takdir saya. Jangan bicara tentang rasa rendah diri, insecure, cemas, takut, sedih, tentu saja itu semua sudah saya lahap habis. Bahkan yang paling dahsyat mengganggu perasaan saya adalah saya merasa bersalah atas perceraian orang tua, karena sejak hamil saya lah keluarga saya guncang dan akhirnya roboh setelah saya terlahir tiga tahun. Saya merasa ditolak, diabaikan dan merasa tidak berharga dan tidak layak disayangi. Sungguh itu bukanlah luka yang segores dua gores, namun sungguh mendalam dan sangat menyayat.

Tapi inilah saya kini, hidup terus berjalan dan takdir terus memberi kesempatan untuk memulihkan jiwa saya agar menjadi sehat. Seorang anak yang sibuk mencari kebahagiaan setelah orang tuanya meraih kebahagiaan atas perceraian mereka. Bersyukur pengalaman traumatis itu membuat saya terus mencari ilmu tentang keluarga, tentang pendidikan anak, tentang psikologi anak dan bahkan tentang pemulihan jiwa.

Teriring salam semoga setiap orang tua di dunia selalu menemukan jalan terbaik bagi setiap guncangan tanpa harus dengan berpisah dan senantiasa mendapat perlindungan dariNya untuk selalu terkait dalam ikatan yang kuat hingga terus terbawa ke surga kelak. Aamiin…

NubarNulisBareng/Lina Herlina