Ketika Esok Tiada

Ketika Esok Tiada

Nafas Nadya terengah-engah mengejar bis jurusan Kampung Rambutan. Ia telah setengah jam berdiri di pinggir jalan untuk mencegat bis tersebut. Sebenarnya bisa saja gadis itu menaikinya dari terminal. Namun, dirinya tak memiliki banyak waktu untuk bersabar menunggu kendaraan itu dipenuhi penumpang.

Saat itu pukul setengah enam, waktu terpadat di sore hari. Waktunya para pekerja kantoran, ataupun buruh pabrik pulang. Seakan lupa dengan protokol kesehatan, bis berwarna jingga itu penuh sesak.

“Nad, mama sakit. Tidakkah kamu ingin menemuinya? Entah apakah esok masih ada kesempatan itu, atau tidak.” Nadya teringat ucapan Rahmat–kakaknya–saat di telepon tadi siang.

Nadya memang telah beberapa tahun tidak pulang. Walaupun lebaran, atau akhir tahun, dia tetap enggan menemui wanita yang telah melahirkannya. Sebuah pertengkaran membuat jarak antara ibu dan anak itu.

Esok. Jika saja esok tidak ada lagi untuk mamanya. Nadya tidak dapat menahan air mata yang telah mendesak untuk keluar dari mata bulatnya.

Maaf, Ma. Nadya minta maaf. Selama ini Nadya bukanlah seorang anak yang baik. Nadya tidak pernah peduli dengan keadaan Mama, batin gadis itu.

“Rambutan … Rambutan, abis, ya!” teriak kernet bis.

Setelah turun dari bis berwarna jingga, gadis berambut pendek itu kembali menaiki bis lainnya menuju pelabuhan Merak. Ia tampak gelisah, berulang kali diperiksa layar ponselnya untuk melihat kalau-kalau ada pesan masuk dari sang kakak.

Azan subuh telah berlalu satu jam lalu. Nadya turun dari mobil travel yang membawanya tepat di depan rumah mama. Seketika hati Nadya lumer ketika dilihatnya ramai para tetangga dan kerabat yang membaca surat Yasin.

“Assalamualaikum,” sapa Nadya seraya melangkahkan kakinya ke dalam rumah.

“Nad, Mama … Dia menyebut nama kamu berkali-kali. Dia merindukan anak perempuannya. Dia ….” Rahmat memeluk adik bungsunya sambil menangis.

“Maaf, Kak. Nadya kelamaan sampainya, ya? Nadya mau lihat Mama dulu, bisa?” tanya Nadya dengan suara bergetar.

Seorang perempuan tua tertidur selamanya. Berbalut kain kafan. Tiada lagi lengkung senyum, atau peluk hangatnya. Ia hanya diam, dengan bulir air mata yang masih tertinggal di sudut jendela jiwanya.

Nadya terisak dalam penyesalan. Namun, apa hendak dikata, ketika maut yang memberi jarak, maka tak kan mampu direngkuh kembali.

“Ma, ini Nadya. Putri Mama yang nakal dan sudah membuat sedih. Nadya … sayang Mama. Maafkan Nadya, ya, Ma. Mama …, ayo bangun!”

Waktu, ibarat sebuah anak panah yang melesat dari busurnya. Saat telah terlepas, maka ia tak dapat lagi ditarik. Tidak ada satu makhluk pun dapat mengulangi atau pun memperlambat lajunya. Tidak ada yang tahu apakah masih ada hari esok buat kita, atau orang-orang tercinta.

Lakukan hanya yang terbaik hari ini, cintai mereka yang sekarang masih ada bersama kita.

Sumber gambar: pixabay

Nubar-Nulis Bareng/Asri Susila Ningrum