Ketika Malu Mendera Jiwa

Pernahkah kita merasa malu? Mungkin malu karena bersalah. Malu karena berbuat dosa. Malu karena tidak percaya diri. Malu karena merasa tak punya. Malu karena merasa tak cantik. Dan malu karena sebab lainnya, yang bisa membuat kita lebih suka untuk berdiam diri di rumah.

Apa yang dimaksud dengan malu? Terkait kata malu, Al-Zamakhshari berkata bahwa malu adalah perubahan di hati dan perasaan seseorang ketika ia takut dicela atau takut ketahuan aibnya.

Sedangkan Al-Raghib berkata, bahwa malu itu artinya ketidaksukaan jiwa kita dari perbuatan yang sifatnya jelek. Maksudnya, Ketika kita tidak mau melakukan sesuatu yang sifatnya buruk, berarti kita punya rasa malu.

Sebagian ulama memberikan definisi malu, yaitu akhlak yang membangkitkan kekuatan kepada pelakunya untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan sesuatu yang tidak baik. Misal, ketika seorang perempuan malu menampakkan auratnya. Maka setiap keluar rumah, ia akan berusaha untuk taat menutup aurat dan memakai jilbab sesuai ketentuan Syara’. Jika sampai auratnya terbuka sedikit saja di depan umum, maka mukanya akan memerah karena menahan rasa malu.

Di dalam Islam, rasa malu itu mempunyai beberapa keutamaan. Di antaranya adalah :

  1. Rasa malu itu merupakan wujud keimanan. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:
    وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu cabang dari keimanan.”

Hal ini menunjukkan bahwa malu bersifat wajib. Jika seseorang kehilangan rasa malu, maka bisa menyebabkan hilangnya salah satu cabang keimanan. Apabila cabang imannya hilang, bisa mengakibatkan imannya tidak sempurna. Sesuatu yang menghilangkan kesempurnaan iman itu biasanya hukumnya adalah wajib.

  1. Malu merupakan akhlak yang sangat dianjurkan oleh Islam. Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari hadits Anas, Nabi Saw bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

“Setiap agama mempunyai ciri khas akhlak dan ciri khas akhlak Islam itu rasa malu.” (HR. Ibnu Majah)

Jadi rasa malu adalah akhlak Islam. Artinya setiap orang yang mengaku dirinya Muslim, harus terlihat ciri khasnya, dia pemalu. Malu untuk melakukan hal-hal yang buruk, malu di saat ia meninggalkan kebaikan.

  1. Rasa malu, pembuka segala kebaikan. Sebagaimana dalam hadits yang kita sebutkan tadi, bahwa Nabi Saw bersabda:

الحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.”

Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw bersabda:
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

“Malu itu adalah baik semuanya.” (HR. Muslim)

Bagaimana jika ada orang yang malu melakukan kebaikan? Misal, malu salat jamaah di masjid, karena jarang ke masjid. Malu kalau dikatakan sok alim. Menanggapi hal ini, maka para ulama mengatakan bahwa yang seperti ini sebetulnya bukan rasa malu, tapi menunjukkan kelemahan dia. Sebab kalau dia punya rasa malu, seharusnya dia salat di masjid karena wajib baginya untuk berjamaah dan memakmurkan masjid. Bukan malah salat sendirian di rumah.

Jika pada diri seseorang telah ada rasa malu, maka akan lahirlah empat sifat baik atau terpuji, yaitu :

  1. Sabar, artinya sanggup menahan hati, dapat mengendalikan marah. Marah akan mengakibatkan rasa sombong, dengki, benci, permusuhan dan menghinakan orang lain.
  2. Iffah, artinya dapat menahan hawa nafsu ketika sedang bergejolak.
  3. Syaja’ah, artinya berani karena keyakinan dan kebenaran serta sanggup mempertahankan keyakinan itu di mana saja.
  4. Adil, artinya mampu berbuat yang terbaik untuk orang lain, tanpa menimbulkan kecemburuan, iri dan dengki pada yang lainnya.

Bersyukurlah, jika sampai detik ini masih ada rasa malu pada diri kita. Karena adanya rasa malu itulah, kita terjaga dari berbuat salah dan dosa. Untuk selalu ingat, pesan dari Nabi Saw “apabila engkau tidak ada malu, berbuatlah sesuka hatimu.”

Rumahmediagrup/ummutsaharo/ummuhanik